
"Tapi ibu kita dulu mampu memimpin kita tanpa seorang ayah"
Setelah berkata begitu, laki-laki itu mulai menatap tajam lawannya, sang lawan Secara perlahan mencoba menarik pelatuk nya.
"Aku tidak peduli soal ibu kita, tapi bagi ku perempuan itu tidak pantas memimpin Cullen"
Setelah berkata begitu, secara perlahan laki-laki itu mulai menarik pelatuk nya tapi tiba-tiba.
Ssrrtttt
Chassssttt
Sebuah peluru melesat dari arah kanan laki-laki itu dan melesat tepat mengenai leher nya.
"Kauuuu"
Seorang perempuan berdiri disana dengan pistol nya, berjalan cepat mendekati laki-laki yang satu nya.
"Waktu nya kita bergerak ke distrik 1"
Ucap perempuan itu cepat.
"Kamu menembak suami kamu sendiri"
kaki itu berkata pelan.
Sejenak perempuan itu terdiam, dia memejamkan perlahan bola matanya.
"Aku melakukan nya karena memang harus melakukan nya"
Ucap perempuan itu pelan, lantas dia membuka bola mata nya kemudian langsung melesat keluar dari sana.
********
"Distrik 1 cukup sulit dihadapi"
Ucap Neo pelan ke arah Arash.
Mendengar ucapan Neo, Arash tampak diam sejenak.
"Kita belum mencoba nya"
Ucap Arash lantas laki-laki itu mulai memberikan instruksi agar semua bergerak saat ini juga dengan cepat.
"Waktu kita sudah semakin menipis, ini waktunya untuk bergerak"
Setelah berkata begitu Arash meminta Neo untuk memimpin semua orang agar bergerak maju menuju ke distrik 1.
Realita nya Arash tahu orang-orang di distrik 1 jelas lebih Sulit di hadapi sejati nya mereka tidak mendengar kan siapapun juga tidak mau bernegosiasi dengan siapapun.
Mereka sejak dulu bergerak sesuka hati mereka, tidak suka berada di bawah naungan siapapun.
Arash fikir benar seperti kata Neo, masuk ke distrik 1 jelas memiliki banyak resiko besar nya, bahkan Arash takut mereka akan mengorban kan banyak nyawa disana.
"Ya, halo?"
Arash Tampak mengerutkan keningnya.
*******
Semua orang tampak memecah barisan, mulai menyusup masuk ke distrik 1, dimana orang-orang disana tengah berkumpul bersama menghabiskan banyak waktu.
Beberapa anak-anak dan perempuan mulai menggeser diri dan menjauh,
Anggota Arash mulai melesat masuk ke dalam secara perlahan, beberapa orang tampak memasang jebakan Persis seperti mereka masuk ke distrik 3 sebelumnya lantas mengeluarkan anak-anak dan perempuan.
Tapi beda nya disini suasana nya jelas lebih tanang dari pada di distrik 3, dan yang lebih tidak terduga lagi kepala tim distrik 1 tengah melakukan transaksi penjualan narkoba.
"Aku fikir mereka sedang mendapatkan transaksi ilegal lagi"
Ucap Leo melalui headset bluetooth nya.
"Tunggu hingga transaksi mereka selesai"
Ucap Arash cepat.
"Mundur sejenak agar kita tidak ikut terlibat"
Mereka memutuskan untuk mundur secara perlahan, mengintip melalui bangunan gedung tua dari arah seberang.
Bangunan distrik 1 terletak kawasan kumuh belakang gedung-gedung mewah bertingkat, itu adalah tempat berkumpulnya para kawanan mafia dengan para kartel nya.
Arash bisa melihat ada banyak Orang-orang bertubuh kekar yang mulai masuk ke dalam distrik, 2 orang berjalan maju mendekati sang kepala utama, sisa yang lain mulai memecah diri.
Sejenak Arash mengerut kan dahi nya saat dia melihat dari bangunan gedung lain terlihat beberapa mobil Van mulai berhenti.
Laki-laki dan perempuan tampak turun dari mobil Van, dari segala penjuru arah jalanan tampak beberapa orang lalu lalang dan ada yang tengah duduk di kursi yang tersedia di beberapa tempat di sana, lalu terlihat seorang pemulung sibuk memungut sampah.
Arash melirik ke arah jam tangannya, dia bertanya pada Leo.
"Apa seorang pemulung bekerja diwaktu hampir subuh?"
Tanya laki-laki itu sambil mengerutkan keningnya.
"Aku fikir tidak"
Jawab Leo cepat.
Seketika Arash memperhatikan gerakan beberapa orang di tiap ujung nya, laki-laki itu menaikkan ujung alisnya.
"Oh...shi.t aku fikir itu pihak agen Drug Enforcement, mereka dijebak"
Ucap Arash cepat kepada semua orang.
"Bergerak cepat dan bantu mereka keluar dari jebakan lawan"