Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 89



"Kata siapa Kamu pria langka. Lagian kamu ini ada-ada saja," jawab Adinda.


"Kalau kamu menjagaku. Berarti aku adalah pria langka," ucap Budiman.


"Yang enggak. Kamu kok sangat aneh sekali sih. Maksud aku, Aku ingin menjaga hubungan pernikahan ini agar semakin lekat. Di luar sana banyak sekali para pelakor. Kalau aku tidak menjagamu. Kamu pasti terbawa arus. Seorang perempuan harus kreatif dalam segala urusan rumah tangga. Jangan mau duitnya saja. Ujung-ujungnya yang lagi ditendang," jelas Adinda.


"Lalu, kamu belajar bisa memanaskan ranjang itu dimana?" tanya Budiman yang membuat Adinda ingin memukulnya berkali-kali. "Apakah kamu dulu sudah pernah praktek sama orang lain?"


Plakkkkkkkkk.


Sebuah tangan mungil mendarat tepat berada di lengan Budiman. Tangan mungil itu memukul Budiman dengan cukup keras. Budiman menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bingung karena Adinda sedang mengamuk.


"Kamu kok gitu sih? Pakai mukul segala. Memangnya salahku apa?" tanya Budiman.


"Kamu nggak salah. Kamu itu benar-benar jadi orang kelewatan banget. Bisa-bisanya kamu bertanya seperti itu. coba deh kalau kamu nanya itu disaring terlebih dahulu," jawab Adinda sambil mengerucutkan bibirnya.


Budiman mengerutkan keningnya. Ia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Ia akan mencari cara agar Adinda tidak marah seperti itu.


"Memangnya aku salah apa?" tanya Budiman.


"Kamu salah. Kenapa coba kamu bertanya seperti itu?" Jawab Adinda sambil membalikkan badannya.


"Salahku apa?" tanya Budiman yang tidak paham sama Adinda.


"Kamu menuduhku pernah praktek sama orang lain sebelum menikah. Kamu itu udah membuat aku sakit hati," jawab Adinda yang kesal terhadap Budiman.


"Ya nggak gitu kali. Kamu itu sangat pandai sekali. Makanya tadi pas praktek kamu sudah pandai," ucap Budiman yang sengaja memegang pinggang Adinda.


"Kamu nggak tanya darimana aku belajar?" tanya Adinda.


"Nah itu dia," jawab Budiman sambil tersenyum dan mengusap-ngusap kepalanya di leher Adinda.


"Aku belajar melalui internet makanya jadi orang jangan asal tuduh saja. Dicari dulu kebenarannya kenapa aku bisa seperti ini? Soalnya aku ingin menjaga tali pernikahan ini hingga akhir hayatku. Jika kamu berkhianat dan berselingkuh aku akan mencari pria lain. Kamu juga harus menjaganya," jelas Adinda.


Tiba-tiba saja hati Budiman merasa teriris. Ia seakan tidak terima dengan perkataan Adinda. Ia tidak akan membiarkan Adinda mencari pria lain. Budiman sudah tidak mau lagi kehilangan sosok Adinda.


"Aku tidak akan melepaskanmu begitu saja. Kamu adalah permata bagi hidupku. Jangan pernah katakan itu lagi. Aku bersumpah tidak akan melakukannya. Aku ingin serius bersama kamu," sahut Budiman dengan serius.


Namun Adinda tidak menemukannya sama sekali. Budiman sangat jujur dan serius mengatakan seperti itu. Adinda tidak sengaja melihat sebuah kristal keluar dari pelupuk mata Budiman. Adinda menilai kalau Budiman sangat serius untuk menjalani pernikahan ini.


Mereka memilih diam dan meresapi satu sama lain. Mereka tidak akan pernah terpisah untuk kesekian kalinya. Di dalam hati masing-masing, mereka berdoa agar tali pernikahan ini akan terus terikat. Bahkan Budiman telah berjanji akan menjaga tali pernikahan ini agar tidak putus sama sekali.


"Perutmu nggak sakit lagi?" Tanya Budiman.


"Masih nyeri dikit sih. Tapi nggak apa-apa. Sehari dua hari lagi akan sembuh kok. Obat yang diberikan oleh kak Kevin sangat mujarab sekali," jawab Adinda dengan lembut.


"Ya sudah. Terima kasih ya untuk pagi ini. Untung aku melakukannya dengan lembut sekali. Perutmu juga tidak menjadi masalah," ujar Budiman sambil tersenyum manis.


"Kamu ini ada-ada saja. Ya sudah mandi dulu sana. Aku mau mempersiapkan bajumu," jelas Adinda.


"Oh ya... Bajumu sebagian diungsikan ke rumahku. Jika suatu hari nanti kamu akan menginap di rumah utama. Kamu nggak perlu membawa pakaian lagi. Soalnya aku belum sempat membeli pakaian untukmu. Ukuran bajumu juga aku nggak tahu," pinta Budiman.


"Nggak usah beli baju. Tuh tiga lemari penuh dengan bajuku semuanya. Terkadang aku sendiri mendadak menjadi model brand ambassador teman-temanku pas waktu sekolah dulu. Setiap ada acara mereka selalu memberikan aku baju. Makanya lemariku penuh banget dengan baju. Tinggal bajumu aja yang kurang. Nanti kalau main kesana, akan aku ambil sebagian bajumu. Jadi kamu nggak perlu repot-repot bolak-balik ke sana kemari," kata Adinda sambil tersenyum manis.


"Kalau sempat saja kamu ke sana. Kalau nggak ya belikan saja baju dengan harga murah meriah. Branded atau enggak pasti akan aku pakai. Soalnya aku sendiri tidak memperdulikan harga baju tersebut," ucap Budiman.


"Kamu ini sangat aneh sekali. Mana ada bos besar memakai baju yang murahan seperti itu. Nantilah kalau di mall aku belikan yang bagus," sahut Adinda.


"Ya janganlah. Yang biasa saja bisa dipakai. Apalagi yang mahal. Tuh banyak baju-baju yang harganya murah tapi kualitasnya juga epic. kita seharusnya membantu pedagang-pedagang kecil dan para penjahit negara ini biar maju. Cintailah produk dalam negeri kita sendiri. Meskipun harganya sangat murah, kualitasnya juga sangat bagus sekali," jelas Budiman yang ternyata orangnya sangat sederhana sekali.


Adinda baru tahu kalau sang suami adalah penyuka produk dalam negeri. Ia tidak segan-segan menceritakan baju dan merek apa saja yang dipakainya itu. Adinda tidak menyangka kalau Budiman sering memakai buatan penjahit di seluruh negeri ini. Sungguh bangga hati Adinda. Meskipun arogan, ternyata Budiman memiliki sifat yang sangat baik sekali. Untung saja Adinda tidak marah sama sekali.


POV 1


Pagi ini adalah pagi yang membahagiakan buat aku. Aku mendapatkan anugerah yang cukup besar dari sang pencipta. Budiman dulu yang aku kenal memang orangnya arogan. Sekarang Budiman sangat berbeda jauh. Budiman benar-benar merubah dirinya menjadi pria yang sangat baik. Budiman sangat tulus melakukannya. Karena ia tidak ingin kehilangan aku untuk selamanya.


Beberapa hari ini aku baru mengetahui kalau Budiman adalah pria hangat. Saat ia berubah, aku bertanya kepada Nda dan mama Kamila. Aku sengaja melakukannya karena ingin tahu semuanya tentang Budiman.


Mereka memberitahukanku Bagaimana sifat asli Budiman. Ternyata sifat asli Budiman sekarang sudah kembali lagi. Yang dulu tidak pernah berkata baik. Ditambah perangainya yang kasar membuat kedua orang tuanya menjadi ketakutan.


Lantas aku menceritakan tentang perubahannya kepada Mama Kamila. Mama Kamila langsung menangis dan menatapku dengan tulus. Ternyata selama ini merubah Budiman adalah aku. Ya... Kemungkinan saja saat itu aku berkata blak-blakan dan tidak pernah menutup-nutupi. Aku memang begini. Aku tidak pernah menyembunyikan identitas dan sifat asliku. Mungkin saja saat itu aku sering berkata kasar kepadanya. Atau juga Budiman telah mengetahui sepak terjang Kanaya. Aku tidak tahu soal itu. Yang penting sekarang Budiman sudah kembali ke sifat aslinya.