King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 36 A & A



Adeline seketika membulatkan bola matanya ketika tiba-tiba seseorang laki-laki tidak di kenal nya bergerak mendekati nya dengan cepat, kemudian tiba-tiba saja tangan laki-laki tersebut menyentuh pipi sebelah kirinya dengan gerakan perlahan.


tidak tahu kenapa secara refleks perempuan tersebut langsung menangkis pergelangan tangan laki-laki yang ada dihadapan nya saat ini dengan cepat.


meskipun dia tidak pernah menyukai Adalrich sejak di mulai dia bangun dari tidur nya hingga malam ini, tapi sentuhan tangan Adalrich terasa berbeda dan begitu tidak asing untuk nya, tangan laki-laki tersebut seolah-olah memang terasa hangat dan membuat nya merindukan dan mengingat satu suasana yang tidak bisa dia pahami.


Mungkin ada hubungannya dengan masa lalu.


Tapi mendapati laki-laki dihadapan nya tersebut menyentuh lembut pipinya tadi seketika hati Adeline menolaknya mentah-mentah, seolah-olah dia merasakan sentuhan tersebut akan menjadi ancaman tersendiri untuk dirinya.


Seakan-akan ada aura jahat yang membuat dia tidak nyaman di sentuh dan ditatap oleh laki-laki dihadapan nya tersebut.


Dia menepis kasar dengan laki-laki itu sembari berkata,


"Jangan menyentuh ku"


Gerakan refleks dan kata-kata yang dia keluarkan secara tiba-tiba membuat laki-laki yang ada di hadapan Adeline langsung terbelalak kaget.


Adalrich yang melihat Leonard mendekati Adeline dan berlaku tidak sopan seketika langsung bergerak mendekati kedua orang tersebut dan menggendong kembali Chaddrick kecil ke pelukan nya.


"Adeline?"


Leonard tercekat.


"Kau siapa? berani sekali menyentuh ku tanpa izin?"


Seketika wajah Adeline memerah, bukan karena malu tapi karena dia marah saat laki-laki asing yang sama sekali tidak dikenal tiba-tiba menyentuhnya tanpa izin darinya.


Adeline menyusuri wajah dan penampilan laki-laki yang ada di hadapannya, dia pikir pakaian yang digunakan laki-laki tersebut sama seperti pakaian Adalrich, mereka sama-sama bertugas di kamp militer.


Jika Adalrich adalah seorang jenderal, maka Adeline pikir bisa jadi laki-laki tersebut bawahan nya.


"Apa kamu tidak belajar sopan santun?"


Kata-kata Adeline kembali memecah keadaan.


"Adeline, apa yang terjadi pada mu?"


Leonard jelas bertanya bingung, dia mencoba untuk menahan perasaan yang bergejolak di hati nya saat dia mendengar ucapan Adeline yang terdengar begitu ketus dan dingin, bahkan sorot mata perempuan tersebut tidak lagi dia kenal saat ini.


Kau sebenarnya siapa?!.


Tiba-tiba Leonard meragukan penglihatan nya, dia pikir apa mungkin dia salah orang?!.


"Tidak bisakah kamu menjaga etika mu ada seorang perempuan, letnan?"


Adalrich bertanya sembari menaikkan ujung alisnya, dia menatap tajam kearah Leonard semua lebih berkata kau berada pada posisi yang salah juga berada di tempat yang salah serta berhadapan dengan orang yang salah.


Mendengar ucapan sang jenderal, Leonard jelas mencoba menahan perasaan marah nya didalam hati.


"Aku pikir dia..."


Laki-laki tersebut menggantung kalimat nya.


"Siapa?"


Adalrich bertanya sembari menaikkan ujung alisnya, dia pikir Leonard memang tidak memiliki urat malu dari dulu hingga sekarang, jika bukan karena dia satu tingkat dibawah nya dan menjadi orang yang cukup dipercaya di istana, dia sudah memastikan jika dia akan mematahkan tangan Leonard karena tadi berani menyentuh istri nya.


"Apa Begitu cara mu bicara kepada atasanmu?"


Adalrich bertanya sembari kembali menaikkan ujung alis nya.


Ucapan Adalrich seketika membuat Leonard mencoba mengehela kasar nafasnya, pada akhirnya laki-laki tersebut memberikan hormat nya, menaikkan tangan kanan nya ke depan kening nya.


"Maaf aku salah melihat orang, jenderal"


Tegas nya cepat.


secara jujur Adalrich masih ingin membuat perhitungan kepada laki-laki dihadapan nya itu, bayangkan bagaimana kemarahannya saat ini ketika dia melihat dengan lancarnya telapak tangan laki-laki tersebut menyentuh pipi milik istrinya.


orang-orang jelas tahu bagaimana watak Adalrich, laki-laki itu tidak suka segala sesuatu miliknya disentuh atau bahkan diinginkan oleh orang lain, dia jelas tidak segan untuk menghancurkan tangan siapapun yang berani menyentuh barang-barang milik nya termasuk anak dan istrinya.


Leonard benar-benar hampir membuat batas kesabaran nya menghilang makam ini.


"Ayah biarkan aku dan ibu pergi dari sini"


putranya berkata dengan cepat, menyentuh wajah Adalrich kemudian langsung menoleh kearah Adeline.


"Bibi ayo gendong aku dan kita pergi dari sini"


Bocah kecil tersebut seolah-olah paham dengan keadaan saat ini, daripada membuat pemicu satu peperangan di dalam gedung tersebut Chaddrick kecil pikir lebih baik dia mengalihkan dunia kedua laki-laki keras kepala tersebut dari ibunya dengan cepat.


Adalrich sejenak diam, dia kemudian melirik kearah Adeline, sang istri nya jelas merasa cukup tidak nyaman dengan keadaan saat ini.


"Minta maaf pada nona Anastasia, setelah itu kamu boleh pergi dan jangan pernah mengganggu nya lagi"


Ucap Adalrich cepat.


mendengar ucapan laki-laki yang ada dihadapan nya seketika membuat Leonard mengurutkan keningnya.


Apa? Anastasia?!.


otak laki-laki tersebut seketika buntung saat dia mendengar nama berbeda yang disebutkan Adalrich kepada Adeline, dia pikir apa laki-laki tersebut tengah bercanda dengannya.


"Siapa?'


Dia bertanya dengan nada sedikit tercekat.


"Dia adalah putri dari tuan George, aku harap setelah kejadian ini, ketika kau bertemu dengannya lagi nanti bersikap lah sopan dan lebih tahu diri"


ucapkan pedas dari Adalrich jelas membuat Leonard mengeram kesal, namun aneh-aneh peduli dengan kekesalannya laki-laki tersebut jelas lebih mempedulikan rasa bingung nya saat ini sembari menoleh ke arah Adaline.


Anastasia, putri wakil presiden?!.


Itu jelas membuat dia cukup membeku ditempat nya, dia menatap dalam wajah Adeline Sembari memasang sejuta tanda tanya.


Apa kau sedang bermain sandiwara?!.


dia bertanya sembari menatap bola mata Adeline, sebab sebelumnya di masa lalu Adelin selalu bisa membaca arti dari tatapan bola matanya, karena itu laki-laki tersebut mencoba bertanya melalui gerakan matanya.


Dia berharap mendapatkan jawaban sesuai yang dia inginkan dari sosok perempuan yang ada di hadapannya tersebut, namun alih-alih mendapatkan jawaban yang diharapkan, Adeline sama sekali tidak menampilkan jawaban dari bola matanya.


bahkan perempuan tersebut mencoba membuang pandangannya dari Leonard.


Ada apa dengan mu, Adeline?.


laki-laki tersebut seketika menelan salivanya dengan jutaan tanda tanya, sejenak Leonard ingin mencoba untuk bicara tapi tiba-tiba satu suara dari atas panggung mengejutkan semua orang termasuk dirinya.


"Hmmm malam ini aku akan mengumumkan berita bahagia lainnya"


semua bola mata langsung tertuju menuju ke arah atas panggung, tanpa terkecuali Leonard, Adalrich dan Adeline.


Itu adalah tuan George, laki-laki tersebut terlihat berdiri tepat di atas panggung sembari laki-laki tersebut memegang sebuah pengeras suara di tangan kanannya.


"malam ini kami akan mengumumkan soal rencana pernikahan antara putri kami dan putra dari keluarga Petra"


Lanjut laki-laki tersebut lagi.


Apa?!.


Leonard seketika membulatkan bola mata.


Apa?!.


"Anastasia, kemarilah sayang"


tiba-tiba tuan George bicara sembari menatap ke arah Adeline, dia mengulurkan telapak tangannya dan menunggu perempuan yang dia katakan sebagai Putri nya tersebut agar naik ke atas panggung.


"Ya?"


Adeline jelas terkejut, dia mengedipkan bola mata nya Beberapa kali saat dia sadar kini ada banyak cahaya kamera yang menembak Kearah dirinya.


Apa?!.


Adeline masih bertanya bingung didalam hati nya, Sembari Chaddrick kecil secara perlahan terus menarik-narik gaun Adeline di mana dia masih berada di Gendongan ayah nya, bocah laki-laki tersebut menunggu ibu nya menggendong nya agar membawa dirinya ikut serta naik ke atas panggung sembari bocah tersebut mengembangkan senyuman terbaik nya.