
Arash jelas tampak panik saat melihat zehra tiba-tiba jatuh pingsan, secepat kilat dia menyambar tubuh zehra.
"Sayang, bisa kamu mendengar kan aku?"
Tanya Arash panik, mencoba menepuk-nepuk lembut pipi zehra.
"Aku fikir sebaiknya kamu menghubungi dokter, Arash"
Lana Lan bicara cepat ke arah Arash.
Mendengar kata-kata Lana Lan Arash secepat kilat mengangkat tubuh zehra lantas membawanya ke kamar mereka.
Kemudian dengan penuh ke panikan Arash mencoba menghubungi seseorang dari handphone nya.
"aku bilang, sekarang"
Teriak Arash dari balik handphone nya beberapa waktu kemudian.
Setelah itu dengan cepat dia membanting kasar handphonenya kesembarang arah.
Brakkk
"Arash kendalikan emosi mu"
Lana Lan berusaha mengingat kan saudaranya itu.
"Dia belum pernah jatuh pingsan sebelum nya, dia baik-baik saja sebelum ini, aku takut sesuatu yang buruk terjadi pada nya"
Ucap Arash panik, menatap wajah Lana Lan beberapa waktu.
"Ini akan baik-baik saja"
Lana Lan Menyentuh pelan punggung Arash.
"Jangan kehilangan akal waras mu, Zehra pasti tidak suka jika kamu bersikap kasar"
Mendengar ucapan Lana Lan, Arash tampak terdiam.
Cukup lama mereka menunggu dokter yang memeriksa Zehra, hingga akhirnya tampak seorang perempuan melesat masuk ke dalam mansion Arash dengan langkah terburu-buru.
"Dimana dia?"
Tanya perempuan berusia sekitar 35 tahunan itu ke arah Arash.
Dengan cepat Arash membawa perempuan itu masuk ke kamar mereka, menuggu dia memeriksa Zehra selama beberapa waktu.
"Bisa tinggal kan kami sebentar?"
Tanya perempuan itu pelan.
Arash terus mengusap kasar wajahnya dalam beberapa waktu, dia berjalan hilir mudik sejak tadi diliputi perasaan yang begitu kacau balau. Daddy Arash tampak diam, bola matanya terus memperhatikan laki-laki di hadapannya itu dalam waktu yang cukup lama.
Lana Lan jelas ikut berada di dalam sejak tadi mencoba terus berada di sisi zehra untuk mengetahui keadaan zehra.
Cukup lama hingga akhirnya dokter perempuan itu keluar dari sana.
"Bagaimana?"
Arash berta dengan tidak sabaran.
Yang ditanya tampak mengembangkan senyumannya, dia mencoba mencatat beberapa resep lantas memberikan nya pada Arash.
"Istri mu tampaknya kelelahan, tubuhnya cukup tidak seimbang, seperti nya belakangan ini pola tidurnya juga kurang baik, sebaiknya jangan lupa terus mengkonsumsi buah-buahan sehat dan bantu jaga pola makan nya"
mendengar ucapan perempuan itu, Arash akhirnya hanya bisa mengangguk-angguk kan kepalanya.
"Dan jangan terlalu kasar saat berhubungan, juga usahakan agar tidak membuat stress istri mu, Arash"
Saat dokter perempuan itu berkata begitu, seketika Arash menaikkan alisnya.
"Ya?"
"Usia kandungan nya masih terlalu dini,pastikan istri mu mendapatkan istirahat yang cukup, jangan melakukan perjalanan jauh dan juga jangan melakukan pendonoran tulang sumsum belakang, itu akan berakibat fatal untuk janin nya"
Lanjut perempuan itu lagi.
"Bagaimana?maksud nya?"
Arash masih mencoba mencerna kata-kata dokter muda tersebut.
"Istri mu hamil sayang"
Lana Lan bicara cepat,kemudian mendekati arash sambil menepuk-nepuk lembut punggung Arash.
"Kelahiran nya tidak akan jauh berbeda degan anak ku, mereka bisa jadi cukup dekat nanti"
Lana Lan bicara dengan nada antusias, dia mengulum senyuman sambil mencoba menyentuh lembut perutnya sendiri.
Seketika Arash membeku sejenak, sepersekian detik kemudian dengan gerakan cepat dia masuk ke dalam kamar, mendekati zehra dengan berjuta perasaan yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata.
Zehra tampak masih tertidur pulas di atas kasur mereka, wajah pucat nya terlihat begitu cantik di mata Arash.
Seketika Arash duduk di samping zehra, dia menatap dalam wajah itu, lantas secara perlahan Arash melesat kan ciuman nya ke bibir sang istri.
"Terimakasih banyak sayang"
Bisik Arash Pelan sambil menggenggam erat telapak tangan Zehra.