
Kamar tidur utama Adalrich.
Adalrich menarik pelan nafasnya untuk beberapa waktu, sembari bola matanya terus menatap ke arah depan.
laki-laki tersebut terlihat duduk di atas kursi sofa yang menghadap tepat ke arah kasur dimana Adeline berbaring saat ini.
Seorang dokter laki-laki tampak fokus melakukan pemeriksaan terhadap istrinya tersebut, jangan ditanya bagaimana khawatirnya Adalrich saat ini.
Dia sama sekali tidak mau beranjak dari sana, mengabaikan ratusan panggilan yang diarahkan kepada dirinya, meskipun yang memanggil nya ajudan presiden sekalipun meskipun atas perintah sang presiden sendiri pun dia tidak akan pernah mau beranjak dari kamar tersebut.
Adalrich tidak akan menjadi tenang jika dia belum melihat istrinya terbangun dari pingsan nya saat ini.
dia tidak tahu apa yang telah dilakukan ibunya terhadap Adeline, yang dia tahu ketika dia datang mendekat wanita tua tersebut tiba-tiba menampar sang istrinya.
hal tersebut jelas membuat dirinya murka dan marah, jika bukan karena wanita itu berstatus sebagai ibunya mungkin dia telah mencekik leher wanita tersebut dan melepaskan jantungnya dari tempatnya.
namun karena status Alima adalah ibunya, maka Adalrich memutuskan untuk tidak melakukan hal tersebut dan hanya berusaha untuk memberikan peringatan.
Dia memejamkan sejenak bola mata untuk beberapa waktu, mencoba menetralisir emosi yang tidak ingin terkontrol sejak tadi, saat ini bisa dia rasakan betapa kemarahannya benar-benar membuncah.
dia pikir seharusnya tadi dia mengejar cepat langkah Adeline, tidak membiarkan perempuan tersebut bergerak lebih dulu dan tersesat entah menuju ke arah mana.
jika dia tahu ibunya akan datang ke kediamannya maka dia akan memastikan kedua orang tersebut tidak akan pernah bertemu untuk sementara waktu hingga dia memastikan jika Adeline telah siap untuk bertemu dengan siapapun nanti.
Adalrich akui ibu nya tidak pernah menyukai Adeline sejak pertama kali dia memperkenalkan perempuan tersebut dimasa lalu, perempuan pilihan ibunya jelas adalah Ilse Kock.
Kala itu dia hanya tertarik untuk menikahi Adeline secara siri, dia menyukai perempuan unik yang keras kepala tersebut dimana Adeline mampu membuat dia cukup tertarik pada sifat pemberontak nya, Adalrich menikmati keindahan wajah dan tubuh Adeline, bahkan sekali nya dia menikmati tubuh Adeline seolah-olah tubuh perempuan tersebut menjadi candu tersendiri untuk dirinya.
Dia menjanjikan pada ibu nya hanya Menikahi Adeline atas dasar untuk bersenang-senang, dan berjanji akan menikah dengan Ilse Kock setelah pencalonan presiden berikut nya selesai terjadi.
Pada tahun itu, mereka akan berganti kepemimpinan, satu mencoba mempertahankan tahta sedang kan satu pihak lain mencoba merebut tahta.
Peperangan sengit dalam pemilihan jelas memanas untuk waktu yang begitu lama, bahkan tanpa di duga satu skandal naik untuk menjatuhkan presiden bertahan kala itu yang adalah Paman dari Ilse Kock.
Begitu hari perhitungan suara berjalan skandal perselingkuhan merebak dan naik, seketika sang presiden bertahan hancur bersama karirnya.
Posisi pada saat itu berganti menjadi sang penguasa baru yang memimpin negara mereka.
Percayalah kala itu kekacauan besar terjadi, peperangan dan pertumpahan darah jelas tidak bisa di hindari.
Dan di posisi kala itu lah yang membuat dia mulai jatuh cinta kepada Adeline, dia baru tahu betapa pintarnya perempuan tersebut bahkan dikala peperangan di pertemuan daerah tumpang dan dia terluka, satu-satunya orang yang melindunginya bahkan menjadi Garda terdepan siap mati untuk dirinya adalah sang istri nya.
Adeline bahkan mengorbankan dirinya sendiri ketika Adalrich dituduh masuk sebagai salah satu pemberontak yang melawan presiden kala itu.
padahal Adalrich tidak pernah memilih untuk terlibat pada kubu manapun dalam pemilihan.
Untuk pertama kalinya Adalrich menyakini dirinya jika dia jatuh cinta pada Adeline.
Tapi pada saat itu juga kasus Adeline ikut mencuat dan dikatakan sebagai mata-mata dan pemberontak yang masuk untuk menggoda dirinya.
Kemenangan nya saat itu dia belum pernah memperkenalkan Adeline pada dunia, karena itu tidak ada yang benar-benar pernah melihat wajah asli Adeline hingga hari ini.
Banyak orang yang terlibat menghasut hubungan antara dirinya dan sang istri termasuk ibu nya dan Ilse Kock.
Dia khilaf dan gelap mata atas jebakan yang di ciptakan oleh ibu nya dan Ilse Kock, dimana dia pikir Adeline memanfaatkan nya dan berkhianat dibelakang nya untuk bisa lari terbebas dari nya dan meminta bercerai dari nya.
Hingga akhirnya malam kejadian mengerikan tersebut terjadi dan bayangkan bagaimana penyesalan Adalrich kala itu.
Adalrich seketika langsung bangun dari posisi duduknya saat dia melihat Mark telah selesai dalam proses pemeriksaan nya.
"Apa semua baik-baik saja?"
laki-laki tersebut bertanya sembari dia menatap wajah Mark yang kini berdiri tepat di hadapannya tersebut.
Yang ditanya terlihat mengangguk kan pelan kepalanya, dia langsung berkata.
"Seperti biasanya, nona Adeline terkena demam ketika masuk ke musim pendingin pertama sekali, suhu tubuh nya naik hingga 37 derajat lebih, sebaiknya para pelayan seperti biasa menyiapkan semua yang biasa Nona muda harus gunakan dan konsumsi di musim pendingin"
Mark tidak ingin bertele-tele untuk mendapatkan kondisi soal nona muda mereka, kondisi tubuh perempuan tersebut saat ini mengalami demam tinggi, dia tidak perlu terlalu panjang lebar untuk menjelaskan keadaannya Adeline, sebab laki-laki tersebut tahu betul jika tuan nya sudah tahu apa yang harus dilakukan pada sang istri nya jika perempuan itu terkena demam tinggi.
Adalrich terlihat diam, dia menoleh kearah Adeline sejenak kemudian kembali menatap kearah merk.
"Minta pelayan untuk menyiapkan semuanya"
itu adalah perintah mutlak yang diberikan laki-laki tersebut kepada Mark, mendapatkan perintah seperti itu seketika laki-laki tersebut akan menundukkan kepalanya, seolah-olah /laki-laki itu paham mereka tidak harus mengulur waktu untuk melakukan semuanya saat ini juga.
"Baik tuan"
setelah menjawab permintaan Adalrich, Mark langsung menundukkan kepala, dia bergerak menjauh dari Adalrich dan keluar dari dalam kamar tersebut dengan gerakan perlahan.
Tidak berapa lama beberapa pelayan terlihat bergerak dengan cepat masuk ke dalam kamar tersebut, beberapa orang terlihat sibuk dengan tugas mereka masing-masing, baik dari meletakkan beberapa makanan dan minuman hangat, mulai menyetel penghangat ruangan bahkan ada juga yang mengeluarkan beberapa kain selimut hangat untuk sang nona dimana kain-kain tersebut memang telah disiapkan sejak bertahun-tahun yang lalu.
setelah semua orang menyelesaikan tugas mereka, dengan cepat mereka menundukkan kepala mereka ke depan Adalrich lantas tanpa menunggu perintah para pelayan tersebut langsung keluar dan menutup pintu kamar sang tuan nya.
Adalrick berjalan perlahan mendekati tubuh Adeline yang masih terlelap didalam tidurnya, dia mulai duduk tepat disamping perempuan tersebut dan membiarkan telapak tangan nya secara perlahan menyentuh lembut wajah cantik perempuan tersebut.
Tidak terdengar suara apapun untuk waktu yang cukup lama di antara mereka, hingga akhirnya tiba-tiba laki-laki tersebut menundukkan sedikit tubuhnya, secara perlahan laki-laki itu mencium lembut bibir Adeline sembari dia memejamkan bola matanya.
Terlihat jelas laki-laki tersebut mengeluarkan air matanya.
*****
Akan ada satu masa,
dimana keangkuhan yang tinggi akan tenggelam karena sebuah penyesalan,
Meskipun aku meminta maaf atas kepongahan yang khilaf,
kau tidak akan pernah lagi mengulurkan maaf.
Adalrich Ben Petra.