
Beberapa waktu kemudian
Masih di rumah Sakit xxxxxxxx
Di ruangan berbeda.
Brakkkkkkk
Suara keras terdengar di sepanjang ruangan segi empat berukuran sekitar 6 x 4 yang mendominasi berwarna putih tersebut dimana di sekitar ruangan di penuhi berbagai macam perlengkapan medis dan beberapa kursi serta sebuah meja kerja khusus yang di atas nya terdapat beberapa tumpukan buku dan berkas-berkas.
Jenderal Adalrich menghempas kasar tubuh laki-laki berpakaian dokter dihadapan nya itu dengan kasar kearah dinding tanpa berpikir dua atau tiga kali, kemarahan jelas terlihat dibalik bola mata laki-laki bertubuh tegap dan tinggi tersebut, wajah tampan yang terkenal dengan keangkuhan nya itu kini telah tertutupi oleh amarah menggebu dan keganasan yang mampu membuat bergidik ngeri siapapun yang melihat wajahnya saat ini.
Laki-laki berpakaian dokter dihadapan Adalrich tersebut seketika berusaha menelan salivanya, ketakutan Menghantam dirinya saat ini, keringat dingin membasahi tubuhnya.
Tidak dia pedulikan rasa sakit karena hantaman yang diterimanya tadi, saat ini yang dia pedulikan hanyalah bagaimana cara nya dia menjelaskan apa yang barusan terjadi pada nona muda mereka.
Istri sang jenderal utama.
Dokter muda itu tahu ketika laki-laki dihadapan nya itu marah maka pahamilah jika kematian seolah-olah ada di hadapan saat ini, lehernya kini seolah-olah tercekik karena rasa takut yang menghantam dirinya, nafas nya terasa menghilang sejak tadi secara perlahan.
Ruangan cukup besar untuk diisi oleh 2 orang tersebut itu kini tidak lagi menjadi tempat perlindungan terbaik untuk dirinya saat ini.
"Bagaimana bisa istri ku sendiri melupakan diri ku hah?"
Satu bentakan dari sang jenderal membuat dia bergidik ngeri, suara bariton tersebut selalu ingin dihindari oleh semua orang tapi terkadang harapan tidak sesuai dengan apa yang dijalankan.
Dia tadi berharap Perempuan tersebut bangun normal seperti biasanya, sang tuan dengan cepat berkata betapa dia merindukan Perempuan dihadapan nya itu, bergerak menyelesaikan skandal dimasa lalu, dia berharap laki-laki angkuh tersebut bertekuk lutut meminta maaf kepada perempuan itu dimana terdapat dia kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi berikutnya seperti, bisa jadi sang nona mereka akan menangis haru karena bahagia atas perubahan sang jenderal atau memilih menyerah dan meminta berpisah dan semua selesai seperti drama teater di panggung Opera.
Mengakhiri hubungan rumit yang mereka jalin dimasa lalu dan melepaskan diri dari kehidupan bersama laki-laki mengerikan tersebut.
Tapi kenapa dikala nona Adeline mereka terbangun, perempuan cantik tersebut sama sekali tidak mengingat siapa tuan nya, bahkan perempuan itu menatap asing semua orang di sekitar nya termasuk menatap dirinya.
"Maaf, siapa anda tuan?"
Kata-kata tersebut menjadi momok menakutkan bagi mereka ketika perempuan cantik tersebut bertanya tadi sembari mengerutkan keningnya.
Dia pikir Nona muda mereka mungkin sedang bercanda, bermain peran untuk sebuah operasi panggung teater dan mencoba membuat takut sejenak sang jenderal besar dimana Perempuan cantik tersebut telah menjadi gadis pilihan tuan nya lebih dari 6 tahun yang lalu, yang merupakan mata-mata negara tetangga, tertangkap dengan cara mengerikan dan dibawa paksa untuk di tentukan hari kematian nya itu menjadi gadis pilihan di atas kasur jenderal tidak berhati Mereka.
Siapa sangka pesona gadis cantik tersebut dimasa lalu mampu membuat laki-laki sedingin es, segarang srigala dan terkenal dengan kekejaman sistem Nazi nya tersebut bisa terpesona atas kecantikan seorang gadis bernama Adeline itu mampu menyingkirkan gadis cantik manapun yang memimpikan seorang Adalrich.
"Maafkan saya tuan ini ada di luar pemikiran kami, tapi kita tengah melakukan proses pemeriksaan lebih lanjut terhadap nona Adeline, percayalah nona saat ini baik-baik saja"
laki-laki tersebut bicara mencoba untuk meyakinkan sang Tuannya, dia berusaha untuk mempertahankan irama detak jantungnya yang terasa akan berhenti saat ini juga.
Kedua tangan jenderal Adalrich masih menggenggam erat kerah pakaian nya, dimana dia bisq merasakan betapa kuatnya cengkraman tangan kokoh tersebut saat ini di lehernya dimana posisi tubuhnya di tahan dengan kasar ke arah belakang dinding, menempel persis seperti cicak mati kekeringan di sudut dinding.
Bayangkan jika seseorang ingin membayangkan nya saat ini, tapi dia berharap tidak ada yang menertawakan penderitaan nya saat ini.
Laki-laki tersebut membatin sembari Mencoba memejamkan sejenak bola mata nya lantas kembali membuka bola mata nya dengan bersusah payah.
sejujurnya dia juga tidak tahu apa yang terjadi, tidak ada penjelasan medis yang bisa di jabarkan tentang seseorang yang bisa melupakan soal masa lalu saat ini, seandainya dia mengambil pendidikan dan bergerak di bidang tersebut maka dia akan mencoba untuk menjabarkan nya saat ini juga pada tuan Adalrich, tapi dia tidak bisa menjabarkan nya saat ini karena itu bukan bagian dari kemampuan nya.
"Dokter Sanders dalam perjalanan kemari"
Lanjut laki-laki tersebut lagi.
Dia pikir dokter Sanders pasti bisa memecahkan persoalan berat saat ini, mengandalkan laki-laki tersebut untuk bisa menjelaskan dengan detail soal nona muda mereka.
"Apa aku membayar kehidupan mu hanya untuk mendengar dua kalimat tidak berarti seperti itu? aku tidak tahu dan dokter Sanders dalam perjalanan kemari! kau benar-benar ingin cari mati, Mark?"
Adalrich kali ini semakin menaikkan intonasi Suara nya, sumpah demi apapun suara laki-laki tersebut benar-benar memecah suasana seisi rumah sakit saat ini, beberapa petugas medis dan dokter serta orang-orang yang berlalu lalang di luar ruangan tersebut hingga berjarak hampir ratusan meter dari sana mampu mendengar kan teriakan sang jenderal yang di katakan sebagai laki-laki yang persis seperti Erwin Rommel dimana di jaman Adolf Hitler dikenal sebagai komandan tank terbaik saat memimpin pasukan Jerman dan Italia di Perang Dunia II,
Adalrich diberikan julukan Der Wuestenfuchs atau Sang Rubah Gurun, dimana "Rubah Gurun" dikenal karena kepiawaiannya memimpin pasukan langsung ke garis depan dalam peperangan.
laki-laki yang namanya diteriaki Mark tersebut seketika terdiam , kembali keringat dingin membasahi pelipis kiri dan kanan laki-laki tersebut, dia pikir habislah sudah dirinya, kali ini dia hanya bisa pasrah jika laki-laki tersebut benar-benar mencekik lehernya saat ini juga.
"Kau memang pantas mati"
Jenderal Adalrich kembali bicara, mencoba semakin mengencangkan cengkraman nya ke antara dua kerah baju Mark, bisa dilihat bagaimana kini warna wajah Mark mulai berubah karena cengkraman tersebut kini perlahan berubah menjadi sebuah cekikan yang begitu mengerikan.
Mark merasa nafas nya kini semakin memberat dan pasokan oksigen nya semakin menipis, leher nya terasa begitu sakit bahkan urat-urat disepanjang permukaan wajah nya mulai keluar secara perlahan.
keringat membasahi wajah tersebut dan dia yakin sebentar lagi dia akan mati di cekik oleh laki-laki tersebut saat ini.
Dia tidak memiliki kemampuan untuk memberontak sebab sekuat apa dia mencoba lepas kekuatan nya tidak sebanding dengan sang jenderal saat ini.
Siapa yang tidak mengetahui kekuatan laki-laki tersebut?!.
Di Medan perang pun laki-laki itu bisa membunuh 100 musuh hanya dalam hitungan menit menggunakan tangan serta pistolnya, tidak pernah ada yang meragukan kekuatan laki-laki tersebut untuk menghabisi nyawa seseorang sesuai keinginan nya.
Dan Mark yakin ini akan menjadi akhir dari kehidupan nya, dia pasrah dan mulai kehilangan cara bernafas nya.
Namun siapa sangka sepersekian detik kemudian satu hal yang ada diluar dugaan nya terjadi.
Plakkkkkkk
Dia mendengar suara tamparan keras tepat di hadapan nya saat ini, laki-laki tersebut langsung membuka bola matanya dimana bisa dia rasakan cekikan dileher nya terlepas dengan sempurna.
"Apa kau sudah gila?"
Sebaris pertanyaan terdengar dari balik bibir indah seseorang.
Adalrich jelas membulatkan bola matanya masih dengan kemarahan yang membara.