
Zaffa menatap Aida dengan pandangan bahagia, bola mata nya tampak berkaca-kaca.
"Sudah menemukan dia?"
Zaffa mencoba kembali bertanya, takut jika-jika telinga nya salah mendengar.
Aida jelas berkata jik arash telah menemukan saudara ke dua nya.
"Seperti yang di jelaskan tadi, nona"
Jawab Aida cepat sambil menundukkan kepalanya.
Zaffa mengangguk senang, raut wajah bahagia jelas tercetak dengan sempurna.
"Itu bagus, dia mendapatkan gadis kecil itu dengan cepat"
Zaffa bicara lantas menyandarkan kepalanya di kursi sofa.
"Dia menikahi gadis itu?"
Tanya nya lagi.
"Ya nona"
Zaffa mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Dia memutuskan hal yang benar"
Setelah itu zaffa coba memejamkan bola matanya.
"Aku butuh istirahat sejenak, bangunkan aku saat memasuki jam makan malam"
"Baik nona"
Aida menundukkan kepalanya sejenak lantas dia segera beranjak pergi dari hadapan zaffa.
*******
Disatu ruangan gelap yang di sekitar nya terdapat banyak jeruji besi yang bersusun rapi, aroma panas dan Suran jelas terlihat di sekitar sana, ada banyak orang bergerak menyelesaikan tugas mereka untuk mengepak dan menyelundupkan apapun yang memang di kerjakan oleh kawanan mafia.
Di satu sisi kosong seorang laki-laki berusia 38 tahunan tampak mengeratkan rahangnya, dia menatap tajam ke arah laki-laki yang baru saja datang menghadap ke arah dirinya.
"Jadi dia sudah mendapatkan putri MC Dores tanpa sepengetahuan ku? tidak membicarakan nya pada cullen mafia dan tidak berniat mengembalikan nya ketempat asal nya?"
Laki-laki itu berkata sambil mengeratkan giginya.
"Iya tuan"
"Dimana gadis itu saat ini?"
Dia kembali bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Dia menyembunyikan nya di satu tempat, di kediaman nya"
Laki-laki itu tampak diam, dia masih duduk di atas sebuah kursi berukirkan naga raksasa, jemarinya mengetuk-ngetuk ujung kursi kayu tersebut, dia memejamkan sejenak bola matanya.
"Aku akan keluar sendiri untuk mengambil nya"
"Tapi tuan, anda belum pulih 100% dari keadaan"
Dia tahu betul sang tuan nya masih dalam masa pemulihan, laki-laki itu sempat berbaring di atas ranjang rumah sakit beberapa waktu setelah melewati masa kematian beberapa kali.
Ketakutan nya adalah jika laki-laki itu keluar sendiri dari markas besar Cullen akan berakibat fatal, dia takut laki-laki itu bisa bertemu dengan putri pertama cullen, nona zaffa.
Sebelum kematian tuan Cullen dan memindahkan semua kekuasaannya pada tuannya, sang pria berkuasa itu pernah berpesan kepada nya
"Jangan sampai edgard bertemu dengan zaffa bagaimana pun caranya"
Bertahun-tahun tuan edgard nya bergerak dari dalam, mematuhi perintah cullen, kalau keluar hanya ketika memimpin pertikaian mafia antara hidup dan mati, tapi kali ini tiba-tiba dia ingin keluar untuk mendapatkan putri ke dua cullen jelas membuat ketakutan tersendiri untuk dirinya.
Dia jelas takut fikiran sang tuan edgard yang jelas telah di kendalikan oleh rezim cullen hingga ingatan nya menjadi berantakan tiba-tiba kembali lagi jika bertemu dengan nona muda pertama nya.
"Bukankah itu tidak menjadi satu alasan?"
Bola laki-laki itu menatap tajam ke arah lawan bicaranya, seketika laki-laki dihadapan nya itu menundukkan kepalanya.
"Kenapa aku tidak harus keluar dari tempat ini? bukan kah aku yang menjadi tuan di tempat ini? lalu apa aku harus mendengarkan perintah dari mu?"
Laki-laki itu menatap tajam bola mata laki-laki yang ada di hadapannya itu.
"Maafkan aku tuan, maksud mu kesehatan anda belum begitu membaik"
Laki-laki itu bicara dengan nada gemetaran, dia tahu jika sang tuan nya marah, siapapun bisa lenyap hanya dalam hitungan detik.
Laki-laki yang dipanggil tuan mulai berjalan ke arah depan.
"Siapkan mobil ku, aku akan pergi ke makam tuan Cullen"
"Baik tuan"
Seketika laki-laki itu menghembuskan nafasnya, dia fikir apa yang akan terjadi setelah ini jika ketidak beruntungan tidak berpihak pada mereka.