King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 32 A & A



Nyonya Alima terlihat berjalan dari kejauhan, bergerak mendekati Ilse Kock secara perlahan.


Dia sebenarnya baru tiba, belum tahu ada kehadiran Adeline di antara semua orang.


Wanita tersebut membawa seorang bocah kecil di sisi kanan nya, usia bocah tersebut sekitar 5 tahunan, Wajah tampan mendominasi sangat mirip dengan seseorang.


Bocah tersebut bergerak dengan Perlahan mengikuti langkah nyonya Alima di sisi kanan wanita tersebut, bola mata tajam bagaikan elang dengan gaya pongah yang bisa mengingatkan dirinya pada sosok seseorang.


Diujung sana Ilse Kock menyunggingkan senyuman nya, bayangkan bagaimana perasaan senang menggerogoti diri Ilse Kock saat ini, seolah-olah perempuan tersebut baru saja mendapatkan jackpot dan lotre besar karena memenangkan sebuah perlombaan.


Adeline, kita lihat sebatas mana kau bisa bertahan saat kau melihat bocah tersebut ada di tangan kami.


Apa kau akan pura-pura lupa dan diam atau menangis mempermalukan diri ku sendiri di bawah kaki kaki dihadapan banyak orang dan mengakui jati diri kamu dengan cepat.


Batin Ilse Kock sambil menyeringai tipis, dia menggenggam erat telapak tangan nya dengan penuh kebencian.


Diana Zain terlihat mendengus melihat kehadiran Alima, tidak tahu kenapa dia tidak menyukai wanita tersebut, dia menyentuh lembut lengan Aurora seolah-olah dia berkata lihatlah siapa yang datang menyeruak di antara kita saat ini.


Adeline sendiri terlihat memeluk perlahan Aurora dengan perasaan bingung, dia tidak berani untuk menyampaikan pendapatnya saat ini atau bertanya Ada apa sebenarnya serta siapa mereka.


Ketika wanita tersebut berkata dia putri wanita dibelakang nya itu, jelas saja Adeline mengerutkan keningnya.


Bahkan ketika Perempuan cantik tersebut menyakinkan hal tersebut dan meminta nya memeluk hangat Perempuan tersebut, seketika Adeline diam dan menurut.


Alih-alih menimbulkan perdebatan atau konflik panjang di antara semua orang karena dia memang tidak mengenal siapapun bahkan satupun diantara semua orang lebih baik dia memilih diam dan tidak bicara apa-apa.


Dia jelas belum ingin cari mati saat ini.


Satu pesan seseorang kepada nya kemarin mengingatkan nya.


"Ikuti semua permainan orang-orang disekitar, lamban laut kamu akan menemukan jati diri kamu sendiri"


"Yakinlah kau bisa dengan sendiri menentukan mana lawan mana kawan di antara semua nya"


"Orang-orang kita sedang bergerak memecah barisan, berbaur dengan semua orang agar tidak ketahuan"


Orang-orang mereka?!.


Siapa?!.


Pertanyaan besar menghantam Dirinya.


Siapa dia di masa lalu?, Apa yang terjadi dimasa lalu? dan kenapa dia bisa melupakan semuanya saat ini? lalu siapa orang-orang yang berada di pihak nya?!.


Jutaan pertanyaan terus bergelayut di atas kepala Adeline.


Tapi meskipun begitu dia belum ingin mati sia-sia karena ketidak tahuan nya bukan?.


Bola mata Adeline sejenak mencoba mengitari pandangan nya di seluruh ruangan tersebut, realitanya meskipun dia membenci Adalrich dia membutuhkan laki-laki itu saat ini.


satu-satunya orang yang dia kenal dan bisa dimintai bantuan adalah laki-laki tersebut.


Dia pikir dia harus segera pergi dari sana.


Aurora terlihat melepas kan pelukan nya saat Diana Zain menyentuh lengan nya, sebuah kode terasa dari sentuhan wanita tersebut, hingga membuat perempuan itu seketika langsung melirik ke arah Diana Zain kemudian dalam hitungan detik dia mengikuti arah bola mata Diana Zain.


"Kau disini rupanya?"


Seorang wanita bicara dengan nada angkuhnya, menatap kearah Ilse Kock sejenak, namun tidak lupa bola matanya melirik ke arah Aurora, seolah-olah sejak awal perempuan cantik tersebut menjadi ancaman bagi wanita itu.


Nyonya Alima menyunggingkan senyuman nya, dia sedikit menundukkan kepalanya kearah Diana Zain kemudian Kearah Aurora.


Seperti sebuah kewajiban, dia tahu diri jika dia berada satu level dibawah dua orang tersebut, menundukkan kepalanya lebih dulu menandakan sebagai satu cara menghargai orang-orang dihadapan nya Tersebut.


Bisa dilihat bagaimana Nyonya Alima mengeram melihat gaya dan ke angkuhan Perempuan cantik tersebut.


Hanya karena kau istri wakil presiden, kau berani mengabaikan sapaan ku, kau pikir akan bertahan berapa lama lagi huh?!.


Batin nyonya Alima sembari membuang pandangannya.


"Oh siapa yang barusan aku lihat ini?"


Saat dia berbalik, satu pemandangan mengejutkan dirinya, dihadapan nya berdiri Adeline, perempuan tersebut terlihat sejenak terpaku, menatap Bocah di sisi nyonya Alima sembari menaikkan ujung alisnya.


Seketika nyonya Alima terkekeh kecil kemudian tiba-tiba dia mengubah ekspresi nya.


"Kau tidak ingin berkenalan dengan bocah laki-laki yang aku bawa, sayang?"


Tiba-tiba wanita itu bertanya Sembari menatap dalam wajah Adeline.


Ilse Kock jelas langsung menyambar Bocah kecil di Samping nyonya Alima, dia menggenggam erat telapak tangan Bocah tersebut kemudian berkata.


"Ohh Chaddrick sayang, Ibu pikir kau tidak akan datang Kemari?"


Dia bicara sembari tersenyum manis kearah bocah laki-laki tersebut, menampilkan ekspresi dusta dan berpura-pura manis kearah Chaddrick.


Dia melakukan nya karena dia tahu ini bisa jadi akan melukai Adeline ketika melihat kedekatan mereka.


Bocah kecil itu sama sekali tidak menjawab, dia menatap wajah Ilse Kock untuk beberapa waktu kemudian memilih menatap Perempuan yang berdiri tidak jauh dari nya tersebut.


"Aku datang karena ayah yang meminta ku, bibi"


Mendengar bocah kecil tersebut menjawab dan menyebut dirinya bibi seketika membuat Ilse Kock mengubah ekspresi wajah nya.


Kau...!.


Ilse Kock mencoba menahan perasaan nya.


Chaddrick kecil terus menatap kearah Adeline, bola matanya tidak lepas menatap perempuan cantik itu.


Adeline masih menatap bocah tersebut untuk beberapa waktu, saling bertemu pandang untuk beberapa waktu.


tidak tahu kenapa seolah-olah detak jantung mereka berdua saling beradu kencang, terus berdetak tidak menentu tanpa mau mengikuti irama.


Adeline tidak mengeluarkan suara nya, dia pikir dia menemukan dua perpaduan didalam wajah bocah laki-laki dihadapan nya itu.


"Sayang, tidak kah kau ingin menyapa mereka? aku pikir kamu mengenal bibi yang ini bukan?"


Tiba-tiba Ilse Kock bicara sembari menaikkan ujung bibirnya, dia langsung mencoba membisikkan sesuatu ke telinga Chaddrick kecil.


"Bukankah foto nya ada di kamar mu dan Ayah? tidakkah kamu ingin menyapa Ibu kamu sayang?"


Ucap perempuan tersebut penuh kemenangan.


Chaddrick sama sekali tidak bergeming, masih terus menatap wajah perempuan dihadapan nya tersebut untuk beberapa waktu.


Di ujung sana Adalrich secepat kilat bergerak mendekati putra nya, dia pikir apa yang dilakukan oleh ibu nya dan Ilse Kock saat ini?!.


Adeline sama sekali tidak bergeming, dia sana sekali tidak bisa melepaskan pandangannya dari bocah laki-laki tersebut.


Chaddrick mencoba melangkah perlahan mendekati Adeline, bisa dilihat bola mata bocah tersebut terlihat berbinar-binar dan berkaca-kaca, seolah-olah berkata betapa dia merindukan sosok fiksi yang selalu dia lihat di dinding kamar nya, Dimana beberapa lukisan dan foto-foto indah tersebut terus menatap nya dengan penuh senyuman.


Kali ini yang ditatap nya bukan gambaran fiksi atau bahkan halusinasi, yang dilihat nya saat ini benar-benar sosok nyata yang begitu dia rindukan.


Ibu.