
Jantung Anta masih berdetak begitu kencang saat Enardo baru saja melepas kan ciuman hangatnya, bola mata gadis itu menatap wajah Enardo, seketika terasa darahnya naik semua me ubun-ubun dan rasa malu jelas tampak terlihat di balik wajahnya.
Secepat kilat Anta membenamkan wajahnya di dalam bantal, membalikkan tubuhnya dengan gerakan cepat, Anta langsung memejamkan bola matanya dan pura-pura untuk mendapat kan istirahat nya kembali, padahal realita nya dia sama sekali tidak bisa melanjutkan tidurnya.
Enardo terkekeh kecil melihat tingkah Anta, dia langsung berbaring di samping Anta yang memunggungi dirinya, secara lembut laki-laki itu memeluk erat tubuh Anta dari belakang.
Bisa dibayangkan seberapa kencang detak jantung nya kali ini? sangat... sangat.. kencang sekali.
"Katakan pada ku, tempat mana yang ingin kamu jadikan tempat berlibur paling favorit mu"
Ucap Enardo pelan di balik Tengkuk Anta, dia mencium tengkuk anta lembut berkali-kali.
Seketika Anta membuka bola matanya.
"Kenapa?"
Tiba-tiba anta menjawab dengan nada yang begitu pelan.
"Mari mengambil liburan untuk beberapa hari"
"Ya?"
Anta buru-buru membalikkan tubuhnya,Wajah Mereka nyaris tidak memiliki jarak dan bola mata mereka saling menatap antara satu dengan yang lain nya.
"Aku sudah membicarakan nya dengan Mommy"
Ucap Enardo lagi.
Sejenak Anta tampak berfikir, dia menggigit pelan bibirnya.
"Jika kamu tidak menginginkan nya, bukan masalah"
Enardo bicara lantas meraih tubuh Anta, membiarkan gadis itu kembali masuk ke dalam pelukan nya.
"Kita bisa mencari waktu lain setelah ka..."
Belum sempat Enardo menyelesaikan kata-katanya, Anta langsung memotong ucapan Enardo.
"Indonesia, aku ingin pergi ke sana sejak lama"
Jawab Anta cepat sambil mendongak, menatap dalam wajah Enardo.
"Ya?"
Sejenak Enardo terkejut.
"Mari berlibur ke Indonesia bersama"
Ucap Anta lagi.
Seketika wajah Enardo berubah cerah, dia tersenyum senang lantas mengangguk dengan cepat.
"Yakin ke sana?"
Enardo mencoba bertanya ulang, menyakinkan diri Anta agar tidak mengubah keputusan nya.
Anta buru-buru mengangguk.
"He em"
"Itu negara yang indah, beberapa keluarga besar sering hilir mudik kesana"
"Kita akan kesana setelah mengunjungi Zaffa besok di rumah sakit"
"Ya?"
Buru-buru anta mengerutkan keningnya, menatap wajah Enardo dengan jutaan tanda tanya.
Cukup kaget saat Enardo bicara soal rumah sakit.
"Ada apa dengan kak Zaffa?"
Tanyanya sedikit panik.
"Dia baru menyelesaikan jadwal operasi nya, Semua keluarga juga baru tahu"
Ucap Enardo cepat.
Sejenak Anta menaikkan ujung alisnya.
"Benarkah? kenapa kakak tidak bilang pada ku?"
Anta fikir dia sama sekali belum mendapatkan informasi nya dari kak Zaffa nya ataupun darj Aida.
"Bagaimana dengan pendonor nya? apakah sudah menemukan kakak perempuan ke dua ku?"
Tanya Anta cepat.
Saat Anta menanyakan itu, kali ini gantian Enardo yang mengerutkan keningnya.
"Bukan kah kamu sudah bertemu kakak perempuan mu?"
Tanya nya sedikit bingung ke arah Anta.
"Ya?"
Anta jelas tidak mengerti dengan ucapan Enardo.
"Bukankah kami beberapa kali mengunjungi kakak perempuan mu di rumah Arash?"
"A..pa?"
Jelas saja Anta terkejut mendengar ucapan Enardo.
"Arash?"
Enardo mengangguk pelan.
"Istri Arash adalah kakak perempuan ke dua mu, Anta"
Ucap Enardo cepat.
"Apa?"
Seketika Anta membeku saat mendengar ucapan Enardo.
Bagaimana mungkin?
Dia jelas tidak tahu soal itu sama sekali.