
"Lebih baik kamu berangkat kerja saja. Aku di sini baik-baik saja."
Ucap Adinda yang menyuruh Budiman pergi ke kantor.
"Serius? Aku tinggal kerja loh."
Pamit Budiman yang mencondongkan tubuhnya ke arah Adinda.
"Ngapain juga kamu kayak gitu?"
Tanya Adinda yang tidak paham dengan Budiman.
"Aku mau minta cium."
"Aku tidak mau."
"Ayolah cium aku sekarang juga."
"Aku tidak mau menciummu. Lihatlah Mereka ada di sini semua. Masa aku harus menciummu di depan mereka."
Kesal Adinda.
"Kalau begitu akulah yang akan menciummu."
"Apa yang kamu bilang! Jangan sekali-sekali mencium adikku."
Geram Faris.
Dengan cepat Budiman mencium Adinda. Ia tidak peduli dengan ancaman Faris. Setelah itu Budiman berpamitan untuk pergi ke kantor. Adinda pun memberikan semangat agar Budiman bisa mencari uang dengan baik.
Melihat kepergian Budiman, Faris menggelengkan kepalanya. Jujur tadi Faris hanya menggodanya saja. Lalu ia mendekati Adinda sambil duduk di tepi ranjang.
"Gimana kabarmu dek?"
Tanya Faris sambil mengecek ponselnya.
"Masih perih Kak."
Jawab Adinda dengan wajah sendu.
"Kalau kamu terus begini. Nyawamu bisa melayang di tangan Kanaya."
"Aku tahu itu Kak. Aku menikah bukan untuk membahayakan nyawaku. Aku sendiri sudah terlanjur dendam kepada Kanaya. Aku tidak akan membiarkan Kanaya bisa merusak Kak Budiman."
"Tapi nggak kayak gini kali. Kamu nikah terpaksa. Kalau kamu nggak suka ya ceraikan saja. Jika kamu nggak bahagia akan menjadi beban dalam pundakmu nanti."
"Mau bercerai bagaimana? Aku sudah ditidurinya. Lihatlah tadi... Kak Budiman sudah mulai bucin aku. Masa aku harus melepaskannya? Dia butuh seseorang untuk memperbaiki sikapnya."
"Kamu benar. Semenjak pertama kali berkenalan dengan Budiman. Budiman memiliki sifat yang baik. Aku memang satu sekolah bersama Budiman ketika SMP maupun SMA. Ketika Kanaya hadir di antara kita. Kanaya merayuku tapi aku nggak mau. Setelah itu Budiman. Kamu tahu kenapa karena Ayah merayu kita berdua?"
"Aku nggak tahu Kak. Beneran."
"Dia sengaja mencari pria tajir untuk didekatinya. Aku diam-diam sudah mengorek informasinya bersama Irwan dan Paman Herman. Kami terkejut dengan apa yang dilihat. Ternyata Kanaya mendekati aku ataupun Budiman ada maksud tertentu. Sebelum berlanjut lebih jauh, aku sudah memberitahukan semuanya kepada Budiman. Tapi apa... Budiman nggak mempercayaiku. Hampir setiap hari Kami selalu berantem. Itulah kenapa persahabatan kami sudah tidak akur lagi hingga sebelum kamu dirawat di sini. Untung saja yang menjemputku adalah Irwan. Jadi kami bisa berdiskusi tentang keadaan Budiman sebenarnya. Kalau soal pernikahan ini itu terserah kamu. Kakak nggak berhak untuk memisahkan kalian. Begitu juga dengan ayah dan ibu. Mereka menyerahkan ke kamu semua."
"Ya mau bagaimana lagi Kak. Sebenarnya aku salah. Aku juga dibilang terjebak ya terjebak. Dibilang dijebak ya dijebak. Lalu kau harus nuntut apa kepada mereka? Lagian juga aku sudah bilang kepada Kak Budiman pada awal pernikahan. Kalau nggak suka ya bubarkan saja. Tapi setelah Kak Budiman tahu, dia mau berubah dengan sikapnya itu. Dia ingin memperbaiki hubungan bersama keluarganya itu. Jika aku pergi, kemungkinan besar hidup Budiman akan fatal lagi. Inilah yang membuat aku takut dan bingung."
Sambung Adinda yang dirinya juga bingung menghadapi pernikahan ini.
"Terserah kamu pokoknya. Oh ya ganti topik aja. Bagaimana caranya kamu mendapatkan tender sebesar tujuh triliun?"
Tanya Faris yang ingin tahu bagaimana cara Adinda mendapatkannya.
Kemudian Adinda bercerita, Bagaimana caranya mendapatkan tender sebesar itu. Setelah bercerita akhirnya Faris mengetahui semuanya. Faris tidak marah maupun sedih. Melainkan Faris sangat bangga sekali kepada sang adik.
"Syukurlah, kamu mendapatkan dengan cara baik. Sebentar lagi Paman akan turun tangan untuk melindungi tender ini. Aku tahu Gilang akan berbuat licik ke depannya. Agar kamu jatuh bersama perusahaan kita."
"Aku tahu Kak. Sekarang Gilang mengirimkan pesan kaleng dan mengancamku untuk melepaskan tender itu. Jika aku tidak sakit seperti ini. Kemungkinan besar aku akan ke sana dan melabraknya habis-habisan. Sudah cukup kesabaranku kali ini. Aku ingin menghajarnya habis-habisan."
"Jangan berbuat gila Din. Aku takut si Gilang dapat bekingan dari kedua orang tuanya. Kamu tahu kan Gilang itu bagaimana? Dia nggak mampu untuk mengurus perusahaan. Tapi dia sok-sokan membuat statement bisa menghancurkan perusahaan lain dengan gayanya. Kemungkinan besar aku akan mengajak Budiman bergabung. Sedari dulu Budiman dan Gilang tidak pernah akur. Aku nggak tahu kenapa mereka bisa seperti itu."
"Kakak meremehkanku ya... Kenapa Kakak meremehkanku? Janganlah begitu kak. Aku masih memiliki taring untuk menghadapinya. Biarkanlah aku yang bekerja untuk menyingkirkan Gilang dari dunia bisnis ini."
Ujar Adinda yang geram kepada Gilang.
"Ya nggak gitu kali Din. Kamu mau langsung menghancurkannya begitu saja? Nggak gitu caranya. Kita hadapi saja secara perlahan. Kita nggak bisa langsung berdebug habis. Kalau bisa itu sudah dari dulu. Kamu tahu banyak orang yang ingin menghancurkan usahanya karena curang. Kalau dia nggak berbuat curang nggak kayak gini. Aku hanya memberikan saran untukmu dengan baik."
Jelas Faris yang benar-benar melindungi Adinda dari Gilang.
"Makasih ya Kak atas sarannya. Aku tidak akan mungkin berbuat gegabah."
"Aku harap kamu jangan marah sama aku. Kita akan melaluinya bersama. Jangan takut untuk menghadapi harimu. Suatu Hari Nanti kamu bisa menjadi seorang wanita yang kuat. Jangan pernah berubah sedikitpun kepada kami."
Pesan Faris terhadap Adinda.
"Habis gini ibu dan ayah ke sini menemanimu. Aku akan meminta Paman Herman mencarikan beberapa orang agar bisa menjagamu. Aku tidak mau terjadi serangan demi serangan kepada kamu maupun Budiman."
Adinda hanya bisa menganggukkan kepalanya. Faris kemudian turun dari brangkar dan duduk di sofa.
Sementara itu Budiman dan Tio belum berangkat kerja. Budiman sengaja menguping pembicaraan mereka. Ada rasa hati yang bahagia membuat Budiman menjadi terharu.
Siang pun tiba. Di perusahaan Njawe tidak ada tragedi sama sekali. Para karyawan merasakan ada hawa baik dari Budiman. Mereka tidak terjadi penindasan dari Budiman. Seluruh karyawan di perusahaan itu membicarakan tentang Budiman. Mereka begitu sangat ceria sekali ketika bertemu dengan sang bosnya itu.
Di dalam ruangannya, Budiman semangat sekali mempelajari berkas-berkas yang ada. Kemudian Tio masuk sambil membawa beberapa berkas. Ia langsung menyodorkan berkas itu ke arah Budiman. Kemudian Tio berkata, "Perusahaan ini akan digabungkan oleh perusahaan milik Adinda."
"Kenapa harus digabungkan?"
Tanya Budiman yang mengangkat wajahnya lalu melihat Tio.
"Masalah gawat akan terjadi. Ini ada hubungannya dengan Kanaya dan juga Gilang. Bapak memang sengaja menggabungkan perusahaan ini dengan perusahaan milik Adinda. Selama kalian bersekolah, kedua perusahaan ini akan dipegang oleh Faris dan juga Andara. Aku harap kamu mengerti dengan keadaan ini."
Jawab Tio sambil menjelaskan keadaan sebenarnya.
"Mulai kapan itu?"
Tanya Budiman sambil tersenyum karena kedua perusahaan itu akan bekerja sama.