
Malam setelah acara pernikahan.
Suara tapak sepatu boot tebal militer seketika memecah kehening lorong yang terbuat dari tumpukan batu gelap disisi kiri kanan tempat tersebut, beberapa lampu Lentera di setiap dinding yang dilewati menjadi satu-satunya cahaya penggiring langkah dua orang yang berbeda gender tersebut.
Aroma darah yang merajalela bercampur aduk bersama peluh dan hawa panas tercium disepanjang lorong tersebut. Tidak ada pintu
atau lubang apa pun di sekitar lorong
tempat mereka menjejakkan kaki, hanya terdapat celah cukup besar yang terhalang portal besi di ujung sana.
Ruang sekap bawah tanah 'mansion jelas nyaris tidak menimbulkan suara, namun samar-samar bisa didengar suara pekikan kesakitan para tahanan di dalamnya persis seperti saat ini.
Adalrich dengan gerakan kasar melepaskan sarung tangan kulit hitam di tangan nya dimana di bagian dalam sarung tangan tersebut dimana terdapat kulit tangan laki-laki itu yang telah ternoda cukup banyak darah di dalamnya.
dan bisa ditebak pasti laki-laki itu baru saja menyelesaikan pekerjaannya untuk menghancurkan jantung beberapa orang yang merupakan musuh atau bahkan orang yang tidak dia sukai.
setelah melepaskan sarung tangannya dia langsung berbalik ke arah belakang, di mana mata tajam Adalrich melirik kearah perempuan yang ada dihadapan nya tersebut.
Frada menatap balik kearah Adalrich.
"Bawa sisa para bedebah itu ke sini secepat
mungkin, aku akan mengintrogasi mereka sendiri"
setelah berkata seperti itu Adalrick memberikan kembali tubuhnya dan dia kali ini mencoba untuk menahan kemarahannya.
Frada menatap punggung Adalrich
dalam dia, dia tahu sang jenderal tertinggi sedang tidak baik-baik saja,kali ini bisa dia pastikan tangan laki-laki tersebut akan kembali membunuh siapapun yang membuat kemarahannya semakin memuncak, belakangan laki-laki itu terus menyelidiki apa yang terjadi di masa lalu dan apa hubungannya Adeline serta beberapa orang yang di sekitar mereka.
laki-laki tersebut selain mencurigai bahwa Ilse Kock jelas, dia juga jelas mencurigai ibunya sendiri nyonya Alima, tapi laki-laki tersebut masih menahan prasangka buruknya dia tidak ingin bertindak gegabah hingga membuat hubungan dirinya dan Alima tidak baik-baik saja.
penyelidikan yang dilakukan dalam beberapa hari ini rupanya membuahkan hasil yang luar biasa, ada banyak desa-desus yang berkata jika nyonya Alima di masa lalu terlibat skandal dalam rencana pembunuhan kedua orang tua Adeline, bahkan nyonya Alima terlibat pembantaian besar-besaran pada keluarga Adelina dan juga banyak rakyat tidak bersalah di masa lalu.
Laki-laki tersebut benar,diam-diam mencari
tahu lebih banyak mengenai Adeline
dan kehidupannya di masa lalu melalui perantara banyak informan, dan Frada jelas menjadi salah satu Orang yang paling dipercaya Adalrich untuk bergerak mencari informasi nya.
Dan percayalah lagi-lagi seseorang mencoba untuk mencelakai Adeline malam ini.
Frada membalikan tubuhnya dengan cepat kemudian dia menatap ke arah dua orang yang ada di ujung sana memerintahkan mereka membawa para bedebah yang dipinta oleh Adalrich tadi.
Selang beberapa waktu dua tentara serdadu bawahan Adalrich memberikan kode pada anggotanya untuk membawa empat orang laki-laki agar masuk ke dalam ruangan tersebut.
Ekspresi wajah ketakutan terlihat dari 2 diantar 4 orang tersebut, mereka seolah-olah berpikir jika ini akan menjadi hari akhir mereka, sedangkan dua orang lain ya tanpa berjalan seolah-olah tidak menghiraukan apa yang akan terjadi pada mereka selanjutnya, meskipun mereka tahu mereka berhadapan dengan Sang jenderal penghancur jantung, sejak awal mereka tahu pada akhirnya masa ini akan tiba untuk mereka.
Begitu keempat orang tersebut tiba di hadapan Adalrick, tanpa menunggu perintah para serdadu langsung menghempaskan tubuh ke empat orang tersebut agar berlutut tepat di hadapan Adalrick.
Bayangkan bagaimana ekspresi laki-laki tersebut saat ini dia menetapkan 4 orang itu secara bergantian, di balik api kemarahannya yang sangat membuncah, laki-laki tersebut langsung menggenggam rahang salah satu dari empat laki-laki tersebut dengan sekuat tenaganya, bisa dilihat bagaimana ringisan dan juga rasa sakit yang menghantam salah satu laki-laki di hadapannya tersebut ketika dia menggenggam rahangnya dengan kekuatan penuh, suara tulang bergema memenuhi dinding ruangan tersebut.
"katakan pada ku berapa mereka membayar kalian untuk membunuh istriku?"
Tanya Adalrich sembari mengeram.
Laki-laki yang dia genggam rahangnya terlihat kesakitan dan menahan semua rasa yang diberikan Adalrich, jangankan untuk menjawab pertanyaan Adalrich, untuk menarik nafasnya pun dia sudah tidak sanggup saking kuatnya cengkraman laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Aku tidak minta banyak cukup katakan selain wanita itu siapa lagi yang terlibat di dalamnya?"
Tanya laki-laki itu lagi.
Keempat orang tersebut memilih bungkam tidak mengeluarkan suara mereka, bagi mereka kematian menjadi pilihan yang terbaik untuk mereka untuk saat ini, sebab membuka mulu pada akhirnya akan membuat mereka mati juga karena reputasi Adalrich yang tidak pernah mengampuni seseorang bahkan tidak suka bernegosiasi dengan siapapun.
Melihat keempat orang itu sama sekali tidak mau menjawab Adalrich semakin mengencangkan genggamannya hingga dalam hitungan detik laki-laki tersebut langsung mematahkan leher lawannya.
Melihat ketiga orang tersebut tidak juga kunjungi membuka mulutnya pada akhirnya Adalrich berkata.
"Masukkan mereka pada gelanggang gladiator, aku ingin tahu diantara ketiga orang ini siapa yang akan mati lebih dulu saat berhadapan dengan hewan kesayangan ku"
Dan saat ada Adalrich berkata seperti itu maka jangan harap ada yang akan keluar hidup-hidup dari sana.
"No....fucking you"
Salah satu dari ketiga laki-laki tersebut menimpa dan mencoba meludahi Adalrich, tapi sayangnya apa yang dia lakukan tidak mengenai laki-laki tersebut.
"Kau bisa membunuh kami saat ini juga, iblis"
Dia berteriak dengan histeris ketika dua orang mencoba untuk memegang tubuhnya dan menyeret langkahnya dari sana.
Adalrich sama sekali tidak bergeming dia menatap tajam laki-laki yang ada di hadapannya tersebut sembari dia menaikkan ujung bibirnya.
Setelah tiga sosok tersebut pergi berlalu dari hadapannya ada lirik langsung berkata kepada frada.
"Pastikan dia membuka mulutnya maka aku akan berpikir untuk melepaskannya dari sana"
Mendengar ucapan laki-laki yang ada di hadapannya itu membuat Frada hanya menganggukkan pelan kepalanya, dia kemudian memberitakan orang-orang tersebut menjebloskan ketiga orang itu ke dalam kandang gladiator di mana tempat itu akan menjadi tempat kematian untuk ketiga orang tersebut tanpa ada kesempatan hidup untuk kedua kalinya.
"Aku pikir terlalu cepat untuk menghabisi ketiga orang itu"
Frada bicara cepat sembari dia menatap punggung Adalrich.
"Aku takut mereka akan mencium keadaan, mereka mungkin bisa jadi akan mengubah rencananya"
Lanjut Frada lagi.
Mendengar ucapan perempuan yang ada di belakangnya seketika membuat Adalrick membalik kan tubuhnya, alih-alih menjawab perkataan Frada laki-laki tersebut memilih untuk bergerak berjalan menuju ke arah sisi kanannya, dia melangkahkan kakinya menuju ke arah anak tangga kemudian melangkahkan kakinya untuk naik ke atas.
"Aku pikir kau harus mencoba untuk berkencan dengan seorang laki-laki, Bibi belakangan cukup resah melihat kamu belum juga memperkenalkan calon menantu untuk nya"
Ketika laki-laki tersebut bicara seperti itu seketika Frada mengernyikan keningnya, dia pikir terlalu tumben laki-laki itu memperhatikan dirinya.
"Rasanya begitu aneh ketika sepupuku bertanya seperti ini dalam masa tugas"
Frada bertanya balik Sembari mensejajarkan langkahnya tepat di sisi kiri Adalrich.
"Anggap saja aku sedang berbaik hati dan memberikan perhatian, kau tahu jika aku jarang mencoba untuk memperhatikan orang lain karena aku menganggap nya tidak penting"
Suara laki-laki tersebut kembali terdengar datar dan dingin dimana Adalrich terus berjalan melangkah menaiki anak tangga satu persatu hingga akhirnya sampai ke atas sana, mereka berbalik menuju ke arah sisi kiri dan mencari pintu keluar di sana.
Seketika saat mereka mendapatkan pintu yang menyambungkan ke arah luar sana, aderik secara perlahan membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam sana.
Tidak ada seorangpun yang ada di sekitar situ hingga membuat mereka cukup langgeng untuk melangkahkan kaki mereka saat ini, rupanya pintu penghubung tersebut menuju ke arah kamar Adalrich.
"Aku harus berterima kasih banyak ketika mendapatkan perhatian darimu Adalrich, meskipun sebenarnya ini cukup tumben tapi aku tetap berkata aku sangat-sangat berterima kasih atas perhatian yang kamu berikan"
Frada bicara sembari Mencoba mengulum senyuman.
Adalrich terlihat sama sekali tidak merespon ucapan Frada.
"Pergilah ke kamar mu dan segera mengambil waktu istirahat sendiri, Mari kita membahas nya lagi lain kali setelah aku melewati malam pernikahanku bersama istriku"
Dan ketika laki-laki tersebut berkata seperti itu seketika membuat Frada langsung menaikkan ujung alisnya, kata melewati malam pernikahan terdengar sangat mencurigakan
Apakah laki-laki tersebut akan melewati malam bulan madu setelah cuti lama selama 5 tahun?!.
Perempuan tersebut membatin sambil semakin mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.