King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 8 A & A



Tunggu dulu, apa kata nya tadi? suami istri? siapa? aku dan dia?!.


Adeline jelas gelagapan.


"Kita?"


Adeline bertanya sambil mengarahkan jari tangan nya secara bergantian kearah dirinya sendiri dan ke arah Adalrich.


laki-laki dihadapan nya tersebut sejenak menampilkan ekspresi yang sangat sulit sekali untuk dijelaskan, kemudian dia mengganggukan kepalanya secara perlahan, bola mata Adalrich menatap dalam wajah Adeline.


"He em"


Ucap laki-laki itu pelan.


Sesuai dugaan.


pikir Adeline.


"Kau pasti bercanda"


Perempuan itu bicara dengan suara sedikit meninggi, dia memperhatikan wajah Adalrich untuk beberapa waktu, menelisik wajah laki-laki tersebut dengan seksama.


Tidak bisa dia bayangkan bagaimana bisa dulu dia menikah dengan laki-laki bertampang seram dihadapan nya itu, meskipun tidak dia pungkiri Adalrich tampan dan kharismatik tapi saat dia melihat seragam mengerikan, senjata yang selalu dibawa kemana-mana bahkan perlakuan mengerikan laki-laki tersebut pada dokter di rumah sakit dimana dia dirawat kemarin seketika membuat Adeline bergidik ngeri.


Dia pikir dia pasti sudah gila di masa lalu tertarik menikah dengan laki-laki mengerikan itu.


Belum lagi teriakan suara laki-laki tersebut yang mampu memecahkan penjuru langit, dimana saat laki-laki itu berteriak kemarin membuat semua orang yang mendengar nya seketika bergidik ngeri seolah-olah suara laki-laki tersebut mengalahkan suara burung hantu raja mitos di malam hari.


bisa dibayangkan bagaimana burung hantu tersebut, selain mempunyai nama yang seram, muka yang mengerikan, aktifitasnya pun dilakukan di malam hari. Karenanya berbagai mitos dan kepercayaan mistis sering disandangkan pada seekor burung hantu.


Bahkan keberadaan burung hantu dianggap sebagai pemberi tanda atau firasat buruk termasuk kematian.


belum lagi juga Desas-desus yang berkata bagaimana laki-laki tersebut memperlakukan orang-orang disekitar nya dengan sangat buruk.


Dimana beberapa perawat rumah sakit berkata jika Adalrich adalah jenderal besar sang pencabut nyawa.


Itu sangat mengerikan sekali.


Oh my god.


ini tidak mungkin.


Perempuan tersebut bergidik ngeri, membayangkan bagaimana jika dia di siksa di camp Nazi, di cengkram dan akan di musnahkan oleh laki-laki tersebut jika menjadi istri dari laki-laki dihadapan nya itu.


Bagaimana jika dia sebenarnya nya adalah sang predator pembunuh?!.


Sekelebat pertanyaan itu memenuhi kepalanya.


"Akhhh aku pasti sudah gila"


Adeline menggeleng-gelengkan kepalanya.


Mendengar ucapan Adeline, seketika membuat Adalrick menaikkan ujung alisnya.


"Tidak.. maksud ku aku yang pasti sudah gila jika mau menikah dengan mu, aku pikir jika kita benar-benar sepasang suami istri dimasa kemarin, itu terjadi mungkin karena aku hanya ingin mengambil keuntungan dari mu tidak lebih"


perempuan itu bicara cepat dan langsung turun dari atas kasur, tubuh nya jelas masih sempoyongan tapi berdekatan dengan Adalrich seolah-olah membuat nafas nya semakin menyempit sehingga waktu kematian Seolah-oleh semakin mendekat untuk diri nya.


Secara jujur dia benar-benar tidak menyukai sosok laki-laki tersebut, entahlah sejak pertama melihat Adalrich, laki-laki itu seperti mimpi buruk yang harus dia hindari.


Hati nya berkata seolah-olah mereka harus saling menjauh kan diri, dan Adeline harus berusaha lepas dari belenggu laki-laki tersebut, karena felling nya berkata semakin dekat dengan Adalrich sama saja dengan dewa kematian akan semakin mendekati dirinya.


Mendengar ucapan Adeline jelas saja membuat bola mata Adalrich menggelap dan mendung, dia merasa ribuan jarum menghujam hati nya, dimasa kemarin dia pernah menyakiti Adeline dengan kata-kata yang sama, dimasa ini dia baru tahu jika kalimat itu di ucapkan oleh orang yang begitu dia cintai rasanya begitu menyakitkan hati.


"Bagaimana bisa aku dan kamu adalah suami istri? kau pasti bercanda dan ah tidak aku pasti sudah gila mau menikah dengan monster seperti mu"


Adeline jelas gelagapan, Perempuan itu berusaha menjauhi Adalrich, dia pikir ini pasti sebuah kesalahan besar, bagaimana bisa dia menikah dengan Adalrich di masa kemarin.


tapi saat dia mencoba bergerak semakin banyak, melebarkan langkah nya menjauhi Adalrich seketika bola mata nya tanpa sengaja melihat beberapa bingkai foto di atas lemari.


Dia tidak menyadari nya tadi, baru menyadari nya saat ini, baru melihat nya dengan jelas saat ini.


Oh god.


Adeline seketika menutup mulutnya dengan kedua belah tangannya.


Dia melihat pemandangan sedikit mengerikan di beberapa tempat, foto klasik berwarna hitam putih dimana terdapat dirinya dan Adalrich didalam tiap bangkai berukir kan emas tersebut.


Adeline seketika mencoba memegang kening nya, dia bingung dengan beberapa pemandangan asing didepan nya, dia mencoba untuk mengingat tapi rasanya begitu sulit sekali, dia tidak pernah berhasil sedikit saja mendapatkan ingatan nya soal apapun yang terjadi di masa lalu.


"Adeline"


Adalrich berusaha menyentuh lembut Adeline, berusaha meraih bahunya dengan sangat hati-hati, takut jika perempuan tersebut terluka dan takut jika Adeline akan ketakutan juga melihat dirinya.


Ucap Adalrich lagi pelan.


Alih-alih peduli dengan ucapan Adalrich, perempuan tersebut lebih memilih menepis tangan laki-laki tersebut, dia berusaha untuk bergerak sempoyongan menuju kearah pintu keluar.


Tapi Adalrich seketika langsung meraih lengan Adeline.


"Aku mohon jangan pergi, Adeline lihat aku"


Nada suara Adalrich terdengar penuh permohonan tapi Adeline secepat kilat langsung berkata.


"Tunggu Dulu aku pikir jangan-jangan aku terjebak dalam kehidupan lain saat ini, tuan anda pasti salah orang sebab aku sama sekali tidak bisa mengingat anda jadi aku rasa anda harus membiarkan aku keluar dari tempat ini secepatnya"


Adeline mulai Bicara melantur, demi apapun otak nya saat ini terasa begitu buntu sekali, dia tidak bisa mencerna apapun saat ini bahkan dia tidak bisa berpikir dengan baik.


dia mencoba menahan tangannya ke dada Adalrich, laki-laki itu mencoba maju mendekati dirinya tapi Adeline jelas tidak Sudi laki-laki tersebut mendekati tubuh nya.


Seluruh anggota tubuhnya jelas-jelas menolak Adalrich mati-matian, seolah-olah ada sejuta kesalahan yang pernah di lakukan oleh laki-laki tersebut dimasa lalu yang tidak ingin sama sekali dia maafkan.


Hati nya selalu merasa marah dan sakit setiap kali kulit tubuh mereka bersentuhan dan bahkan hati Adeline seolah-olah selalu berusaha membentang jarak di antara mereka.


"Mundur dan jangan mendekat tuan, jika tidak aku akan berteriak histeris saat ini juga"


Adeline mencoba untuk memperingati Adalrich.


"Adeline"


Laki-laki tersebut tercekat menerima respon Adeline yang begitu jijik dan takut melihat dirinya.


Ditengah keadaan tiba-tiba seseorang masuk kedalam kamar tersebut, seorang pelayan kepercayaan yang di kirim oleh Adalrich sejak awal untuk mengawasi sang istri nya.


"Nona, ada apa?"


"Kau... netti bantu aku keluar dari sini"


Saat Adeline berkata begitu, perempuan berusia sekitar 40 tahunan itu jelas bingung.


"Aku bisa gila melihat Wajah nya saat ini, bantu aku untuk pergi saat ini juga"


"Tapi nona"


"sayang'


Adalrich pikir bahkan setelah bangun kembali pun dia masih tidak bisa meluluhkan hati istri nya.


Seketika wajah mendung tersebut langsung menoleh kearah pelayan kepercayaan nya.


"Nona muda ini lewat tengah malam"


Perempuan itu bicara perlahan, cukup takut melihat tuan nya, langsung melirik menatap kearah Nona nya.


"Aku tidak peduli, bawa aku pergi dari sini bahkan jika bisa bawa aku kerumah orang tua ku saat ini juga"


Yah aku tidak mungkin terlahir tanpa orang tua bukan?!.


Batin Adeline.


Orang tua akan menjadi tempat paling nyaman untuk seorang anak mencari perlindungan.


mendengar kata orang tua seketika Adalrich dan sang pelayan saling menoleh.


"Ya?"


Pelayan tersebut jelas terkejut mendengar permintaan nona muda nya.


"Itu..."


"Bawa aku kembali kerumah orang tuaku"


Ulang Adeline lagi.


Sang pelayan tersebut seketika langsung menunduk kan kepalanya.


"Mereka sudah tidak ada"


Ucap nya pelan sambil meneteskan air matanya.


"Ya?"


Adeline bertanya sambil menahan suaranya.