
Sejenak Anta terkejut saat Enardo tiba-tiba sudah ada dibelakang punggung nya, gadis itu fokus mendengarkan lagu dari balik headset nya sambil berguling di atas kasur, perjalanan panjang Prancis-indonesia jelas memakan waktu yang lama menurut Enardo, tidak heran laki-laki itu tahu, sebab Enardo pernah melakukan perjalanan ke Indonesia untuk beberapa waktu.
"Mendengar kan lagu apa?"
Tanya Enardo pelan.
Anta langsung membalikkan tubuhnya, menoleh ke arah Enardo sambil melepaskan satu headset nya.
"Aku suka lagu lawas, terdengar begitu menyenangkan"
Anta bicara sambil meletakkan headset itu ke telinga Enardo.
"Hmm memang terdengar menyenangkan"
Ucap Enardo lantas mencoba mendengar kan lagu yang tengah di dengar kan oleh Anta.
Sejenak mereka saling diam, menghayati lagu yang mereka dengar untuk beberapa waktu, laki-laki itu memejamkan bola matanya sejenak.
Anta tampak menelisik wajah Enardo dalam waktu yang cukup lama, dia fikir ini kali pertama dia kembali menelisik wajah laki-laki itu setelah sekian tahun berlalu.
Dulu Anta sering melakukannya, menatap dalam wajah dan bola mata indah itu, menyentuh dengan penuh cinta laki-laki itu, namun semuanya berakhir saat Daddynya memutus segala sesuatu sesuai kemauan Daddy nya.
"Ingin makan sesuatu."
Tanya Enardo tiba-tiba, laki-laki itu membuka bola matanya, menoleh cepat ke arah Anta.
Sejenak Anta jadi salah tingkah, membuang pandangannya Dengan cepat, merasa cukup malu karena kepergok menatap wajah Enardo dalam waktu yang begitu lama.
"Anta.."
Ucap Enardo di balik telinga nya.
"Aku belum begitu lapar kok"
Jawab anta cepat sambil menoleh sejenak ke arah Enardo.
Tapi tiba-tiba dalam Sepersekian detik kemudian tangan Enardo menyentuh lembut pipi hingga telinga Anta, bola mata laki-laki itu menatap dalam wajah Anta.
"Jika aku meminta hak ku sekarang, apa kamu mengizinkan nya?"
Tanya Enardo pelan ke arah Anta, menatap dalam bola mata Anta dalam waktu yang cukup lama.
Sejenak Anta membeku, dia menelan Saliva nya beberapa waktu, bola mata gadis itu terus mencoba menatap Enardo untuk beberapa waktu.
Melihat reaksi Anta yang begitu panik dan seperti tidak siap, Enardo tampak langsung mengembangkan senyuman, laki-laki itu mengelus lembut wajah Anta.
Ucap Enardo lantas mencium lembut kening Anta.
"Istirahat lah, perjalanan kita masih sangat panjang hmm"
Enardo masih mengelus lembut wajah Anta, memasuki gadis itu kedalam pelukannya.
"Enardo, aku"
Anta bicara pelan sambil berusaha untuk melepaskan pelukan Enardo dari diri nya.
"Kenapa?"
Enardo bicara sambil mengendurkan pelukan nya, menatap dalam bola mata Anta untuk beberapa waktu.
"Apa Merasa pusing?"
Tanya laki-laki itu cepat.
Anta buru-buru menggeleng.
"Mari mencobanya"
Ucap Anta pelan dengan wajah yang tiba-tiba memerah, gadis itu langsung masuk kembali ke dalam pelukan Enardo dengan wajah memerah.
"Ya?"
Enardo mencoba mencerna ucapan Anta, seketika laki-laki itu mengulum senyuman nya, secepat kilat Enardo meraih kedua belah pipi Anta, membiarkan bola mata mereka bertemu cukup lama.
"Yakin?"
Tanya Enardo pelan.
"Aku ingin semua dilakukan dari hati, bukan karena rasa terpaksa hmm?"
Anta mengangguk kan pelan kepalanya.
"Aku tidak merasa terpaksa"
Ucap Anta pelan.
Seketika Enardo melebar kan senyuman nya, sepersekian detik kemudian secara perlahan laki-laki itu menautkan bibir mereka, mengikis jarak yang selama ini ada dan mencoba menciptakan perasaan baru yang penuh dengan cinta.
Tautan itu bergerak secara lembut dan hangat, begitu dalam dan penuh cinta, Hingga akhirnya tautan bibir mereka mulai berubah menjadi sesuatu yang panas membara memenuhi satu ruang kamar didalam sana.