King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
2 pilihan



Zehra tampak diam, duduk tepat di samping mobil laki-laki yang membawa nya tadi, disepanjang perjalanan mereka saling diam, tidak melakukan komunikasi sama sekali sejak tadi.


Zehra hanya larut dalam pemikiran nya dalam beberapa waktu, dia memejamkan perlahan bola matanya.


laki-laki disampingnya itu hanya menaikkan ujung bibirnya, cukup tidak percaya dengan ekspresi Zehra yang begitu tenang bahkan tidak ada pemberontakan.


Dia fikir Zehra akan berlaku ekstrim karena di bawa oleh dirinya dari mansion nya seperti orang-orang pada umunya yang di culik, tapi rupanya ekspresi Zehra jelas berbanding terbalik dari apa yang dia fikir kan sebelumnya.


Zehra terlihat tenang dan biasa-biasa saja.


"Biasa nya seseorang akan panik, berteriak histeris dan berusaha melarikan diri ketika dia dibawa kabur oleh orang Asing yang tidak mereka kenali, tapi kamu cukup bertindak tenang tanpa pergerakan"


Ucap laki-laki itu cepat, sempat melirik sejenak ke arah Zehra.


Zehra hanya mengembangkan senyuman nya, dia membuka perlahan bola matanya, lantas menoleh sejenak ke arah laki-laki itu lantas pandangan nya berubah ke arah depan.


"Selama hidup, aku terbiasa menghadapi hal yang seperti ini, di lempar ke sana kemari, di bawa kesana-kemari bahkan di dijual dan di beli"


Ucap Zehra pelan.


Laki-laki itu tampak diam.


"Awal nya dulu mungkin benar aku panik, tapi seiring berjalannya waktu menjadi satu ketidak herananan yang membiasakan"


Zehra menatap lurus kearah depan, bola matanya terus menatap datar, suara nya terdengar sangat dingin dan biasa.


"Suka atau tidak,aku tetap harus Suka dengan keadaan bukan?"


tambahnya lagi.


"Kamu tahu? Satu-satunya orang yang membuat aku menangis saat di bawa kabur dan di beli adalah Arash, sisa nya tidak pernah ada orang yang mampu membuat aku menangisi atau panik sekalipun saat situasi tegang menghantam"


Ucap zehra lagi pelan.


Laki-laki itu terkekeh.


"Harus kah aku acungkan jempol untuk laki-laki itu?"


Dia bertanya sambil tertawa sumbang, terdengar begitu dingin dan datar.


"Kamu tidak takut pada ku?"


Tanya nya kemudian.


"Bukankah tujuan utama mu membawa ku kembali ke tempat asal ku?"


Tanya nya sambil menoleh ke arah laki-laki itu.


"Kamu rupanya membuat persiapan lebih dulu dengan matang"


Laki-laki itu melirik ke arah Zehra, pandangan mata nya jelas terlihat begitu dingin.


"Seperti kata ku di awal tadi bukan? Siap tidak siap, bukankah aku harus tetap siap?"


Setelah berkata begitu Zehra mencoba menyandarkan tubuh nya di kursi mobil, dia kembali mencoba memejamkan bola matanya.


Laki-laki itu tampak diam, terus fokus mengendarai mobil nya, melesat masuk ke arah jalanan pegunungan di mana sisi kiri dan kanan nya di penuhi oleh pohon-pohon Pinus yang tersusun rapi mengelilingi tepian jurang menuju arah perbukitan.


"Kau ingin kembali kemana?"


Tanya laki-laki itu tiba-tiba.


Zehra tampak tidak menjawab, dia hanya menggerakkan jemarinya secara perlahan di perutnya.


Laki-laki itu sempat menoleh sejenak ke arah perut zehra.


"Ada 2 pilihan yang harus kamu ambil, edgard"


Ucap Zehra tiba-tiba tanpa berniat untuk membuka bola matanya.


Seketika yang dipanggil Edgard tampak diam.


"Apa?"


Yang di panggil edgard menoleh ke arah Zehra.


"Bawa aku menjauh dari Arash dan tidak ada pernikahan di antara kita maka aku akan naik menjadi penerus cullen atau..."


Zehra membuka bola matanya lantas menoleh ke arah edgard.


"Aku berikan tulang sumsum ku pada zaffa, Kembalikan aku ke Indonesia, gantikan aku mengendalikan cullen hingga akhir"


Sejenak edgard terdiam, dia menoleh ke arah zaffa sambil menatap dalam bola mata perempuan cantik itu.