Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 209



"Tenang saja. Nanti ada yang menghubungiku lalu kita akan pergi ke sana. Aku harap kamu menyukai makanan yang sudah dipesan. Tapi kamu harus menghabiskannya," jawab Budiman.


"Semua itu nggak jadi masalah buat aku. Aku hanya ingin makan pada malam ini. Oh iya kak, Apakah kita masih berada di sini untuk keesokan harinya?" Tanya Adinda.


"Aku ingin mengajakmu liburan beberapa hari saja. Tapi apakah kamu mau liburan bersamaku di Singapura? Yah kurang lebih tiga harian ke depan.  Aku ingin memiliki waktu bersama kamu dan menikmati ketika tidak ada pekerjaan seperti ini. Oh ya aku belum bilang sama kamu. Aku di sini memiliki rumah di perkampungan warga. Rumahku tidak terlalu besar. Karena aku sengaja tidak membangun rumah dengan besar. Ya seperti rumah-rumah yang berada di desa. Aku ingin kamu mengunjunginya dan hidup bersamaku di sana," pinta Budiman.


"Semuanya itu tidak menjadi masalah buat aku. Kenapa juga kamu harus meminta aku untuk tinggal bersama di sini? Bukankah Jika seorang wanita kalau sudah diminta oleh seorang pria, wanita itu harus ikut dengan pria yang sudah memintanya. Meskipun kamu memintaku dengan cara tidak enak. Tapi kamu sudah menjadikanku Seorang istri. Maka dari itu aku akan menuruti keinginanmu," jelas Adinda yang membuat Budiman mengelus puncak kepalanya.


"Gadis pintar," puji Budiman yang mulai mendekat ke arah Adinda dan mencium pipinya.


"Aku bukan gadis lagi. Aku adalah seorang wanita. Gadis dan wanita itu berbeda. Makanya jangan salah sebut," jelas Adinda.


"Bener juga apa yang kamu maksud. Tapi kamu sama saja sih. Apakah kita tidak berencana untuk memiliki anggota baru lagi?" Tanya Budiman.


"Sekarang aku tanya. Apakah kamu sudah siap menjadi seorang ayah? Kamu harus menjadi pria dewasa dan bertanggung jawab atas kehidupan anak-anakmu nanti. Jangan kamu pikir kalau memiliki anak kita bisa happy. Kamu harus membimbingnya menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Soal gender aku tidak menjadi masalah. Yang penting mereka sehat dan bisa sungguh menjadi anak yang tidak kekurangan apapun," ucap Adinda.


"Pria kalau sudah menikah itu harus siap segalanya. Mau tidak mau pria itu akan menjadi pelindung keluarganya. Pria itu akan menjaga anak istrinya dari bahaya di luar rumah. Pria itu akan menjadi seorang yang tangguh dan tidak gampang menyerah. Aku harap kamu bisa menjadi orang tua yang tegas buat anak-anakmu kelak. Semoga saja kita diberikan momongan dengan cepat. Agar kamu tidak dikejar-kejar lagi sama wanita yang ingin menjadikanmu atau melamarmu sebagai suami," ucap Adinda sambil berdoa dengan tulus.


"Apakah kamu baca seluruh pesanku di ponsel?" Tanya Budiman yang sangat penasaran sekali.


"Ya. Kita dulu adalah seorang musuh," jawab Budiman.


"Kamu tahu siapa saja yang bisa membobol ponselmu itu?" tanya Adinda lagi


"Siapa saja?" tanya Budiman yang mulai mengerutkan keningnya.


"Masa kamu nggak tahu sih? Ada tiga orang yang sengaja membobol ponselmu itu. Yang pertama adalah Gilang. Yang kedua adalah Kanaya. Yang terakhir adalah aku. Tujuan mereka membobol ponselmu itu demi mengetahui seluruh percakapanmu dengan para klien. Saat kamu telepon-teleponan bersama klien. Mereka mengetahui transaksi apa saja yang sudah kamu suka hati bersama para klien. Dan kamu nggak tahu, kalau aku adalah salah satu klien yang tidak pernah bertemu sama kamu," jelas Adinda.


Budiman sungguh terkejut dengan pernyataan Adinda. Selama ini Budiman tidak pernah menyangka kalau sang istri memiliki otak yang cukup cerdas. Bahkan Budiman sendiri sangat mengagumi kecerdasan otak sang istri.


"Rasanya aku kalah sama kamu. Kamu memang benar-benar cerdas dan memiliki otak di atas rata-rata. Aku sangat bingung sama kamu. Bisa-bisanya kamu menghack ponselku itu. Padahal isinya juga tidak ada yang menarik bagi seorang perempuan," celetuk Budiman.


"Ada yang menarik kok. Jujur banyak klien wanita yang ingin mengajakmu meniukah. Aku kalau membacanya tertawa geli dan guling-guling di atas kasur. Untung saja kamarku kedap suara. Jadi aku tertawa keras pun nggak ada yang dengar. Andara juga tahu akan hal itu. Yang lebih parahnya lagi Andara berceloteh seakan-akan kamu adalah seorang pria yang dikelilingi wanita banyak. Ah rasanya itu sangat lucu sekali Jika aku mengingatnya," jelas Adinda.


"Apakah itu benar?" Tanya Budiman yang berpura-pura lupa.