
Disaat Keluarga besar tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing di lantai bawa mansion mereka Anta lebih memilih masuk ke kamarnya, menyibukkan diri dengan menyusun beberapa pakaian milik nya di lemari walk in closed selama beberapa waktu hingga tiba-tiba Enardo masuk ke dalam kamar.
"Kamu sudah pulang?"
Tanya Anta pelan.
"Untie Dan Mommy.."
Belum sempat Anta menyelesaikan kata-katanya, tiba-tiba tangan Enardo secara perlahan melingkar di pinggang hingga ke perut nya lantas dengan gerakan lembut memeluk Anta begitu saja.
Seketika Anta membeku, cukup terkejut dengan tindakan Enardo.
"Mereka bertanya kenapa kamu pulang terlambat"
Anta berusaha menyelesaikan kata-katanya dengan jutaan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.
Enardo secara perlahan memejamkan bola matanya, menyandarkan dagunya di bahu kanan Anta.
Alih-alih menyahut ucapan Anta, Enardo berkata tepat di balik telinga Anta.
"Sebentar saja, biarkan seperti ini sebentar saja"
Setelah berkata begitu mereka tampak diliputi keheningan, tidak ada yang berani mengeluarkan suara, yang terdengar hanya deru nafas yang naik turun secara perlahan serta detak jantung yang dapat mereka masing-masing rasakan.
Anta jelas tidak paham, Enardo dalam beberapa hari ini cukup banyak berubah, bahkan acapkali membuat Anta kehilangan kata-kata, dia bahkan bingung harus menghadapi laki-laki ini bagaimana.
Dia hanya takut Enardo kembali membohongi perasaannya seperti dulu,ketika dia tebuai didalam lambungan angan-angan, lalu tiba-tiba dihempas kan dengan begitu keras dan kasar.
Hingga akhirnya Menyisakan jutaan luka yang mendalam, yang bertahun-tahun nyaris tidak ada obat untuk menyembuhkan nya.
Harapan masa lalu Anta soal Enardo pupus bersama impiannya, membuat dia mulai menarik diri dan membuang seluruh impiannya nya satu persatu tanpa sisa.
Tidak mudah baginya untuk melupakan, melepaskan dan membenci laki-laki itu dimasa kemarin, dia jelas butuh waktu lama untuk menata hati dan perasaan nya yang hancur hingga sampai ke titik di mana dia benar-benar mengubah persepsi cinta itu menjadi sebuah kata benci.
Tapi kini laki-laki itu seolah-olah ingin memberikan nya kembali harapan baru, mencoba menabur jutaan cinta pada dirinya.
Dan Kali ini jika Anta terbuai lagi dan Enardo membohongi nya sekali lagi, bisa dipastikan Anta benar-benar akan hancur tak bersisa.
Anta berusaha untuk membuka pembicaraan.
"Aku fikir sebaiknya kita..."
"Mari memulai semua nya dari awal lagi"
Enardo tiba-tiba memotong kata-katanya.
Sejenak Anta terdiam.
"Kata maaf mungkin tak cukup untuk membalas semua kesedihan dan waktu yang sulit kamu lewati kemarin. Tapi percayalah Anta,dimasa lalu aku tidak bermaksud seperti itu."
"Ada alasan khusus yang tidak bisa aku ceritakan dimasa lalu, mungkin lebih tepatnya terasa begitu sulit untuk aku utarakan alasan nya hingga aku lebih memilih untuk diam"
Ucap Enardo sambil menatap bola mata Anta melalui kaca walk in closed yang ada dihadapan mereka.
"Ada banyak hal yang Menyebabkan banyak kesalahpahaman di antara kita tanpa adanya penjelasan"
Enardo terus berusaha untuk menjelaskan, mengencangkan pelukan nugg
Anta menelan Saliva nya sejenak.
"Aku bohong soal berkata akan melepaskan mu setelah kamu bisa mendapatkan laki-laki lain, realita nya sebuah perasaan tak akan pernah merasa bahagia jika terus di manipulasi, ketika aku merasa dirimu lebih berhak hidup bahagia bersama seseorang yang mampu memberimu kebahagian itu, sejatinya hati ku marah dan berkata aku lebih dari kata mampu untuk bisa membuatmu bahagia"
Ucap Enardo cepat, membalikkan tubuh Anta agar mengahadap ke arah dirinya.
"Mari memulai nya lagi dari awal, melupakan masa kemarin dan melepas kan semua ingatan lama yang tidak penting"
Enardo bicara sambil terus menatap dalam bola mata Anta, kedua tangan nya menggenggam hangat kedua belah pipi Anta.
"Karena aku mencintaimu, aku bahkan tidak bisa hidup tanpa kamu, lalu bagaimana mungkin aku bisa melepaskan kamu sekali lagi seperti dulu, Anta"
Mendengar ucapan Enardo, bola mata Anta jelas berkaca-kaca, dia tidak tahu harus memberikan Jawaban yang bagaimana.