
Adeline yang tengah memejamkan bola matanya seketika Terkejut saat merasakan ada seseorang yang menautkan bibir mereka, ciuman penuh kehangatan tersebut terus bergerak dengan begitu lembut dan penuh hasrat yang membara.
"Adalrich?"
Dia bergumam pelan ketika Adalrich melepaskan ciuman mereka, sejenak bola mata mereka bertemu, keheningan terjadi di antara mereka.
"Aku tidak bisa menahan nya"
Bisik Adalrich lembut, membiarkan netra mata mereka tetap bertemu, tatapan Adalrich begitu hangat, mengalahkan dingin nya rasa karena musim salju saat ini.
Mendengar ucapan Adalrich, membuat perempuan tersebut bingung, dia tidak tahu apa yang harus dia ucapkan.
"Apa aku boleh berbuka puasa?"
Satu tanya meluncur dari balik bibir Adalrick.
"Ini sudah sangat lama sekali"
Saat laki-laki tersebut mengucapkan sesuatu bisa Adeline rasakan ada sesuatu yang mengembang di balik celana laki-laki tersebut, terasa menekan perut nya secara perlahan.
"Ini akan bisa jadi obat hiportemia"
Dan sial nya dia menggunakan cara tolol untuk menyakinkan istri nya, hening tanpa suara, Adalrich pikir jika jawaban nya tidak dia tidak akan memaksakan diri.
"Kamu bisa melakukannya"
Bisik adeline pada akhirnya.
Bayangkan bagaimana rasa menghantam Adalrich saat mendengar Jawaban dari mulut istri nya?!.
Dia yang tidak bisa lagi menahan hasrat nya seketika langsung kembali menyambar bibir perempuan tersebut, hal tersebut sontak membuat Adeline menggenggam erat lengan sang suami nya untuk beberapa waktu.
Awalnya ciuman tersebut bergerak secara perlahan, kemudian maju berkembang bergerak semakin cepat dan menggebu. Adeline tahu saat ini Laki-laki itu telah siap membawa nya mengarungi waktu hari ini dan enggan menunda kehangatan yang semakin membara ditengah dingin nya cuaca yang menghantam kulit di atas kereta Orion Express mewah yang mengeluarkan suara berisik nya.
Saat sapuan bibir Adalrick berpindah ke lehernya, seketika adeline memejamkan bola matanya,dia mengeluarkan satu suara erotis nya.
"Adalrich...akhhh"
Bagaikan sebuah obat dahaga, suara istri nya menjadi satu kunci yang membuat Adalrick semakin semangat untuk menjelajah, bertahun-tahun puasa dia Anggap hati ini dia telah sampai pada batas ambang rasa nya.
Laki-laki itu terus menyapu di balik leher sang istri nya menuju ke arah telinga, begitu hangat dan membuat hasrat Adeline seketika naik hingga ke puncak kepala.
"Adalrich...aku"
Adeline pikir bisa kah Mereka berhenti sejenak untuk menundanya, tapi laki-laki itu begitu pandai membuat dirinya kehilangan kesadaran nya.
Alih-alih menjawab perkataan Adeline, laki-laki itu malah terus bergerak membawa lidah dan bibir nya menyapu leher istri nya secara perlahan, menjelajahi kulit mulus tersebut sambil Adalrich menghisap leher indah itu dengan gerakan sedikit ditekan untuk menciptakan satu warna indah di balik kulit putih milik istrinya.
"Akhhh"
Suara ******* Adeline mengalun begitu indah di balik telinga Adalrich, perempuan tersebut bahkan meremas kencang lengan Adalrich, perempuan tersebut memejamkan perlahan bola mata nya, menikmati gerakan Adalrich yang mampu membuat tubuhnya mulai menggila.
Dia mulai terbawa suasana hangat yang diciptakan oleh sang suami tersebut.
Bahkan gerakan, sapuan nakal dan hisapan dari kulit lehernya mulai berpindah menuju ke telinga Adeline, lidah Laki-laki itu kini menyapu dengan lembut dan nakal ke bagian cuping telinga hingga ke area sensitif nya satu persatu.
Mencipta kan satu sensasi luar biasa yang membuat Adeline kini mau tidak mau membiarkan kedua tangan nya melingkar di leher Adalrich.
Suara racauan Adeline yang terdengar menahan hasrat nya membuat Adalrick semakin bersemangat untuk melakukannya.
"Keluar kan suara mu Adeline"
Bisikan Adalrich Seketika menjalar memenuhi seluruh Indra pendengaran Adeline dan menghantar suara itu menuju hingga ke puncak kepala nya.
Setelah berkata begitu laki-laki itu menggigit lembut ujung telinga nya lantas menyesap nya kembali tanpa ampun.
Lagi pada akhirnya Adeline benar-benar terhanyut oleh perlakuan sang suami nya, bagi nya laki-laki tersebut terlalu pandai memainkan aksinya, membuat perempuan itu kehilangan seluruh Kendali atas tubuhnya sendiri.
Dia terbuai dengan bisikan lembut dan menghanyutkan itu, perempuan itu hanya bisa mengikuti alur permainan Adalrich dengan pasrah, apalagi saat satu tangan laki-laki itu tahu-tahu telah masuk menyusuri bagian dadanya, membuka pakaian nya secara perlahan dengan gerakan yang begitu lincah.
Percaya seolah-olah ada jutaan kupu-kupu memenuhi kepala dan perutnya saat ini.
Bahkan Adalrich dengan begitu lincah menggiring Adeline dengan tindakan nya, laki-laki itu kembali menautkan bibir mereka, bermain dengan begitu penuh gairah, bahkan lidah laki-laki itu mulai mengajak nya untuk saling membelit, menarik dan terus bermain semakin memanaskan suasana didalam kamar kereta api tersebut di mana hujan salju terasa semakin deras.
Belitan lidah itu kadang berubah menjadi sesapan, terasa begitu manis dan menggoda, sembari tangan kiri Adalrick mulai menyusup naik ke sela-sela penutup dada Adeline, bahkan setelah masuk dengan gerakan nakal jemari itu bermain di puncak dada nya.
"Adalrich ini..."
Suara Adeline tertahan sebab bibir Adalrick masih dengan lincah menyesap bibirnya, menimbulkan suara-suara yang memenuhi ruangan kamar mendominasi berwarna merah tersebut.
Dari sesapan indah di bibirnya kini gerakan bibir laki-laki itu tiba-tiba saja perlahan turun menuju ke arah dadanya.
Sembari Adalrick mulai membuang satu persatu penutup tubuhnya entah ke arah mana.
Adeline seketika memejamkan bola matanya, menikmati sensasi rasa yang diciptakan suaminya, dia menikmati lidah Adalrich yang bermain di ariola bahkan di niple nya, bergerak begitu lincah, menyesap, menjilat bahkan menggigit nya beberapa waktu.
Perempuan itu mulai meremas rambut laki-laki itu dengan kedua belah tangannya, alih-alih menolak Adeline malah menenggelamkan kepala laki-laki itu hingga masuk ke dalam dadanya, membiarkan Adalrich semakin lincah bermain di dalam sana.
Belum juga Adeline bisa mengimbangi permainan Adalrich didada nya, jemari laki-laki itu tiba-tiba mulai turun perlahan menuju ke perut nya, mengabsen tiap inci kulit mulus itu hingga berakhir di bawah sana, bermain di luar penutup bawah nya.
"Adalrich ...."
Desah Adeline, dia menatap wajah suaminya lembut, mencoba menahan sisa nafas tertahan, rasanya begitu aneh sekali saat jemari itu dengan nakal bergerak di bawah sana, tangan Adeline dengan cepat menggenggam erat lengan Adalrich.
"Apakah kamu ingin berhenti?"
Laki-laki tersebut menatap Balik wajah istri nya, bertanya lembut untuk memastikan keinginan perempuan tersebut.
"Kita sudah lama tidak melakukan nya, lakukan dengan perlahan"
Perempuan tersebut mencoba untuk mengingatkan, dia ingat dimasa kemarin Adalrick melakukan nya dengan cara yang kasar, perbuatan Ilse Kock dan Alima membuat Adalrick begitu marah padanya, Laki-laki tersebut membawanya bercinta dengan cara yang sangat kasar.
Seolah-olah ingat kemarahan terakhirnya di masa lalu, seketika membuat Adalrick menyesali perbuatannya.
"Maafkan aku"
Ucap nya pelan.
Perempuan tidak tahu suaminya bergelut pada asa penyesalan, dia pada akhirnya menyambar bibir laki-laki itu tanpa berpikir dua tiga kali, membuat Adalrick seketika terkejut.
Adeline enggan mengingat kembali soal masa lalu, menciptakan satu kehangatan kembali di antara mereka.
Lagi ciuman mereka kembali memanas hingga akhirnya secara perlahan jemari Adalrich bergerak dibawah sana.
"Adalrich..."
Perempuan itu mencoba menahan lengan Adalrich ketika tiba-tiba Jemari itu dengan nakal mulai bergerak keluar masuk dibawan sana.
"Sakit?"
Adalrich bertanya sambil menatap dalam bola mata Adeline, menikmati wajah penuh peluh itu yang menatap sendu kearah nya.
Adeline menggelengkan kepalanya perlahan.
"Maaf"
Dia mengulum senyuman nya, cukup malu pada respon tubuh dan tangan nya.
Adalrich tersenyum kecil, dia meneruskan permainan jari nya, semakin lama semakin lincah Jemari Adalrich bergerak dibawah sana membuat Adeline terus mengeluarkan ******* manja nya yang membuat Adalrick semakin bersemangat menggerakkan jemarinya di inti sang istri.
Semakin cepat gerakan Adalrich semakin menggila perasaan Adeline , seolah-olah jutaan kupu-kupu berterbangan dibawah sana, mengelilingi perutnya tanpa henti, bahkan ketika gerakan itu semakin cepat dan dalam tidak tahu kenapa rasa nya ada sesuatu yang bersiap untuk tumpah.
"Adalrich"
Adeline tampak menggigit bibir bawahnya, bola matanya yang mencoba menatap bola mata Adalrich terlihat memohon agar sang suami menghentikan gerakan nya, seolah-olah dia ingin berkata ini benar-benar menyiksa bagian inti nya.
Dia fikir sesuatu akan tumpah tidak lama lagi jika Adalrich terus melakukan hal tersebut.
Bisa Adalrich rasakan jika inti Adeline dibawah sana seolah-olah mulai meremas jemari nya, adeline akan tiba pada pelepasan nya.
"Lepaskan lah"
Adalrich berbisik sambil menggigit lembut ujung telinga adeline.
Dan benar saja tanpa bisa Adeline tahan kembali sesuatu benar-benar keluar tanpa bisa dia hindari,dia masuk pada pelepasan sempurna nya.
Rasanya begitu lega seolah-olah beban besar baru saja terlepas, Dan Adalrich sejenak membiarkan adeline menarik nafasnya beberapa waktu.
Sepersekian detik kemudian Adalrich langsung kembali menautkan bibir mereka, lidahnya sejenak bermain di rongga mulutnya, mencoba membuat Adeline kembali mendapatkan rasa berdebar-debar dibawah sana, membuat Adeline kembali menginginkan puncaknya.
Hingga akhirnya Adalrich berbisik lembut di balik telinga nya.
"Aku akan bergerak masuk"
Saat berkata begitu, Adeline menggerutkan keningnya, dia pikir kapan laki-laki tersebut membuka pakaian bawah nya? Dia tidak menyadari nya sama sekali.
Bisikan lembut itu memenuhi gendang telinga Adeline, begitu lembut dan menghanyutkan, perempuan itu hanya bisa pasrah, menikmati rasa yang terus membuat dirinya menggila.
Secara perlahan bisa Adeline rasakan gesekan lembut dibawah sana mulai beradu dengan milik nya, dan sepersekian detik kemudian tiba-tiba sesuatu mencoba melesat masuk ke dalam inti nya.
"Akhhhhhhh"
Demi apapun itu terasa sesak dan penuh, dia mencoba menahan dada Adalrich, mereka memang pernah melakukan nya di masa lalu, bahkan berkali-kali, tapi mereka telah lama tidak melakukan nya sejak dia koma.
"Sakit?"
Adalrich bertanya sambil menghentikan gerakan nya, dia mengerutkan perlahan kepalanya, menatap bola mata itu untuk beberapa waktu.
Adeline mengangguk kecil, cukup malu saat Adalrick memandangi wajahnya, perempuan itu dengan cepat menyembunyikan wajahnya.
"Berhati-hatilah, kita sudah lama tidak melakukan nya"
Yah masih terasa sakit dan penuh meskipun mereka telah melakukan nya beberapa kali.
Mendengar ucapan istri nya, Adalrich terlihat diam, dia mengangguk pelan.
"Aku akan bergerak perlahan"
Bisik Laki-laki itu pada istri nya.
Detik berikutnya secara perlahan Adalrich kembali mencoba memasukkan senjata nya, sulit dan sempit, dia harus melakukan nya penuh kesabaran hingga akhirnya dia berhasil menyeruak masuk ke dalam sana.
Mungkin karena lama cuti rasanya cukup canggung dan berat hingga akhirnya rasa hisapan pada inti adeline terasa begitu nikmat, laki-laki tersebut pada akhirnya mulai menggerakkan milik nya sejenak, menyakinkan diri jika sang istri baik-baik saja dan mulai menikmati irama permainan nya.
"Akhhh .."
Dan sang istri kembali mengeluarkan suara indah nya, hingga membuat Adalrick bersemangat untuk memperdalam permainan nya.
Sejenak laki-laki itu menautkan kembali bibir mereka, saling menyesap dengan penuh cinta, sedangkan dibawah sana terus melaju dengan sempurna keluar masuk dengan irama senada, menciptakan gelombang hasrat yang membara dan menggebu, membawa sang istri menuju ke peraduan dimana mereka telah lama tidak melakukan nya.
Dan bagi adeline Rasanya begitu dahsyat dan nikmat, Adalrich bergerak lebih teratur dan lembut dibandingkan di masa lalu, rasanya begitu luar biasa saat hentakan demi hentakan melesat masuk hingga kedalam sana menabrak dinding rahim dengan sempurna, semakin dia mengencangkan tangannya di spray kasur mereka semakin kuat hentakan yang dia terima, semakin menggila perasaan nya bahkan rasanya lagi-lagi sesuatu dibawah sana akan kembali tumpah.
Semakin kencang suara ******* dan hasrat yang ditimbulkan Adeline hingga mampu memenuhi seluruh ruangan tersebut, semakin cepat Adalrich menggerakkan milik nya dibawah sana, membawa sang istri melintasi peraduan Mereka berdua.
Hingga akhir nya Adeline fikir dia akan tiba pada pelepasan nya , Perempuan itu mencoba mengencangkan pegangan nya.
Melihat ekspresi Adeline, Adalrich langsung Meraih jemari-jemari indah sang istri dan menggenggam nya dengan erat, laki-laki itu berbisik dengan indah dibalik telinga nya.
"Mari mendapatkan semua nya bersama"
Dan hingga akhirnya setelah Ribuan butir peluh memenuhi wajah dan tubuh mereka, Adalrich semakin mengencangkan gerakan nya, menghentakkan miliknya dengan sempurna.
Membuat sang istri memekik tertahan, mengencangkan genggaman nya pada Adalrich, karena Adeline fikir dia benar-benar mendapatkan pelepasan nya.
Sepersekian detik kemudian disusul oleh pelepasan Adalrich didalam sana, dan bisa Adeline rasakan sesuatu yang hangat menghantam dinding rahim nya.
"Adeline"
Adalrich mengeluarkan suara nya dibalik telinga adeline, terdengar begitu seksi dan penuh hasrat yang membara.
Dimana pada akhirnya tubuh laki-laki itu mengencang Sejenak lantas sepersekian detik kemudian Adalrich mulai mengendurkan pegangannya, menjatuhkan dirinya ke atas dada adeline.
Laki-laki tersebut kemudian berbisik begitu lembut di balik telinga istri nya.
"Terima kasih sayang"
Ucap laki-laki itu sambil masuk ke ceruk leher sang istri nya.
"I love you"
Adalrich mengencangkan pelukan nya pada Adeline, kemudian laki-laki itu memejamkan perlahan bola matanya sejenak.
Dia tahu mungkin adeline akan sulit membalas ucapan cinta nya, itu hal yang wajar mengingat betapa buruk nya dia Dimasa lalu.
Tapi seiring berjalannya waktu dia tahu Adeline pasti membalas rasa dan asa nya, dimulai dari malam penyatuan mereka saat ini, dia akan mengembalikan rasa cinta tersebut secara perlahan agar sempurna seperti janji nya.