
Musim dingin
Tokyo
Japan.
Adeline terlihat berlarian mengejar langkah chadrick kecil disepanjang halaman kediaman sementara mereka di Jepang, di setiap sudut kediaman di mana mereka tinggal tanpa para pengawal berjaga untuk keselamatan keluarga Adalrich.
suara tawa dari chadrick kecil terus terdengar menggema di sepanjang tempat tersebut diiringi tawa Adeline yang terus mengejar putra kesayangannya tersebut dalam permainan yang mereka ciptakan di bawah mungkin salju secara perlahan di kota Tokyo Jepang.
mereka mengambil liburan bersama dan melepaskan rasa pena atas kesibukannya terus dilakukan oleh Adalrich untuk waktu yang begitu lama. kebahagiaan jelas terlintas dibalik wajah ibu dan putranya tersebut di mana mereka terus bermain di bawah guyuran salju yang masih belum terlalu tebal tersebut.
pakaian mantel musim dingin yang terbuat dari benang wol menghiasi tubuh kedua orang tersebut di mana bahkan mereka menggunakan topi untuk melindungi kepala mereka dari udara dingin atas musim salju di Tokyo Jepang itu.
Di ujung sana bisa dilihat Adalrich mulai melangkah berjalan mendekati putra dan juga istrinya tersebut dengan langkah pasti, bisa dilihat seolah senyuman penuh kebahagiaan tanpa dibalik wajah laki-laki tersebut di mana dia terus melangkah mendekati dua orang paling penting di dalam hidupnya itu.
begitu dia melangkah mendekati kedua orang tersebut tiba-tiba saja putranya berhamburan langsung berlarian memeluk dirinya tanpa ada jeda rem nya, hal tersebut sontak membuat laki-laki itu cukup terkejut dan langsung merentangkan tangannya kemudian menyambar tubuh kecil chadrick yang memeluk dirinya secara spontan.
mereka jatuh ke lantai yang dipenuhi oleh salju dengan tawa bahagia, membuat kedua orang tersebut tertawa terbahak-bahak diikuti oleh Adelin yang pada akhirnya bergabung tenggelam ke dalam pelukan sang suaminya.
kebahagiaan terlihat jelas di balik wajah ketiga orang tersebut, tidak ada yang mampu menghalangi kebahagiaan mereka pada hari ini karena rasa yang tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata di mana setelah sekian lama mereka melewati ujian yang begitu berat berpisah selama bertahun-tahun hingga akhirnya mereka dipertemukan dalam cinta dan juga dalam suasana keluarga yang jelas membuat iri semua orang yang melihatnya.
"Oh sayang kalian menindih ku" Adalrich bicara sebari terus memeluk chadrick kecil, dan kemudian dia memeluk erat tubuh istrinya sembari mencium puncak kepala Adeline yang ikut memeluk dirinya saat ini.
"He em, katakan pada ayah ada apa sayang?" Adalrich bertanya pada putranya sembari dia secara perlahan mencoba untuk duduk dari posisinya diikuti oleh Adeline dan dia memangku putranya tersebut secara perlahan.
"katakan padaku kenapa beberapa teman-temanku memiliki adik? lalu kenapa aku tidak memilikinya sama sekali?" dan tiba-tiba saja pertanyaan dari bocah kecil itu mengejutkan kedua orang tersebut.
Adeline dan Adalrich seketika langsung saling menoleh antara satu dengan yang lainnya dan seolah-olah mereka sedikit bingung menjawab atas apa yang dipertanyakan oleh putra mereka tersebut.
"Oh sayang, apakah kamu ingin memiliki seorang adik?" dan pada akhirnya laki-laki itu bertanya kepada putranya.
Chadrick kecil jelas saja langsung menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Kalau begitu katakan pada ibu, agar dia mau mengabulkan keinginanmu untuk memiliki adik kecil" Dan Adalrich menjawab ucapan putranya sembari melirik ke arah istrinya sambil mengulum senyumannya.
mendengar ucapan suaminya seketika membuat perempuan itu memunyungkan bibirnya.
Dasar.
seketika wajah Adeline memerah karena ucapan dari sang suaminya.
"Sayang bagaimana jika malam ini kita membuat adik kecil untuk Chadrick?" dan lagi-lagi laki-laki itu menggoda dirinya.
"Ckckckck dasar" Seketika wajah Adeline semakin memerah.