Mr. Budiman Is My Husband

Mr. Budiman Is My Husband
BAB 186



Kanaya menundukkan wajahnya sambil berlinang air mata. Karena kebodohannya keluarganya itu sekarang menjadi terombang-ambing. Ia sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi. Jujur dirinya menyerah pada keadaan ini.


"Oh ya. Kamu percuma saja menangis seperti itu. Kamu itu sering banget memasang air mata buaya. Bisa-bisanya kamu mengorbankan keluargamu demi ambisi ingin mendapatkan kekayaan dari keluarga Budiman," sambung Adinda.


"Cukup Din! Cukup! Gue nggak mau lu mengejek mereka terus-terusan. Gue sengaja melakukannya ini. Karena orang tua gue memang meminta mendekati Budiman. Hutang yang telah dipinjamnya oleh Gilang harus lunas dalam waktu setahun belakangan ini. Gue memang mengajak Netty untuk ngedeketin lu. Gue menyuruh dia untuk mengambil sebagian aset elu buat bayar hutang," ucap Kanaya yang tiba-tiba saja tubuhnya melemas.


"Ya nggak gini caranya. Kalau keadaan ekonomi lo berantakan kayak gitu. Kenapa lu coba minjem uang sama rentenir seperti Gilang ini? Lu mikir! Keadaan keluarga lu gimana? Lu tahu Gilang itu gimana orangnya. Dia itu orang serakah pengen ngancurin sesamanya. Dan sekarang giliran elu yang akan dihancurin," kata Adinda yang membuka kartu as-nya Gilang.


"Lu kalau ngomong jangan macam-macam ya! Gue bisa menuntut lu dengan mudah!" seru Gilang yang tidak terima dengan tuduhan Adinda.


"CK," decak Adinda. "Bisa-bisanya lu memutar balikan fakta lalu nuduh gue yang nggak-nggak. Lu tahu siapa gue sebenarnya? Lu tahu siapa orang yang di belakang gue sekarang? Ada Mr. Husein Susanto bersama Herman Susanto. Mereka adalah seorang pengacara yang paling kuat untuk saat ini di negeri Indonesia maupun internasional. Jangan salahkan aku jika meminta bantuan kepada mereka dan menjebloskanmu ke dalam penjara. Kamu itu orangnya picik sekali. Kamu nggak pernah jatuh ke bawah dan merasakan orang-orang yang sedang susah," sahut Adinda yang tertawa sambil mengintimidasi mereka berdua.


"Gue nggak peduli dengan mereka berdua. Gue nggak kenal siapa mereka. Mereka adalah pengacara yang tidak becus dalam bekerja. Lu cari pengacara yang benar saja. Pengacara abal-abal itu kamu ajukan untuk membereskan kasus seperti ini! Lu akan kalah telak dari gue," ejek Gilang sambil tersenyum sinis.


"Gue nggak pernah takut melawan elu. Gue juga tidak akan pernah gentar melawan kedua orang tua lu. Mereka adalah benalu yang hidup menempel pada beberapa keluarga. Jika tidak suka kalian memutarbalikkan fakta dan menjadi korbannya. Padahal kalian sendirilah yang menjadi tersangka itu," ledek Adinda.


Gilang semakin marah dan mendekati Adinda. Lalu Gilang mengangkat tangan kekarnya dan mengayunkannya ke arah pipi Adinda. Dengan cepat Adinda menghindar kemudian menendang kaki Gilang.


Bugh!


Tubuh kekar Gilang jatuh ke lantai marmer. Ia juga sempat mencium marmer itu dengan penuh perasaan. Alangkah terkejutnya Kanaya melihat Gilang terjatuh. Ia tidak berani menolong Gilang karena ada Adinda.


Beberapa saat kemudian Rizal dan Budiman keluar. Kedua pria itu menatap sinis ke arah Kanaya. Benar saja mereka berdua langsung mengepung Kanaya.


Kanaya yang tidak sadar menatap wajah Adinda. Ia mulai berlutut sambil menangis dan meminta tolong. Agar Adinda mau memaafkan Gilang.


"Tolonglah jangan hukum suamiku ini. Aku memang sangat mencintainya. Aku tidak mencintai Budiman sama sekali. Gara-gara cinta aku memang diperlakukan tidak adil oleh Gilang. Jika aku tidak menuruti keinginannya, Gilang tidak akan memberikan aku uang," jawab Kanaya yang berlutut di hadapan Adinda.


"Semuanya sudah terlambat. Kamu jadi perempuan sangat bodoh sekali. Bisa-bisanya kamu tunduk ke Gilang," ucap Adinda.


"Tapi kenapa kamu menghancurkan kehidupanku? Kamu merusak seluruh ingatanku kepada Adinda pada waktu itu," tanya Budiman.


"Aku hanya disuruh oleh Gilang. Jika berhasil Gilang bisa menduduki jabatan CEO tersebut. Perusahaanmu adalah perusahaan sangat besar sekali di dunia ini. Aku sangat menginginkannya menjadi Nyonya di perusahaan tersebut," jawab Kanaya.


"Kamu itu cintanya uang bukan manusia. Kamu memiliki ambisi yang cukup kuat untuk menghancurkan seseorang. Bagaimana jika kamu memiliki seorang anak? Anak kamu akan menjadi korban selanjutnya," tanya Adinda.


"Kami sudah memiliki dua orang anak. Mereka berada di London sana. Mereka sengaja dirawat oleh pamanku," jawab Kanaya dengan jujur.


"Lalu kenapa kamu ingin sekali berdekatan dengan Budiman? Kamu tahu kenapa Budiman menikahiku secara mendadak? Karena kedua orang tuanya tidak mau melihat anaknya hancur. Sekalinya hancur mereka akan menangis dengan pilu," tanya Adinda yang masih kesal terhadap Kanaya.


"Kamu itu bodoh atau apa sih? Bisa-bisanya lu jadi budak cinta oleh Gilang. Sekarang gue nggak akan bisa nolong lu. Lu harus mempertanggungjawabkan semuanya kepada Rizal," jawab Adinda sambil mengangkat tangannya dan tidak ingin menolong Kanaya.


Kanaya akhirnya menangis pilu. Ia tidak akan mungkin bisa meminta bantuan kepada Adinda. Sungguh malu wajahnya itu ketika melihat Adinda. Semua kesalahannya sudah terbaca oleh semua orang. Beda lagi dengan Gilang. Gilang bangun dan ingin menghajar Adinda. Dengan cepat Rizal mendekatinya lalu merangkulnya.


"Lu masih ingat gue nggak? Gara-gara ambisi lu gua hampir mati. Gara-gara kejahatan elu, gue juga hampir sekarat," tanya Rizal dengan serius.


Bilang terkejut sambil menelan salivanya dengan susah payah. Baru kali ini Gilang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Kemudian Gilang menjawab, "Gue kagak kenal lu sama sekali."