
Arash terus menatap dalam wajah Zehra, sejak tadi dia duduk di atas kursi sofa yang menghadap ke arah Zehra, memperhatikan sang istri yang terus tertidur lelap sejak tadi.
Rencana awal membawa Zehra ke Manhattan jelas gagal total, kehamilan dengan kondisi tubuh yang lelah dan tidak stabil bisa berakibat fatal jika Arash masih memaksakan diri untuk pergi.
Dan setidaknya Arash merasa cukup lega, dalam kondisi hamil akan sangat sulit sekali melakukan pendonoran tulang sumsum belakang.
Keputusan Arash yang berubah saat mendapat kan Zehra di Indonesia, dari hanya ingin meniduri nya hingga berakhir menikahinya saat itu tidak berakhir sia-sia, Arash mencoba memperhitung kan semua nya dengan matang, jika tidak melesat zehra pasti akan hamil sesuai dengan apa yang dia rencanakan sejak awal.
tidak ada drama donor sum-sum tulang belakang dalam waktu masa kehamilan, terdengar kejam untuk keluarga Cullen, tapi rencana itu sudah begitu matang dia dan Zaffa buat bersama jauh sebelum dia menemukan zehra.
"Aku tidak mungkin melakukan nya"
Arash cukup keberatan dengan rencana zaffa.
Menikahkan Anta dan enardo, meminta dirinya menikahi zehra seandainya Arash memang benar menemukan adik ke dua zaffa dan... mengabaikan zaffa.
"Lakukan lah, bukankah kamu bilang ingin mengubah sistem cullen yang seperti rezim Nazi? inilah saat nya"
"Tapi aku tidak bisa mengorbankan diri mu, zaffa"
Arash menatap dalam bola mata anta.
"Dimana-mana untuk memerdekakan banyak orang, kita harus siap mengorbankan beberapa orang bukan? jadi kenapa kamu harus Takut mengorbankan aku demi banyak orang?"
"Zaffa"
Arash tercekat.
"Jika kamu tidak bergerak mengubah rezim cullen Sekarang, kendepan nya anak-anak kita yang akan jadi korban berikutnya"
Mendengar ucapan zaffa seketika Arash menelan salivanya.
Arash kembali menarik berat nafasnya, bola mata nya masih Terus menatap zehra.
Sejenak Arash melihat pergerakan Dari zehra, dengan gerakan cepat laki-laki itu bangun berjalan mendekati Zehra.
Arash langsung duduk disamping zehra kemudian meraih pelan tangan sang istri.
"Kamu baik-baik saja?"
Arash bertanya pelan ke arah Zehra.
Sejenak zehra mencoba membiasakan bola matanya, lantas dia mencoba untuk mengingat-ingat apa yang telah terjadi tadi.
"Siapa laki-laki tua tadi?"
Seketika pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Zehra.
"Dia Daddy ku"
Sejenak Zehra menelan salivanya.
"Ya?'
"Apa ada yang salah?"
Arash berusaha menyentuh lembut wajah zehra, tapi dengan cepat Zehra menahan tangan itu.
"Ada berapa banyak sebenarnya rahasia yang kamu simpan dari ku, Arash?"
Zehra tiba-tiba bertanya sambil menatap dalam bola mata Arash.
"Semakin jauh hubungan kita seolah-olah menuntun ku ke satu tempat yang seharusnya aku kenal dan aku ketahui di masa lalu"
Lanjut Zehra lagi.
"Seakan-akan sejak awal kamu menikahi aku memang ada tujuan khusus yang ingin kamu capai melalui diri ku"
"Apakah kamu berencana untuk menceraikan aku sejak awal?"
Tanya Zehra sambil menggigit pelan bibir bawahnya, bola matanya mulai berkaca-kaca.
"Apakah ada tujuan penting yang kamu inginkan? lalu setelah sampai pada keinginan kamu, kamu bersiap untuk melepaskan tangan ku?"
Seketika Arash menggeleng kan kepalanya, secepat kilat dia memeluk Zehra.
"Tidak, aku tidak pernah berfikir untuk menceraikan kamu, sejak awal aku tidak pernah memikirkan soal itu zehra"
Ucap Arash sambil memper erat pelukan nya.
"Aku mungkin punya tujuan khusus, tapi Realita nya aku memang menjalankan pernikahan kita dengan sungguh-sungguh tanpa ada sandiwara sedikit pun"
Sejenak zehra memejamkan bola matanya, air matanya secara perlahan tumpah.