
Dua sosok manusia itu tampak duduk berselonjor kaki menghadap sungai Seine, menikmati udara musim semi sambil mengunyah beberapa cemilan yang ada di samping mereka.
Laki-laki disamping anta tampak menoleh ke arah anta beberapa waktu, dia mengulum senyum kemudian kembali menatap ke arah depan.
"Apakah ada hal buruk yang terjadi?"
Tanya laki-laki itu cepat.
Anta sejenak diam, jemari indah nya masih terus merogoh bungkusan makanan ringan yang ada di hadapannya, bibir dan mulut nya masih sibuk mengunyah dan menikmati makanan ringan kesukaan nya itu.
"Kau tahu sayang?"
Laki-laki itu mulai bicara, seolah tahu apa yang terjadi pada anta, bola mata nya masih menatap air yang mengalir tenang di tepian sungai Seine itu.
"Di dunia ini tidak ada orang yang tidak punya masalah. Setiap orang pasti mempunyai masalahnya masing-masing; apakah dia orang kaya, apalagi orang miskin; apakah dia orang yang mempunyai pangkat/ kedudukan ataupun orang yang biasa; apakah dia anak-anak, remaja, dewasa, kakek ataupun nenek; apakah dia seorang bujangan ataupun yang sudah berkeluarga; apakah dia pedagang atau pengusaha ataupun karyawan; semuanya mempunyai masalah, bahkan para bhikkhu dan kiai pun masih mempunyai masalah, jangan dikira bahwa para bhikkhu dan kiai tidak mempunyai masalah, mereka juga mempunyai masalah dan sama hanya manusia biasa seperti kita"
Laki-laki itu tersenyum sejenak melirik ke arah Anta, gadis itu menghentikan gerakan tangannya, menoleh ke arah laki-laki itu.
"Ayo kita menikah"
Ucap anta tiba-tiba.
"Bukankah dulu kamu bilang, setelah aku siap kamu akan kembali melamar ku? kali ini aku siap, ayo kita menikah, Seine"
Anta bicara cepat sambil terus menelisik bola mata laki-laki yang dia panggil Seine itu.
Alih-alih menjawab, Seine malah melepaskan pandangannya dari Anta, bola matanya kembali menatap ke depan.
"Dan ketika masalah datang, yang jadi pertanyaan besar adalah Bagaimana cara menyelesaikan masalah nya? Untuk menyelesaikan masalah kita harus mempunyai pengendalian diri, mengurangi/memperkecil ***** keinginan, mengendalikan pikiran, mempunyai kesabaran dan toleransi, bertindak bijaksana, harus mengerti bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak ada yang kekal, semuanya pasti akan berlalu sesuai dengan waktu."
Seine kembali bicara tanpa menoleh ke arah Anta.
"Kamu sudah tidak mencintai aku lagi?"
Tanya Anta tiba-tiba.
Seine menoleh ke arah Anta, menatap dalam bola mata Anta.
"Ada pepatah Tionghoa yang berbunyi: “Kalau ada masalah besar, jadikan menjadi kecil; kalau ada masalah kecil, jadikan supaya tidak ada masalah.”
"Seine?"
"Kamu meminta aku menikahi mu karena tengah di Landa masalah, tidak ada bola mata penuh cinta, tidak ada perasaan menggebu karena cinta, tidak ada kerinduan, tidak ada kebahagiaan"
Ucap Seine cepat.
"Kali kemarin adalah lamaran ke tiga ku pada mu, setelah itu aku berfikir cukup lama, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk mencintai kita bukan? Maafkan aku Anta, aku tidak bisa menikahi mu lagi saat ini, aku sudah menerima tawaran Daddy Ibra untuk menikah dengan putri sahabat nya"
Seketika perasaan sakit menggelayut di dada Anta, hatinya tiba-tiba saja terasa begitu sakit, bola mata nya tiba-tiba berkaca-kaca, ada rasa kecewa, sedih, marah dan kesal disana.
Berapa lama laki-laki dihadapannya itu menunggu diri nya? sejak dia masih Di SMP hingga ulang tahun Anta tahun Kemarin, 3 kali lamaran yang Seine berikan 3 kali anta menolak nya karena dia meragukan perasaan nya pada enardo.
Realita nya hari ini, saat semua orang meminta dia dan enardo menikah, dia yang nekat melamar Seine tapi laki-laki itu telah membuat pilihan besar.
"Kamu mencintai gadis itu?"
Tanya Anta dengan nada tercekat.
Seine mengembangkan senyuman terbaiknya.
"Setelah berfikir cukup lama, mendewakan diri dengan Realita, aku tahu pada akhirnya Menikah karena Cinta, Rentan Tidak Bahagia"
Seketika Anta menelan salivanya.
"Perempuan yang menikah dengan pasangannya tanpa landasan cinta yang kuat dianggap manipulatif, oportunistis, dipandang rendah, dan dicap sebagai pengeruk harta. Tetapi, tidak selamanya ini benar!"
Ucap Seine lantas membuang kembali pandangan nya.
"Memang benar bahwa cinta tidak pernah salah, kekuatan cinta mengalahkan segalanya, dan cinta merupakan simbol kebahagiaan. Namun, dunia tidak berjalan dengan prinsip yang sama. Singkatnya, tidak ada makan siang yang gratis"
"Memutuskan menikah dengan seseorang yang Anda percaya dapat mengubah hidup jadi lebih baik, bukan sesuatu yang salah, selama tidak merugikan orang lain. Menikahlah demi kehidupan yang lebih berkualitas untuk anak supaya mereka memperoleh pendidikan yang layak, kamar yang nyaman untuk belajar, dan memori masa kecil yang berkesan. Ini bukan perilaku materialistis, tetapi realistis!"
"alasan mengapa menikah karena cinta bukan pilihan yang bijak dan rentan berakhir dengan perceraian"
"Sebab cinta itu rapuh, kita bertemu dirinya, tertarik dan boom... jatuh cinta! kita pikir ini sudah suratan, akhir bahagia yang telah lama dinantikan. Namun ingat, menikah adalah komitmen seumur hidup, yang dibutuhkan sudah pasti lebih dari sekadar cinta, tetapi juga pemikiran yang jauh ke depan"
"Cinta tidak selalu menjadi fondasi kuat pernikahan.Ya, cinta memang kuat, tetapi semakin besar cinta kita, semakin besar juga potensinya untuk menguap dan hilang. Cinta berarti harapan, saat harapan ini tidak terpenuhi, rasa kecewa yang kita rasakan akan lebih menyakitkan. Dan, saat ini semua terjadi, penyesalannya lebih dalam dari cinta itu sendiri"
"Dan Cinta tidak selalu harus melakukan apa pun untuk pasangan, Ketika kita mencintai seseorang, keinginan membahagiakan dirinya adalah efek domino yang berbahaya. Ya, dengan begitu, kita akan melupakan diri sendiri karena hidup kita hanya berpusat pada pasangan. Padahal, pernikahan yang sebenarnya memerlukan upaya dan kerja keras yang sepadan dari suami dan istri, kerja sama yang mustahil dilakukan apabila cinta memberatkan salah satu pihak"
Anta tampak menggigit bibir bawahnya.
"Pulang dan menikahlah dengan enardo, aku tahu betul laki-laki itu, sesungguhnya laki-laki itu tidak menyadari perasaan nya sendirian antara kamu dan zaffa"
Seine menoleh kembali kea arah Anta.
"Dia tidak menyadari nya karena dia hanya terbiasa bersama zaffa, dan terus berusaha mengalihkan pandangannya dari dirimu, Realita nya Zaffa terus bergantung dengan nya, sedangkan enardo sesungguhnya mengingin kan kamu"
Ucap Seine cepat sambil menatap dalam bola mata Anta.
"Kalian saling membuang perasaan menjadi rasa benci yang mendalam"
"Seine..."