King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 69 A & A



Beberapa jam sebelum pertemuan antar pejabat kenegaraan


Hamburg.


Adeline mengelus cincin di Jemari nya pelan, diam-diam dia melirik ke arah Adalrick yang duduk dengan penampilan maskulin dan gagah menatap pada jalanan sepi di luar kaca


mobil.


Berbalut setelan tuxedo formal, Adalrich jelas terlihat begitu rupawan dari segala sisi yang terkadang mampu membuat Adeline tidak sanggup lama-lama membiarkan tatapannya berlabuh terhadap laki-laki itu.


Keadaan di dalam mobil benar-benar


sunyi mengingat Adalrich yang memang type laki-laki tidak banyak bicara terlalu fokus dengan kegiatan menyetir nya.


Hal tersebut membuat Adeline menjadi seolah-olah sendiri tanpa kata, entah berapa lama waktu berlalu seperti itu hingga akhirnya Adeline menyadari tatkala mobil yang Adalrich Kendarai berhenti tepat disebuah bangunan yang menjulang tinggi


berdiri kokoh tepat di samping kiri mereka.


sejenak pandangan Adeline cukup tidak fokus


ketika Adalrich turun dari mobil tiba-tiba seseorang menghampiri nya dengan tiba-tiba.


Begitu tergesa-gesa namun seolah-olah beberapa orang penjaga mendekati sosok yang berjalan tergesa-gesa tersebut.


Seketika kehebohan terjadi, Adalrich yang baru akan memutar jalan dan berniat untuk membukakan pintu dari arah Adeline terlihat menatap sosok yang akan mendekati nya tadi dimana beberapa penjaga dan tentara menahan gerakan nya dan mengusir orang tersebut agar segera pergi dari sana.


Siapa?!.


Adeline bertanya-tanya didalam hati nya.


Alih-alih bisa mendapatkan jawaban atas pertanyaannya, Adalrich langsung membuka pintu mobil dari arahnya dan membiarkan dia turun dari sana.


Perempuan tersebut secara perlahan mulai turun dari dalam mobil itu dan tangan suaminya, mereka pada akhirnya masuk ke dalam bangunan yang ada di sisi kiri mereka dimana bisa Adeline lihat beberapa orang penting dalam masuk ke dalam sana secara perlahan satu persatu.


Seperti kata Adalrich sebelumnya ini adalah pertemuan para pejabat penting, katanya ada beberapa pembahasan yang terjadi di bidang tersebut untuk para orang petinggi dan juga bagian kemiliteran, laki-laki kita sempat berkata keadaan dalam istana negara saat ini tidak baik-baik saja.


Mereka berjalan menuju ke arah depan secara perlahan dimana tengah ada beberapa penjaga yang menyambut mereka, begitu mereka masuk ke dalam tempat tersebut bola mata indah adeline menatapi tangga-tangga rendah berukuran lebar yang tersusun rapi sampai ke atas ruangan.


Lampu-lampu yang terlihat seperti lilin kekuningan yang menghiasi setiap sudut tangga yang remang.


Tak tertinggal akan pahatan artistik


membelenggui arsitektur aula secara


semarak.


Sejenak Adeline menjadi sedikit gugup karena tiba-tiba saja tangan Adalrich menggenggam erat telapak tangan nya, menautkan jemari-jemari mereka dan laki-laki tersebut membawa adeline tanpa rasa takut dan malu sedikitpun.


Jangan ditanya bagaimana kegugupan yang dirasakan oleh hati Adeline, bisa dirasakan detak jantung yang berdetak jauh lebih kencang daripada biasanya, hal tersebut membuat bulu mata nya indahnya seketika menatap turun ke arah tangannya yang terus digenggam oleh sang suami.


Dia baru ingin bicara namun tiba-tiba seseorang datang menyapa.


"Dia adalah nyonya Adalrich Ben junior?"


Sebaris pertanyaan dilontarkan dan laki-laki yang ada di hadapan mereka, laki-laki berusia 50 tahunan lebih tersebut melirik ke arah Adeline sembari dia mengembangkan senyumannya.


Manik Adeline melirik deretan lencana yang terpasang di seragam pria paruh


baya itu lalu menyadari pangkat yang


dipegang nya jelas tidak dapat diremehkan.


"Yes mayor"


Jawab Adalrich cepat.


"Aku sempat mendengar berita pernikahan kalian, tapi tertutup oleh terlalu banyak desa-desus soal hubunganmu dengan Ilse Kock, membuat orang tua berpikir sekedar mana yang sebenarnya kita akan terjadi dengan kamu, terkadang kita tidak bisa mencegah skandal atau mengendalikannya sesuai dengan keinginan"


Ucup laki-laki baru bayar lebih tersebut dengan cepat.


"Kita memang tidak bisa mengontrol mulut seseorang karena itu lebih baik memilih diam dan aku memutuskan Untuk bawah mana yang sebenarnya adalah istriku ke dalam pertemuan ini agar orang-orang mulai mengenal istriku"


Jawab Adalrich cepat sembari dia mengulurkan tangannya, memilih bersalaman kemudian saling merangkul tubuh untuk beberapa waktu.


"Orang yang smart memang seperti itu, sdikit bicara namun banyak melakukan pembuktian dan bergerak dalam diam"


Setelah berkata seperti itu laki-laki paruh baya tersebut mengembangkan senyumannya, kemudian dia melirik ke arah Adeline dan kembali mengembangkan senyuman nya lantas menganggukkan kepalanya secara perlahan.


Adeline terlihat ikut mengembangkan senyumannya, dia kemudian merindukan kepalanya secara perlahan.


"Senang bertemu dengan anda tuan"


Ucap Adeline sembari menyapa ramah pada laki-laki tersebut.


Ngobrol mereka tidak terjadi lama, kemudian sang mayor pergi melangkah menjauhi mereka. Begitu laki-laki paruh bayar lebih tersebut pergi seorang laki-laki mendekati mereka, usia nya mungkin baru 23 tahunan, dia menundukkan kepala kemudian berkata.


"Mereka telah bersiap, jenderal bisa pergi sejenak kedalam"


Ucap Laki-laki muda itu cepat.


"Mendengar ucapan laki-laki itu Adalrich langsung menganggukan kepalanya, kemudian dia langsung berbisik kearah adeline.


"Aku akan pergi sejenak, tetap awasi pandanganmu dan jangan percaya pada siapapun"


Suara laki-laki tersebut seperti perintah tapi realita ini sebenarnya penuh dengan perhatian dan penekanan agar Adeline tidak berlaku ceroboh untuk mempercayai orang lain.


Alih-alih menjawab ucapan suaminya, adeline lebih memilih mengganggukan kepalanya.


Selang beberapa waktu dirinya benar-benar ditinggalkan oleh laki-laki tersebut namun bisa Adeline lihat Adalrich berbisik kepada laki-laki muda di samping suaminya tersebut.


Begitu Adalrich berlalu, laki-laki muda tersebut tahu-tahu bergerak mendekati Adeline,memasang jarak  agak jauh dan terlihat mengawasi Adeline.


Dia pikir sepertinya memerintahkan laki-laki tersebut untuk menjaga dirinya.


Cukup lama dia menunggu laki-laki tersebut, bola mata Adeline tetap menatap awas pada sekeliling nya perempuan itu pada akhirnya memilih untuk berdiri dan mereka maju ke arah depannya, dia pikir dia akan mengambil minuman yang ada di ujung sana, di mana jualan gedung tersebut beberapa orang yang berkumpul terlihat melayani diri mereka masing-masing tanpa ada seorang pelayan yang melayani mereka untuk memberikan makan dan minum.


Ketika perempuan itu bergerak mendekati meja makanan dan minuman, sejenak dia melakukan sosok Adalrick yang tengah bicara dengan beberapa laki-laki di ujung sana, Adeline mencoba untuk mengabaikannya kemudian berpikir untuk mengambil air minum, namun tidak tahu kenapa netral mau tanya tidak ingin terlepas dari sosok sang suaminya.


Dia Melirik ke arah Adalrick sejenak, menatap laki-laki itu untuk beberapa waktu kemudian dia berniat berpaling, namun tiba-tiba dia menolak ke arah sisi kanan tepat di bagian belakang ada lagi yang jaraknya cukup jauh.


Seketika bola mata Adeline membulat saat dia menyadari saat sesuatu, seketika ketegangan terjadi saat dia menyadari terdapat sosok laki-laki bertubuh kurus dengan penampilan yang cukup rapi pernah memegang sebuah pisau belati di tangan kanannya, dia bergerak dengan cepat menuju ke arah abadi hingga membuat Adeline langsung terbelalak kaget.


Tanpa berpikir dua tiga kali, Adeline secara spontan bergerak dan berlarian dengan cepat kearah suami nya sembari berteriak panik.


"No... Adalrich.. dibelakang mu..."


Dan entah bagaimana kejadiannya seolah-olah Waktu berjalan sangat cepat, mereka saling mengejar langkah, Adalrich yang melihat ekspresi Adeline langsung menoleh ke belakang nya, namun dalam gerakan Adeline yang mencoba mengejar dirinya, Adalrich bisa melihat seorang perempuan mengacungkan pistol dari tangan nya tepat dari arah sisi kiri Adeline, sontak hal tersebut membuat Adalrick membulatkan bola matanya.


"No...Frada..."


Dan seketika bola mata semua orang menatap terkejut ke beberapa arah, kengerian dan ketegangan terjadi dimana orang-orang terlihat mulai menaikkan senjata mereka masing-masing.


Bagaikan gerakan slow motion tiba-tiba Semua orang bergerak dengan cara mereka masing-masing, aksi saling tembak dan saling hantam seketika terjadi.


Adeline sama sekali tidak tahu bagaimana kejadian pastinya, yang dia tahu tiba-tiba Adalrich menyambar tubuh nya dengan sangat cepat, laki-laki tersebut memeluk nya erat diiringi suara letusan senjata api yang terdengar dari berbagai arah, seketika mereka terjatuh kelantai dimana Adalrich terus memeluknya dan melindungi Kepala nya dengan telapak tangan kokoh nya agar kepala Adeline tidak terhempas ke lantai.


Brakkkkkkk.


Hahhh?!.


Adeline langsung memejamkan bola matanya, dia terkejut setengah mati namun tidak merasa ada yang sakit dikepala nya mengingat Adalrich begitu melindungi dirinya.


Didetik berikut nya bisa dia dengar laki-laki tersebut Berkata.


Entahlah bagaimana perasaan seorang perempuan ketika laki-laki yang di sebut suami berkata hal yang begitu manis dibalik telinga kita.


Rasanya Adeline kehilangan kata-kata nya, jantung nya berdetak begitu kencang dan dia tidak bisa menetralisir perasaan nya.


Berikutnya tidak bisa dia rasakan lagi gerakan Adalrich, laki-laki tersebut tiba-tiba saja tidak bicara sama sekali, memeluk dan menindih dirinya dengan erat.


Dan bisa Adeline rasakan sesuatu yang hangat mengalir dari balik pakaian nya.


"Jenderal"


Dan teriakan demi teriakan terjadi begitu saja membuat Adeline yang tanpa sengaja menatap telapak tangan nya yang baru saja selesai memeluk punggung Adalrich.


Genangan darah memenuhi tangan nya tersebut, bayangkan bagaimana detak jantung adeline berjalan saat ini.


No...no....!?.


Adeline terlihat panik kala beberapa orang menarik tubuh Adalrich dan Frada mendapat kan tubuhnya dan membantu nya berdiri dari posisi nya semula.


Seketika bola mata Adeline membulat dengan sempurna saat dia menyadari jika tubuh laki-laki tersebut telah di penuhi oleh darah.


"Adalrich...no... Adalrich...."


Adeline seketika berteriak histeris, dia menyambar tubuh laki-laki tersebut yang tergeletak di lantai bersimbah darah, dan selama dia bangun dari tidur panjangnya ini pertama kali nya Adeline menangis histeris dan panik karena laki-laki dihadapan nya tersebut.


"Bangun...no...lihat aku... Adalrich..."


Tangan perempuan tersebut menyentuh wajah suami nya dengan jutaan rasa panik yang menghantam.


Seketika Adeline merasa seolah-olah dunia menenggelamkan dirinya, dia bahkan tidak bisa mengeluarkan kata-kata nya, jutaan rasa sakit dan kepedihan melanda hati nya, rasa takuy menghantam Dirinya.


Dia terus berteriak histeris ditengah tangisan nya yang tidak bisa berhenti sejak tadi, tangan penuh darah segar tersebut terus berusaha mengguncang kesadaran sang suaminya.


Dia tiba-tiba menjadi seperti orang linglung, kehilangan separuh nafas dan raga nya begitu saja.


Tidak, Adalrich, jangan lakukan ini, jangan menakutiku dengan kematian karena dimasa lalu terlalu banyak kematian yang hilir mudik pergi membawa seluruh harapan ku bersama asa yang tidak pasti.


******


Mansion tidak berpenghuni


Hutan Hamburg.


Adeline duduk gusar didepan sebuah pintu berwarna coklat tua yang tertutup sejak tadi, suasana mencekam terjadi di sekitar nya dimana hanya ada diri nya dan Frada yang duduk disana saling bersebelahan, Adeline memilih diam seribu bahasa tanpa kata, dimana bola matanya tidak ingin lepas sama sekali dari titik pintu yang ada dihadapan nya.


Berkali-kali perempuan tersebut menarik nafasnya dengan berat, dia menawarkan kedua tangannya untuk beberapa waktu, saling meremas telapak tangan dengan kepanikan yang luar biasa, dimana masih tersisa sedikit beda di tangan kiri dan tangan kanannya.


Di dalam hati perempuan tersebut terus mengucapkan doa, berharap laki-laki di balik pintu tersebut baik-baik saja, di mana para tim dokter saat ini begitu fokus untuk melakukan penyelamatan pertama terhadap sang suaminya.


Sesekali Adeline memejamkan bola matanya, benar-benar takut dengan keadaan, berharap semua baik-baik saja.


Bayangkan bagaimana perasaan perempuan tersebut ketika Adalrich menjadikan tubuhnya sebagai pelindung dan temeng agar ada yang tidak tertembak oleh orang lain.


Biar hatinya ingin menolong laki-laki tersebut gimana seorang laki-laki mencoba bergerak ke arah Adalrick udah berniat untuk melukai suami nya.


Alih-alih dia bisa melindungi Adalrich, realitanya dialah yang dilindungi mati-matian adalah laki-laki tersebut, hingga pada akhirnya tindakan Adalrich mempertaruhkan keselamatan laki-laki tersebut sendiri.


"Jangan khawatir soal apapun, aku yakin Adalrich pasti baik-baik saja"


Frada akhirnya bicara perlahan, dia melirik ke arah Adeline untuk beberapa waktu kemudian kembali membuang pandangannya dan menatap ke arah pintu depan yang ada di hadapan mereka.


Meskipun perempuan itu berkata Adalrick pasti baik-baik saja, namun Adeline terus berpikir jika semua itu tidak baik-baik saja, ketakutan terbesarnya adalah jika laki-laki tersebut akan pergi meninggalkannya.


Karena baginya sudah terlalu banyak orang yang pergi meninggalkan dirinya karena mengorbankan mereka semua demi keselamatan dirinya.


Adeline memilih diam dan tidak menjawab ucapan dari Frada, dia masih membiarkan bola matanya menatap ke bagian pintu mendominasi berwarna cream tua dihadapan nya itu.


Entah berapa lama waktu berlalu Adeline sama sekali tidak tahu yang jelas baginya mereka sudah berjam-jam duduk di sana, menunggu para dokter dan perawat keluar dari ruangan tersebut.


"Aku pikir aku bisa mengabaikan nya dan menunggu waktu untuk berpisah dari nya setelah ini"


Tiba-tiba saja Adeline mengeluarkan suaranya, dia bicaralah namun sama sekali tidak menoleh ke arah Frada.


"Ada masa aku begitu lelah, berpikir hubungan kami tidak mungkin berlanjut saat ingat apa yang terjadi dimasa lalu, di mana aku merasa dia menyakiti perasaanku ketika tidak mempercayaiku"


Mendengar ucapan dari Adeline, membuat frada langsung menoleh ke arah sisi kirinya, bisa dilihat perempuan di sampingnya itu terus menatap lurus ke arah pintu, jutaan biner dan ekspresi khawatir bisa dia lihat dengan jelas di balik wajah cantik tersebut.


"Namun pada akhirnya aku sama sekali tidak bisa melakukannya, kelembutannya membuat aku tidak sanggup untuk melepaskanmu"


"Realitanya selalu ada jalan yang membuat kami tidak bisa melepaskan antara satu dengan yang lainnya"


Setelah berkata seperti itu, Adeline menoleh kearah Frada.


"Aku benar-benar tidak sanggup melepaskan nya dan berpikir aku Bagaimana hidup tanpa dia, aku jatuh cinta pada nya sejak dulu hingga sekarang, dan sama sekali tidak bisa mengontrol perasaan yang tumbuh seiring berjalannya waktu"


Seketika air mata Adeline tumpah, dia mencoba menangis aku tangisnya untuk beberapa waktu.


Kemudian perempuan tersebut membuang pandangannya, tubuhnya bergetar seiring tangisan kecil menyerbu bibir mungil nya.


Frada terlihat diam dan cukup kehilangan kata-katanya, dia bingung harus memulai ucapannya dari mana.


"Kau tahu?"


Pada akhirnya perempuan itu mulai bicara.


"Aku tidak pernah melihat seorang Adalrich menatap seseorang dengan penuh cinta dan rela mengorbankan dirinya untuk menjadi temeng atau pelindung pada perempuan lain di dalam seumur hidupku"


Dia mulai bicara menelisik wajah Adeline dari samping kirinya.


"Meskipun aku sempat meragukan hubungan kalian yang mungkin tidak akan bertahan lama pada akhirnya aku berani menyimpulkan jika Adalrich tidak akan mampu hidup tanpa dirimu"


Ucap perempuan itu lagi kemudian dia kembali membuang pandangannya.


"Bahkan dia hampir seperti orang gila Selama tidur panjang mu dalam beberapa tahun terakhir "


Ya laki-laki tersebut benar-benar nyaris seperti orang gila ketika dia kehilangan Adeline, bagi Adalrich tingkat kewarasan nya mulai menghilang dikala Adeline  tidak ingin bangun dari tidur panjangnya.


"Namun jangan lupa satu hal, Semua yang ada di masa lalu hanya kesalahpahaman atas perbuatan bibi dan Ilse Kock"


Pada akhirnya Frada mencoba mengingatkan Adeline soal masa kemarin.


Setelah berkata seperti itu Frada terlihat diam tidak mengeluarkan lagi suaranya, begitu juga dengan Adeline yang kini tenggelam di dalam pemikirannya.


Di tengah keadaan mereka seketika dari sisi kanan terlihat dua orang datang dengan cara tergesa-gesa, ekspresi wajah khawatir terlihat jelas diantara kedua orang tersebut.


"Ada apa dengan Adalrich?"


Suara seorang perempuan memecah keheningan malam, dia bertanya panik ke arah Adeline dengan bola mata berkaca-kaca.


Tuan Petra buru-buru langsung mendekati pintu mendominasi berwarna coklat yang ada dihadapan nya.


"Apakah putra ku baik-baik saja, Frada?"


Kembali Perempuan tersebut bertanya sambil menatap panik kearah dua orang yang ada dihadapan nya.


"Maafkan aku, bibi"


Ucap Adeline kemudian Sembari menunduk kan Kepala nya.


"Ini semua salah ku"


Ucap adeline lagi kemudian.