
Kembali ke masa kini
Masih di kereta Orion Express.
Adalrich mengeratkan rahangnya yang mengeras untuk beberapa waktu, bola mata nya menatap dua laki-laki yang tersungkur di hadapan nya untuk beberapa waktu.
sejak awal mereka tidak sadar jika pasukan Adalrich bersembunyi dalam berbagai sisi di dalam gerbong kereta, karena mereka memang telah berencana memancing keadaan dengan dengan mengosongkan seluruh area kereta dan membiarkan Adeline agar bergerak keluar sendiri.
tapi mereka juga tidak menyangka sebelum melihat pasukan yang lain Adeline telah bertemu dengan laki-laki yang lain lebih dulu, Selamat pagi pertama lolos dari penglihatan, dan mereka benar-benar tidak tahu siapa laki-laki pertama tersebut.
Dua sosok laki-laki itu berada di bawah lantai tepat di hadapan Adalrick dalam posisi tersungkur, tubuh mereka berdua telah belur, sisa tembakan yang mengenai kaki mereka melumpuhkan pergerakan mereka berdua.
Adalrich menjongkokkan tubuhnya secara perlahan, tangan kanannya menggenggam salah satu wajah laki-laki tersebut dengan penuh kemarahan.
"aku bukan tipe orang yang mau bersabar dengan keadaan, cukup katakan siapa yang menyuruh kalian kemudian aku akan meringankan hukuman kalian"
ucap laki-laki tersebut dengan ada yang begitu datar dan dingin.
katakan siapa yang akan percaya pada ucapan Adalrich di dunia ini? tidak akan ada.
Jika mereka telah berada di tangan sang penghancur jantung, maka jangan pernah berharap bisa keluar dalam keadaan hidup-hidup.
setelah mendengar ucapan Adalrich salah satu dari mereka mendongakkan kepala nya dan mencoba menatap wajah laki-laki dihadapannya tersebut.
"Cihhhh orang bodoh mana yang akan mempercayai ucapanmu tuan Adalrich?"
laki-laki itu bertanya sembari berdecih, wajah penuh kata tersebut masih bisa tersenyum dengan sangat licik, dia menatap tajam bola mata Adalrich seolah-olah sengaja membuat tantangan besar terhadap laki-laki itu dan sengaja pula agar dibunuh saat ini juga.
melihat laki-laki tersebut dengan beraninya menatap dirinya, Adalrich pada akhirnya menaikkan ujung bibirnya.
"tentu saja tidak akan ada orang bodoh yang mempercayai diriku, tapi kau tahu pesan orang bodoh telah masuk ke dalam genggamanku mereka akan menjadi semakin bodoh karena tingkah mereka sendiri"
ucap Adalrich dengan tatapan mata yang begitu mendominasi, dia kemudian tanpa menoleh ke belakang menaikkan tangan kanannya sedikit ke atas dan menggerakkan jari telunjuknya.
seseorang dengan cepat bergerak mendekatinya dan membawa sebuah telepon rumah mendominasi berwarna hitam di mana putaran angkanya berbentuk bulat-bulat sempurna, mereka hanya tinggal memutar nomor telepon seseorang dari sana di mana laki-laki tersebut memberikan gagang teleponnya pada Adalrich.
"Aku dengar Dua anak dan istrimu sedang kembali kerumah orang tua mu di sisi kanan kota Berlin?"
Saat Adalrick berkata seperti itu dengan tatapan yang sangat tajam seketika laki-laki itu membulatkan bola matanya dan terkejut.
"Apa?"
tiba-tiba dia merasa lehernya seperti tercekik oleh seseorang saat Adalrick berkata soal dua anak dan istri nya.
"Menikmati liburan musim salju huh?"
Setelah berkata begitu Adalrich mengeluarkan tawa mengerikan nya, dia terlihat bersih seperti seorang iblis pembunuh yang siap menyelesaikan nyawa siapapun yang menghalangi jalan nya.
seolah-olah laki-laki, perempuan atau bahkan anak-anak sekalipun bukan halangan untuk dia, dia tidak pernah menggunakan perasaannya terhadap orang lain atau ketika dia ingin menghabisi orang lain.
laki-laki yang memegang telepon memutar tombol putaran telepon secara perlahan.
Kringggggg.
Satu putaran.
Kringggggg.
Dua putaran.
Kringggggg.
Tiga putaran.
jangan ditanya bagaimana ekspresi laki-laki yang ada di hadapannya tersebut, raut wajah penuh ketakutan seolah-olah hari ini tidak menjadi hari kematiannya melainkan akan menjadi hari kematian orang-orang yang dicintainya.
dia begitu marah dan ingin menghantam Adalrich saat ini juga, tubuhnya terlihat gemetaran diiringi tangannya yang juga gemetar.
dia berteriak mencoba untuk berdiri namun dua pasukan Adalrich menahan sisi kiri dan kanan tubuhnya dan memaksanya agar terus tersungkur ke lantai.
sekueat apa dia memberontak sekuat itu juga orang-orang di sisi kiri dan kanan nya memasak menahan tubuhnya ke arah lantai.
sama temannya hanya melihat dengan cepat kemudian tiba-tiba tanpa diduga temannya meraih pistol yang ada di pinggang salah satu serdadu tersebut, menariknya dengan cepat kemudian...
Dooorrrrrrrr.
Alih-alih bisa menembak diri sendiri atau menembak Adalrich, dari arah belakang tiba-tiba tanpa diduga seseorang menembak tepat di belakang kepalanya.
seketika laki-laki yang ditahan tubuhnya tersentak kaget, dia membeku untuk waktu yang cukup lama.
darah berhamburan mengenai wajahnya dan kematian temannya sama sekali tidak bisa dielakan.
"aku tidak akan memberikan kesempatan untukmu mati, pertama kalinya aku memberi kan kesempatan adalah agar kamu mencoba menikmati kematian orang lain"
ucap Adalrich lantas dia berdiri dari posisi jongkoknya secara, laki-laki itu menyeringai kemudian membiarkan orangnya untuk memutar nomor telepon yang mengarah kepada keluarga laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
"para pasukan elit ku telah berdiri tepat di depan rumah orang tuamu, istrimu sedang tertawa bahagia bersama dua anakmu, kata kepadaku siapa yang kau pilih untuk aku habisi lebih dulu dengan tembakan mematikan dari jarak jauh? para tim penembak terbaik ku siap untuk menghabisi mereka satu persatu"
lanjut Adalrich lagi sembari terus menatap tajam ke arah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
seolah-olah kali ini tidak ada toleransi, dia siap menghabisi siapapun yang berani mencelakaian istri nya tersebut.
ketika dia sama sekali tidak mendapatkan jawaban dari laki-laki di hadapannya itu pada akhirnya begitu telepon tersambung.
"Bunuh anak perempuan nya lebih dulu"
Adalrich dengan cepat memberikan perintah.
saat mendengar anak perempuannya yang akan dihabisi lebih dulu laki-laki tersebut secepat kilat langsung berteriak.
"No..... jangan lakukan itu kumohon"
dia langsung menarik kaki Adalrich dan meminta laki-laki tersebut untuk menahan dan menarik kembali perintahnya.
"Aku akan mengatakan siapa yang memberikan perintah kepada kami, aku mohon tarik kembali pasukanmu untuk kembali dan jangan mencelakai"
laki-laki itu berteriak cukup histeris, seolah-olah anak perempuan nya adalah titik paling terlemahnya.
mendengar ucapan laki-laki itu memohon di bawah kakinya seketika membuat Adalrick menaikan ujung bibirnya.
"Tarik pasukan dengan cepat"
laki-laki tersebut kembali bicara dari balik teleponnya, dia memerintahkan anak buahnya untuk kembali dan tidak menembak di mana di seberang sana jelas anak buahnya telah bersiap dengan berbagai macam senapan panjang dan menunggu perintah yang diberikan oleh sang tuannya.
begitu perintah diterima mereka masih tetap awas, tapi beberapa pasukan nya telah mundur secara perlahan.
"katakan"
Adalrich bicara sembari berangkat tajam ke arah bawah kakinya, bola matanya menukik tajam menata bola mata laki-laki yang ada di bawah sana.
"apa aku bisa mempercayaimu dengan jaminan itu kau tidak kamu celakai satu pun Keluarga ku?"
"aku tidak pernah berbohong soal keluarga seseorang, tapi aku tidak pernah bisa menjamin keselamatan mu sendiri, kau pasti telah mendengarkan Desas-desus negosiasi ku bukan?"
laki-laki itu berucap sembari menaikkan ujung bibirnya, dia menunggu laki-laki di bawah kakinya tersebut bicara siapa yang memberikan perintah.
"Katakan"
laki-laki itu dengan bibir bergetar mulai mengucapkan sebuah nama.
"Ini adalah perintah nyonya Alima, ibu anda sendiri tuan"
ucapan tersebut meluncur dari bibir laki-laki itu dengan sangat jelas dan tegas, semua pasukan jelas terkejut langsung saling menolak antara satu dengan yang lainnya sedangkan Adalrich tidak menampilkan ekspresi nya, bola mata laki-laki itu hanya terus menatap tajam karena laki-laki yang ada di hadapannya.