
Saat Budiman datang para pelayan memutuskan untuk pergi. Mereka tidak ingin mengganggu percakapan antara Budiman, Adinda dan juga Kamila. Mereka juga tidak pengen tahu apa yang diomongin oleh mereka. Karena mereka sangat menghormati privasi yang dimiliki oleh keluarga Budiman.
"Kita tidak perlu memberitahukan pernikahan ini hingga kedengaran di luar. Masalahnya adalah nanti kalau ada apa-apa seluruh masyarakat akan menghujat kita semuanya. Aku nggak mau itu. Pernikahan ini hanya untuk konsumsi kita sekeluarga. Kita bisa bahagia tanpa harus memberitahukan ke semua pihak," jawab Budiman yang ingin hidup tenang tanpa harus ada gangguan manapun.
"Yang dikatakan sama Kak Budiman itu benar Ma. Kami ingin hidup lebih tenang tanpa ada gangguan dari segala pihak. Maka dari itu kami berencana menyembunyikan pernikahan ini tanpa ada orang-orang yang tahu. Apalagi kalau keluarga Gilang tahu. Aku yakin mereka akan mengobrak-abrik pernikahan ini. Mereka akan mempengaruhi keluarga besarku untuk menceraikan kak Budiman," jelas Adinda.
"Jujur itu sangat mengerikan sekali. Berbagai cara mereka akan melakukannya agar perceraian ini segera terjadi. Apakah mama mau kalau semuanya terjadi hanya karena keluarga Gilang itu?'' tanya Budiman yang mulai meyakinkan sang mama.
''Ya nggak gitu kali Bud. Kita akan membaginya demi kebahagiaan bersama. Biarlah keluarga Gilang kepanasan. Mereka tidak akan pernah mengusik keluarga kamu Din. Kalaupun mengusik juga percuma. Keluarga kamu itu sangat hebat sekali. Keluarga kamu itu berpengaruh ke setiap sektor yang berada di dunia ini. Kamu juga bisa membalikkan keadaan," jelas Kamila membuat Adinda menggelengkan kepalanya.
"Nggak gitu kali ma. Kami ini Bukan keluarga pendendam. Kami ini mencari aman agar masalah tidak menjadi besar. Aku takut saja jika mereka mengusik kedamaian kita. Biar bagaimanapun Kami ingin hidup tenang dari dunia bisnis. Biarkanlah kita menjalaninya dengan penuh rasa sukacita dan bersyukur. Kami juga tidak pernah menyerang orang begitu saja. Karena di waktu penyerangan itu kami nggak mau ada beberapa pihak terluka. Kami hanya memikirkan nasib tentang karyawan saja," tutur Adinda dengan lembut.
"Keluargamu itu adalah keluarga penyabar. Sekalinya disakiti mereka memilih untuk diam. Kalian hanya menunggu karma itu berjalan dengan sendirinya," jelas Budiman.
"Ya nggak gitu kali pak. Masa kami hanya diam saja kalau sudah tersakiti. Kami diam-diam melaporkan masalah ini ke pihak Kepolisian. Di keluarga besarku ada tiga orang pengacara yang handal. Tapi yang terkenal itu adalah Paman Herman. Lainnya bekerja di belakangnya Paman Herman. Jika ada masalah berat di perusahaan maka kedua orang itu keluar. Mereka langsung menyelidikinya tanpa harus berbicara babibu ke setiap orang," Sambung Adinda sambil membereskan kantong kresek di atas meja.
"Memang benar apa yang kamu katakan. Perusahaan kami juga bekerja sama dengan pamanmu itu. Mereka sangat handal ketika memecahkan banyak masalah sekaligus. Papamu juga seorang dosen cukup terkenal di negara ini bahkan di Asia. Mama tidak menyangka memiliki menantu yang sangat unik dan baik. Apakah kamu tidak menyadari atas kehadirannya Adinda di dalam hidupmu Budiman?Apakah kamu masih membela Kanaya si wanita ular licik itu?" tanya Kamila secara blak-blakan di depan Adinda.
"Sudah nggak sih Ma. Aku sendiri sadar Siapa itu Kanaya sebenarnya?Aku juga baru tahu sifatnya Kanaya seperti itu dari Adinda. Setelah mengetahui Kanaya berselingkuh dengan Gilang, maka aku memutuskan untuk menculik agenda dan menjadikannya seorang wanita sempurna buat diriku," jelas Budiman.
"Jangan balikan lagi ke Kanaya. Jika tidak ingin kamu menyesali perbuatanmu itu. Apakah kalian jadi kuliah?" tanya Kamila.
"Jadi ma. Mumpung usia kami belum menginjak kepala tiga. Terus kami belum memiliki seorang anak. Maka kami memutuskan untuk kuliah terlebih dahulu. Selesai kuliah kemungkinan besar kami akan memiliki banyak anak. Memangnya Mama mau berapa?" tanya Budiman yang berharap Kamila menjawab banyak anak.
"Dua saja sudah cukup. Jangan banyak-banyak. Nanti kamu tidak bisa mengurusnya satu persatu," jawab Kamila dengan penuh kegirangan.
"Dua kurang Ma.Apakah mama tidak pengen memiliki cucu banyak dariku?" tanya Budiman sambil menatap Adinda agar menyetujui permintaannya itu.
"Memangnya Pak Budiman mau minta anak berapa?" tanya Adinda yang mulai curiga akan Budiman.
Adinda dan Kamila hanya menggelengkan kepalanya. Bagaimana tidak? Jawaban Budiman membuat mereka ngeri sekali. Kedua wanita berbeda generasi itu langsung menatap tajam ke arah Budiman. Budiman hanya tulisan sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu. Dirinya tidak menyangka akan Menjadi santapan istri dan sang mama. Bahkan mereka lebih mengerikan ketimbang emak-emak saat berada di jalanan. Kamila pun langsung berteriak, "Budiman!"
Dengan cepat Budiman berlari dari dapur untuk masuk ke dalam kamar. Dalam hati Budiman mereka lebih mengerikan sekali. Kenapa juga aku harus menjawab memiliki anak sebanyak itu? Bagaimana caranya aku harus mengubah jawaban itu agar mereka tidak jadi mengamuk.
Budiman akhirnya lolos dari cengkraman mereka berdua. Budiman langsung mengusap keringatnya sambil bergidik ngeri. Dalam hatinya Budiman berkata, "Mereka sangat mengerikan sekali ketika menindas pria tampan seperti diriku ini. Aku harus bagaimana? Aku tidak ingin mamaku dan istriku mengamuk. Kalau istriku mengamuk aku tidak dapat jatah. Jika Mamaku mengamuk uang tabunganku akan dipotong dua puluh persen."
Budiman terus saja mencari cara agar mereka baik-baik saja setelah ini. Budiman memutuskan untuk keluar rumah dan menuju ke dapur. Adinda dan Kamila masih saja menata barang belanjaannya itu. Budiman masuk dengan cara mengendap agar mereka tidak marah sama sekali. Akan tetapi Kamila dan Adinda malah tertawa terbahak-bahak. Spontan saja Budiman berhenti sambil menatap mereka dengan wajah memelas.
Adinda yang melihat Budiman dengan wajah mamalia langsung bertanya, "Kenapa kamu Pak Budiman?"
"Apakah kalian tidak marah sama aku?" tanya Budiman yang ketakutan sekali.
"Aku nggak marah sama kamu. Kenapa harus marah? Lalu apa masalahnya kalau aku marah?" tanya Adinda bertubi-tubi.
"Aku kan menjawab kalau ingin memiliki anak banyak. Terus kalian marah kepadaku," jawab Budiman.
"Sekarang mama tanya sama kamu. Jika kamu dalam posisi Adinda. Bagaimana rasanya Jika kamu memiliki banyak anak dan mengurusnya sendirian? Terus Kamu sendiri bekerja di dalam kantor. Apakah Adinda tidak kerepotan merawat anak-anakmu yang banyak itu?" tanya Kamila yang sudah merasakan merawat Budiman dan Andara secara bersamaan.
"Memangnya sangat susah sekali ya merawat anak?" tanya Budiman yang tidak paham cara merawat anak.
"Makanya terjun langsung ke Mbak Indah atau Mbak Dewi. Nanti kamu tahu betapa susahnya mereka ketika merawat tiga anak sekaligus. Memakan mintanya dua kenapa harus lebih banyak sekali seperti itu? Memangnya kamu sanggup merawat mereka?" Jawab Kamila sambil membalikkan pertanyaan itu ke Budiman.
Budiman sadar atas jawabannya itu. Memang tidak mudah sih merawat anak sebanyak itu dalam waktu bersamaan. Ia akhirnya sadar dan menatap wajah Adinda dengan sendu.
"Bagaimana nih Din? Apakah kita memiliki anak dua saja?" tanya Budiman.