
Ditengah rasa bingung yang membelenggu Adeline, Adalrich terlihat menampilkan ekspresi biasa dan datar nya, laki-laki tersebut membawa langka perempuan tersebut menuju ke arah pintu keluar mension.
beberapa pelayan tampak menunjukkan kepala mereka seolah-olah sejak awal begitu bahagia sepasang suami istri tersebut akan pergi berdua setelah mereka tidak lagi melihat momen-momen seperti ini di masa lalu.
mereka memberikan salam perpisahan untuk kedua orang tersebut dengan penuh kebahagiaan, di hati masing-masing terselip doa semoga mereka melewati malam ini dengan begitu lancar dan penuh kebahagiaan.
Adalrich membawa langkah sang istrinya menuju ke arah depan dimana mobil miliknya setelah berdiri gagah di halaman pintu masuk mansion tersebut.
laki-laki tersebut secara perlahan menuntun perempuan itu menuju ke arah mobilnya, seorang laki-laki berdiri depan di hadapan mobil milik Adalrich, Mercedes Benz 770 K Grosser, percayalah mobil tersebut merupakan tipe mobil kesayangan Adolf Hitler di jaman nya.
di mana mobil tersebut kini telah berdiri kokoh tepat di hadapan Adeline dan Adalrich.
laki-laki yang berdiri di samping mobil tersebut menundukkan kepalanya secara perlahan, setelah itu laki-laki tersebut mulai membuka pintu mobil dengan gerakan yang sangat sopan.
dia menunggu sang nona untuk masuk ke sisi bagian kemudi di mana sang tuannya secara perlahan membantu adaline untuk naik ke atas mobil tersebut mengingat betapa tinggi posisi pijakan mobil itu.
Adalrich masih tetap menggenggam telapak tangan Adeline, dia membiarkan perempuan tersebut naik secara perlahan tanpa banyak bicara.
setelah memastikan istrinya naik ke atas mobil tersebut dan duduk dengan posisi yang paling ternyaman, laki-laki itu mulai memutar arah di mana sang anak buahnya tadi kembali menundukkan kepalanya dan memundurkan langkah.
membiarkan Adalrich naik ke bagian sisi kemudi kemudian laki-laki tersebut mulai menyerahkan mobilnya dan secara perlahan membawa mobil tersebut melaju ke arah depan.
Adeline terlihat menghembuskan nafasnya secara perlahan, bola matanya menatap lurus ke arah depan dimana sesekali dia membiarkan dua tangannya bertaut antara satu dengan yang lainnya.
tidak tahu kenapa dia merasa hatinya sedikit gelisah, seolah-olah akan ada suatu kejadian yang bakal mengganggu dirinya nanti.
dia hanya berharap semua berjalan lancar dan dia bisa segera pulang ke mansion, sebab Adeline pikir dirinya yang tidak mampu mengingat soal apapun pasti akan cukup kesulitan berbaur dengan orang-orang yang ada di sekitarnya.
"buat dirimu senyaman mungkin ini pasti baik-baik saja"
tiba-tiba suara laki-laki yang ada di sampingnya tersebut memecah kehamilan, Adalrich bicara dengan ada yang begitu santai.
"jangan khawatir soal apapun, aku akan terus mengawasimu hingga acara selesai"
lanjut lagi tersebut lagi sembari melirik ke arah Adeline untuk beberapa waktu.
Alih-alih menjawab Adeline tempat diam saja, perempuan tersebut sama sekali tidak mengeluarkan suaranya.
dia hanya menghela nafasnya secara perlahan.
hingga pada akhirnya perempuan tersebut hanya ber Hmmm ria.
"Hmmm"
dia menganggukan perlahan kepalanya.
perempuan itu kembali menautkan tangannya, kembali kegelisahan menghantam dirinya, di tengah kegelisahannya tersebut tiba-tiba saja laki-laki di sampingnya itu menggenggam erat telapak tangannya.
seketika Adeline mengerut kan keningnya, dia langsung menoleh ke arah Adalrick, namun laki-laki tersebut sama sekali tidak balik menoleh ke arah dirinya, memilih terus fokus untuk menyetir ke arah depan.
******
Disisi lain nya
Kediaman Utama keluarga Halogen dan Fervita
Kemarin
Di sebuah ruangan mendominasi berwarna keemasan terlihat seorang wanita tengah bersiap untuk bergerak pergi dari sana.
Seorang pelayan tampak sibuk dengan urusan nya dalam membenahi pakaian yang digunakan sang wanita berusia hampir setengah Abad tersebut.
itu adalah nyonya Fervita.
"Kau sudah dengar berita nya?"
"Ada apa? kau terlihat begitu terburu-buru, apakah sesuatu yang buruk terjadi, Halogen?"
wanita itu jelas bertanya sembari mengerutkan keningnya, dia menatap laki-laki tua berjambang lebat dengan wajah beringas tersebut untuk beberapa waktu.
Nyonya Fervita langsung melirik kearah pelayan nya, Seolah-olah paham dengan kode sang nyonya dia langsung bergerak pergi meninggalkan sepasang suami istri tersebut.
laki-laki itu buru-buru menghentikan gerakan pelayan tersebut yang mulai menjauhi mereka.
"Minta Romanov untuk menghubungkanku kepada pengasuh Chaddrick kecil"
itu adalah sebuah perintah mutlak yang disampaikan olehnya untuk kedua pelayan kepercayaannya.
Sang pelayan jelas terkejut, dia Langsung menghentikan gerakan kakinya.
Nyonya Fervita yang mendengar perintah suaminya jelas langsung mengerutkan keningnya.
"Apa?"
ekspresi kaki jelas tercetak di balik wajah wanita tersebut, dia yang masih berusaha membenahi pakaiannya seketika langsung menghentikan gerakannya.
"Bangun? kapan?"
Dua pertanyaan tersebut meluncur dari balik bibirnya.
"Apa ada hal yang buruk? kenapa kamu meminta untuk menyambungkan pembicaraan pada pengasuh Chaddrick kecil? kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi Halogen, dan katakan pada ku sejak kapan Adeline bangun dari tidur panjangnya?'
barisan demi barisan pertanyaan diberikan oleh wanita tersebut, dia jelas bertanya dengan cara yang begitu serius dan sedikit panik ketika Chaddrick kecil harus di libatkan saat ini.
Itu adalah putra Adalrich dan Adeline, dia pikir kenapa laki-laki dihadapan nya itu harus meminta pelayan mereka menghubungi pengasuh bocah kecil tersebut.
"Adeline telah bangun dari tidur panjangnya"
Bayangkan bagaimana bola mata nyonya Fervita membulat saat ini ketika dia mendengar suaminya berkata jika perempuan itu kembali bangun saat ini.
dia masih berusaha untuk menetralisir perasaan nya, keadaan jelas akan berubah ketika perempuan itu bangun.
Mereka kehilangan Adeline untuk waktu yang begitu lama, hingga akhirnya 2 tahun yang lalu mereka baru tahu jika Adeline masih hidup namun tertidur lelap dalam mimpi indahnya.
Semua orang harus bergerak tanpa perintah, mengingat satu-satunya orang yang bisa menghubungkan mereka pada Anggota satu dengan yang lainnya serta menghubungkan mereka ke keluarga Adeline adalah Adeline sendiri.
mereka bahkan harus mencari satu orang yang mampu menghubungkan mereka antara satu dengan yang lainnya, apakah mereka tidak bisa saling mempercayai antara satu dengan yang lainnya pula ketika pengkhianatan pemberontakan terjadi di belakang mereka kemarin di mana membuat Adeline pernah beberapa kali nyaris kehilangan nyawa nya.
begitu kematian Adaline tersebar luas 5 tahun yang lalu, mereka terpaksa pura-pura tidak saling mengenal antara satu dengan yang lainnya karena takut satu hal buruk akan terjadi kepada semua orang dan mereka akan ikut mati sia-sia sebelum apa yang mereka rencanakan terjadi.
kemudian 3 tahun berikutnya setelah mereka tahu Adeline masih hidup, ada harapan besar yang kembali bangkit lagi, mereka pikir mereka harus kembali menyusun strategi awal mereka untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan sejak awal.
namun sayangnya 2 tahun dalam penantian membuat mereka kembali ingin menyerah, siapa sangka seseorang kembali merangkul dan menyatukan mereka menjadi satu dan berkata akan ada masa di mana sang pemimpin akan kembali dan bergerak untuk memperebutkan apa yang seharusnya menjadi milik mereka semua.
dan kini Adeline benar-benar kembali, namun dia pikir kenapa ekspresi suaminya menjadi terlalu berlebihan ketika mendengar Adelin telah bangun dari tidur panjangnya.
"Halogen?"
Nyonya Fervita kembali bertanya dengan tidak sabaran.
"Nona muda kehilangan ingatan nya"
tiba-tiba saja seseorang masuk dari Arah depan dengan gerakan terburu-buru, membuat nyonya Fervita langsung menoleh ke asal suara dengan keterkejutannya yang luar biasa.
"Apa?"
dia jelas terkejut setengah mati saat mendengar jika Adeline kehilangan ingatannya.