Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 95



Tepat pukul 02.00 siang, Adinda sudah mulai mengantuk. Ia akhirnya menatap Budiman yang sedang bekerja. Lalu Adinda berdiri dan mendekati Budiman. Adinda menuju ke belakang Budiman dan merangkulnya.


Budiman yang mendapat perlakuan itu merasakan jantungnya berdetak kencang. Ia tidak menyangka kalau sang istri sedang mengerjainya.


Tidak sengaja Adinda mulai menghembuskan nafasnya di leher Budiman. Ia mencium pipi Budiman dari samping. Untung saja lipstik yang dimiliki Adinda tidak menempel di pipi Budiman.


Lalu bagaimana dengan Budiman sendiri? Otomatis tubuhnya mulai meremang. Ia pura-pura tidak mengetahui ada siapa di belakangnya. Ia mencoba untuk fokus agar pekerjaannya cepat selesai.


Semakin lama Adinda menggoda Budiman. Budiman yang sedang mengetik langsung lupa apa yang ada di dalam pikirannya itu.


Tangan Adinda memegang dasi Budiman. Adinda mulai melepas dasi itu pelan-pelan. Kemudian Adinda menaruhnya di atas meja. Perlahan tapi pasti, Adinda mulai membuka kancing baju Budiman satu persatu. Lalu Adinda memegang dada Budiman sambil mengelus-ngelusnya.


Tak butuh berapa lama Budiman akhirnya mend*sah tidak karu-karuan. Kemudian Budiman mulai meracau tidak jelas. Bahkan yang lebih parahnya lagi, Budiman memuji kehebatan Adinda ketika di ranjang.


Ketika Budiman berada di titik fantasinya, Budiman langsung menarik Adinda untuk duduk di atas pahanya. Budiman membalas kenakalan Adinda dengan cara menciumnya berkali-kali. Adinda tidak dapat menolak akan hal itu. Karena Adinda sangat menyukai ciuman Budiman yang hangat.


"Kamu harus bertanggung jawab atas tongkat pusakaku ini. Sekarang tongkat pusakaku sudah bangun. Kita harus bercinta siang ini juga," bisik Budiman yang membuat Adinda merasakan ada sesuatu di bawah mengganjalnya.


Adinda tidak bisa menelan salivanya dengan susah payah. Jujur ia ingin kabur dari situasi seperti ini. Ia tidak menyangka kalau kejahilannya menjadikan Budiman semakin aneh.


"Sepertinya aku tidak bisa deh," ucap Adinda dengan pelan agar tidak menyakiti Budiman.


"Kamu tadi nakal. Sekarang kamu harus mempertanggungjawabkan atas kenakalanmu itu. Agar tongkat pusakaku tidur kembali," pinta Budiman yang sudah tidak bisa menahan hasratnya.


Tangan kekar Budiman mulai membuka kancing kemeja milik Adinda. Matanya sangat fokus sekali pada mata Adinda. Tangannya memegang salah satu gundukan milik Adinda. Ia meremasnya sehingga Adinda mengeluarkan suara des*han sialan itu.


Ceklek.


Pintu terbuka.


Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam dan melihat Budiman bersama seorang wanita. Wanita baru bayar itu pun tidak sengaja melihat adegan dewasa yang dilakukan Sang putra. Sontak saja Wanita itu sangat terkejut sekali. Bisa-bisanya Budiman melakukan hal yang tidak boleh dilakukan di dalam kantornya.


"Budiman!" teriak wanita paruh baya itu.


Adinda dan Budiman langsung terkejut. Adinda cepat-cepat berdiri dan membetulkan pakaiannya. Ia baru sadar kalau ada seseorang masuk ke dalam ruangan Budiman itu. Selesai membetulkan bajunya, Adinda langsung menoleh dan melihat wanita paruh baya itu.


"Mama," sapa Adinda sambil tersenyum manis.


Ternyata wanita paruh baya itu adalah Kamila. Untung saja Adinda langsung menetralisir keadaan. Adinda segera mendekati Kamila sambil memapanya dan mengajaknya duduk.


"Mama kok ke sini nggak bilang-bilang sih. Kalau bilang nanti aku siapkan makanan buat mama," ucap Adinda dengan lembut hingga membuat Kamila bersorak kegirangan.


"Mama ke sini bosan sekali di rumah. Mama sengaja ke kantor Budiman untuk bertemu Tio. Mama ingin meminta tolong untuk membersihkan ponsel agar tidak ngelag lagi," ujar Kamila sambil duduk dengan santai.


"Kok mama nggak menyambutku sih?" Tanya Budiman.


"Apa-apaan kamu Bud. Kamu itu seharusnya menyambut Mama bukan mama yang menyambut Kamu," jawab Kamila dengan kesal.


"Terserah Mama saja. Aku hanya menuruti apa kata Mama. Oh iya, jangan bawa Adinda pulang ke rumah ya," ucap Budiman sambil menatap wajah Kamila.


"Memangnya nggak boleh kalau mama membawa menantu ke rumah? Memangnya kamu membiarkan mama sendirian di rumah? Sementara di rumah beberapa pengawal sedang cuti dadakan. Terus ayahmu sedang pergi ke Cina untuk melihat Hotel milik almarhum nenekmu. Nda tidak akan pulang hari ini. Nda akan menginap di Kalimantan untuk beberapa waktu ke depan. Adikmu mendapatkan tugas dari papa untuk meninjau dua pabrik sekaligus. Lalu, kamu membiarkan mama sendirian?" tanya Kamila.


"Yang nggak sih ma. Kalau mama sendirian aku bersama Adinda akan pulang ke rumah," jawab Budiman.


"Mumpung hari ini masih siang. Aku akan mengajak Adinda berbelanja. Kamu di sini saja bersama Tio untuk mengerjakan semua tugas-tugas kantor," celetuk Kamila yang membuat Budiman menggelengkan kepalanya.


"Sepertinya kamu sudah terkena setan bucin deh. Dulu kamu memaki-maki Adinda dan tidak menyukainya. Sekarang kenapa kamu nempel sama Adinda?" tanya Kamila yang membuat Adinda penasaran sekali dengan jawaban Budiman.


"Benar juga apa yang dikatakan oleh Mama. Aku sendiri masih bingung dengan jawabannya Pak Budiman," sahut Adinda.


"Aku tidak bisa mengatakannya sekarang. Nanti Mama tahu apa yang aku maksud setelah ini," ujar Budiman yang sengaja memberikan teka-teki untuk sang mama.


"Din," panggil Kamila.


"Ada apa ma?" tanya Adinda.


"Ketimbang kamu di sini nggak ngapa-ngapain. Ayo ikut Mama belanja keperluan bulan ini. Di kulkas sudah kosong semuanya," jawab Kamila mengajak Adinda pergi ke pusat perbelanjaan.


"Oh iya kok aku jadi lupa ya. Ya udah deh mama belanja sama Adinda. Nanti Aku susul jam empat sore," ucap Budiman.


"Nggak apa-apa, Kalau aku ikut sama mama sebentar," kata Adinda yang meminta izin kepada Budiman.


"Kalau kamu nggak mau mengizinkan Adinda, Mama akan mencoretmu dari kartu keluarga," ancam Kamila.


Mata Budiman membulat sempurna. Ia lupa kalau ada dokumen kependudukan belum diurusnya. Budiman mengambil ponselnya dan menghubungi Tio. Lalu Budiman menyuruhnya untuk ke sini sebentar. Agar Tio bisa mengurus semua dokumen pribadinya bersama Adinda.


"Percuma saja kalau mama mencoret Pak Budiman dari kartu keluarga. Sebentar lagi Pak Budiman akan memiliki kartu keluarga sendiri bersamaku," ucap Adinda yang membuat Kamila tertawa.


Budiman hanya memutar bola matanya dengan malas. Memang benar apa yang dikatakan oleh Adinda. Sekarang Budiman tidak lagi menjadi satu dalam lingkungan keluarganya sendiri. Akhirnya Budiman memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini dengan segera.


Kamila langsung berhenti tertawa dan menganggukkan kepalanya. Memang sudah seharusnya Kamila mencoret Budiman dari kartu keluarga. Setelah itu Kamila menatap wajah Adinda sambil memberikan kode. Adinda pun setuju dan mulai berdiri. Sebelum pergi Adinda mendekati Budiman gunanya untuk berpamitan.


"Pak Budiman," panggil Adinda.


"Oh iya. Aku lupa transfer uang ke rekeningmu. Berikanlah nomor rekeningmu di sini," sahut Budiman sambil menyodorkan ponselnya ke arah Adinda.


"Baiklah," balas Adinda.


Sebenarnya Adinda tidak mau meminta uang banyak dari Budiman. Ia memang meminta beberapa uang berwarna merah sebanyak tiga lembar saja. Kebutuhan Adinda bulan lalu juga belum habis. Hingga bulan ini Adinda tidak perlu mengeluarkan banyak uang untuk belanja.


"Ini sudah," ucap Adinda sambil menyodorkan ponsel itu ke arah Budiman.


"Berangkatlah sama mama sana. Habiskan uang yang telah aku berikan kepadamu," sahut Budiman yang menyuruh Adinda ikut dengan Kamila.


Adinda pun tersenyum manis dan meninggalkan Budiman. Adinda mendekati Kamila lalu mengulurkan tangannya. Dengan senang hati Kamila memegang tangan Adinda kemudian berdiri. Dengan senyuman yang manis, Kamila berpamitan kepada Budiman.


Melihat kepergian Adinda dan Kamila hati Budiman merasa lega. Ternyata apa yang dikatakan oleh Adinda itu benar. Hubungan antara Adinda dan Kamila memang sudah terjalin sejak lama. Bahkan Kamila sendiri sudah menganggap Adinda sebagai putrinya.


Namun tidak disangka-sangka, Kamila menikahkan Budiman demi satu alasan. Kamila berharap Budiman bisa kembali lagi. Dan harapannya itu menjadi kenyataan. Budiman dulu sudah berubah menjadi Budiman yang baik hati. Sekarang Budiman sering menghubunginya dan menanyakan kabar. Hati Kamila sangat bahagia sekali.


Setelah mereka pergi, Tio datang dan menatap Budiman. Tio tersenyum sembari menghadap ke arah Budiman. Sungguh perubahan Budiman menghasilkan dampak sangat baik. Hubungan sang ibu bersama Budiman sangat akrab sekali.


"Sekarang kamu sudah berbaikan sama mama?" tanya Tio.


"Ya. Berkat Adinda semuanya. Aku baru tahu kalau Adinda memiliki sebuah anugerah besar. Tapi aku baru menyadarinya. Aku sangat bersyukur sekali mendapatkan istri seperti Adinda," jawab Budiman.


"Syukurlah kalau begitu. Kamu sudah mulai balik lagi ke zaman dahulu sebelum kenal wanita ular itu," ucap Tio.


"Apakah kamu ingin menolongku?" tanya Budiman.