
"Semuanya terserah kamu. Aku malah bahagia tinggal bersama kamu."
Kata Kanaya yang tersenyum bahagia. Namun dirinya bingung harus mengatakan apa pada Gilang.
"Mulai malam ini kita akan tinggal bersama. Kita sudah lama tidak tinggal bersama."
Ucap Budiman yang melihat wajah Kanaya.
Wanita berparas cantik itu bersorak kegirangan. Ia tidak menyangka kalau Budiman masih mencintainya. Bahkan Budiman berjanji akan menikahinya setelah lepas dari istrinya.
Keesokan harinya, Adinda terbangun dari tidurnya. Ia menatap langit-langit sebelum bangun. Ia mengucap syukur ada lagi ini. Karena ia masih diberikan kesempatan. Setelah itu Adinda bangun dan melakukan aktifitas seperti biasanya. Ia berharap pada pagi ini mendapatkan kelancaran untuk mengerjakan tugas-tugasnya.
Selesainya mengerjakan tugas-tugasnya Adinda segera membersihkan tubuhnya. Di dapur Netty sudah mulai berperang sama alat-alat dapur demi menyiapkan sarapan. Bahkan menu makanan tersebut bisa dimakan siang hari.
Hampir selesai memasak, Netty mendengar bel panjang dari luar. Ia mengerutkan keningnya sambil mematikan kompornya. Lalu Netty bertanya dalam hati, "Siapa sih pagi-pagi begini bertamu? Apakah anak-anak divisi pemasaran?"
Netty akhirnya menuju ke depan. Ia sangat penasaran sekali dengan yang bertamu pada pagi ini. Tidak mungkin kalau calon suaminya datang selagi ini. Ia menganggap kalau Herman kesini bisa mengakibatkan gempa bumi. Jika tidak ada kepentingan apapun tentang perusahaan.
Netty akhirnya membukakan pintu lalu melihat ada Andara yang sudah berdiri di depannya. Untung saja dirinya tidak terkejut di depannya adalah manusia. Lalu bagaimana dengan makhluk astral yang lewat? Bisa-bisa Netty pingsan dan membiarkan dirinya tidur di depan pintu. Itulah kenapa Netty sangat penakut sekali jika melihat sesuatu yang di luar nalarnya.
"Ngapain kesini pagi-pagi begini?" tanya Netty yang sengaja menggeser tubuhnya agar Andara masuk.
Andara segera masuk ke dalam. Ia menunduk dan menahan tangisnya. Ia segera menghempaskan bokongnya di sofa single tanpa bicara apapun.
"Ya udah deh… gue mau lanjut masak. Lu disini apa ngikut gue?" tanya Netty yang mengajak Andara ke dapur.
Namun kali ini Andara tidak berkata apa-apa. Ia lebih memilih untuk diam dan tidak banyak bicara. Netty semakin bingung apa yang akan dilakukan sahabatnya itu.
"Lu kenapa?" tanya Netty. "Lu semalam habis lihat hantu sampai-sampai sawan begini?"
"Iya," jawab Andara yang berdiri mendekati Netty. "Gue habis lihat kuntilanak mendekati Abang gue di klub. malam."
"Apa?' pekik Netty yang tidak paham dengan apa jawabannya Andara. Tanpa basa-basi lagi ia memintanya untuk ikut dengannya. Andara tersenyum manis sambil berkata, "Nanti kalau ada Bu bos aku cerita."
"Ya sudah kalau begitu. Aku mau lanjut masak," balas Netty yang segera melangkahkan kakinya menuju ke dapur.
Adinda yang selesai membersihkan tubuhnya langsung pergi meninggalkan kamarnya. Ia menuju ke dapur untuk memasak. Ketika masuk ke dapur, Adinda tidak sengaja melihat Netty bersama Andara sedang menghidangkan sarapan.
"Maaf… aku bangun kesiangan," ucap Adinda.
"Bangun kesiangan juga enggak apa-apa. Lagian juga kamu bosnya kakak ipar," celetuk Andara sambil tersenyum manis.
"Seharusnya bos itu datangnya harus pagi sama seperti karyawannya. Agar karyawannya semangat dan tidak terlambat bangun," sahut Adinda yang membuat jadwal sendiri.
"Iya sih bener apa kata lu. Gue pikir-pikir kalau bosnya datangnya seenaknya juga kasihan karyawannya., Berkas-berkas yang seharusnya ditandatangani dan dikirimkan ke suatu tempat akhirnya terbengkalai," ujar Andara yang menganalisis keadaan.
"It's true… jangan anggap remeh pekerjaan sebagai bos. Karena pekerjaan bos tanggung jawabnya gede. Nggak bisa seenaknya kita harus bersantai," tambah Adinda.
"Kalah jauh. Dia tidak pernah tepat waktu, Kerjaannya marah-marah terus sama karyawannya. Gimana meremas tidak betah jika dia marah-marah terus," jelas Andara yang membeberkan sebuah fakta yang mencengangkan.
"Apa itu benar?" tanya Netty yang mengambil gelas.
"Itu benar. Banyak sekali yang keluar dari perusahaan demi menghindari amukan si Budi gila," kesal Andara.
"Husss… jangan menjelekkan kakakmu itu," tegas Adinda yang sebenarnya tidak ingin membela Budiman.
"Aku enggak menjelekkan kakakku. Tapi aku berbicara real atau kenyataan yang ada. Diam-diam Kak Budiman orangnya seperti itu. Bahkan kemarin aku bertemu dengan salah satu karyawanku dan nanya-nanya katanya Pak Budiman sangat menyeramkan sekali ketimbang dengan bos barunya," jelas Andara yang membuat Adinda bingung.
"Ya… begitu deh… kalau menjadi karyawannya Abang., Siap-siap kena semprot habis-habisan. Meskipun pekerjaan selesai dan semuanya benar," tambah Andara.
"Memangnya pindah kemana mereka?" tanya Adinda yang semakin penasaran.
"Rata-rata yang pindah itu ke perusahaan kamu," jawab Andara yang mengisi air putih di tiga gelas yang sudah disediakan oleh Netty.
"Apa!" pekik Netty dan Adinda secara bersamaan.
"Kamu serius kalau ngomongnya?" tanya Adinda. "Jujur aku nggak mau perang sama abangmu soal karyawan."
"Lha wong abangmu nggak peduli jika mereka pindah ke perusahaan kamu," jawab Andara.
"Bukannya begitu Andara. Coba kamu pikir kalau semua karyawan yang pindah di perusahaan keluargamu itu. Adinda itu nggak enak hati menerima perpindahan karyawan seperti itu. Apalagi jika sampai Papa Kartolo mendengarnya," jelas Netty.
"Itu benar apa yang dikatakan oleh Netty," ujar Adinda yang membenarkan penjelasan Netty.
"Papa sudah mendengar semuanya. Bahkan papa sendiri menawarkan mereka pindah ke sana. Jujur saja papa sangat geram sekali dengan pertanyaan Budiman yang mengatakan mereka tidak berguna untuk membangun perusahaan," imbuh Andara yang membuat Adinda terkejut.
"Ha!" pekik Netty.
"Apakah kamu masih ingat nama Adinda anak keuangan yang pekerjaannya bisa menganalisa keuangan?' tanya Adinda.
"Oh… ya… namanya sama dengan kamu. Ia aku ingat kalau Adinda itu sengaja keluar dari perusahaan Njawen Company. Katanya nggak kuat kalau bekerja di bawah tekanan bos gila seperti itu," jawab Netty yang baru ingat sesuatu.
"Aku sangka bosnya sudah tua dan usianya kurang lebih lima puluh delapan tahun. Ternyata itu ulah abangmu sendiri," kesal Adinda yang marah karena sikap Budiman yang arogan seperti itu.
"Aku dengar juga katanya seperti itu. Aku baru tahu kalau Budiman orangnya seperti itu. Jujur aku sendiri tidak kuat bekerja sama orang seperti itu. Aku lebih memilih untuk bekerja dengan atasan lainnya. Bisa-bisa aku mati berdiri karena ulah Budiman," jelas Netty yang mendapatkan senggolan dari Adinda agar tidak menjelekkan Budiman di mata Andara.
Andara yang paham akan situasi seperti itu hanya bisa tersenyum kecut. bagaimana tidak dirinya baru mengetahui sikap arogan sang abangnya dari orang lain. Ia hanya bisa pasrah dengan kenyataan. Jika harus berakhir maka cerita perusahaan akan berakhir,.
"Maafkan aku yang telah membuat statemen seperti ini ya An," ucap Netty dengan jujur.
"Kamu nggak salah ngomong seperti itu. Jangankan kamu yang bilang seperti itu. Banyak kok yang berkata seperti itu," ujar Andara yang tidak tersinggung dengan perkataan kedua sahabatnya itu.
"Bolehkah aku meminta sesuatu?" tanya Andara.