
"Ya, aku telah memikirkannya dengan baik"
Adeline menatap dalam bola mata Dalmiro, dia meyakini jawaban nya tersebut dengan seyakin-yakinnya, Kemudian perempuan tersebut langsung membuang pandangannya dan dia menatap ke arah Chaddrick kecil yang terlihat mengulumkan senyuman nya.
Bayangkan bagaimana sebenarnya perasaan Dalmiro saat ini, laki-laki tersebut seketika langsung mengeratkan rahangnya, api kemarahan jelas menghantam dirinya tapi dia berusaha untuk mengendalikan perasaannya.
Dia kemudian melirik kearah putra Adalrich, laki-laki tersebut pikir apa yang sebenarnya di ucapkan bocah tersebut hingga membuat Adeline menolak dirinya mentah-mentah.
"Kau tidak akan menyesali nya?"
Dalmiro kembali bertanya ke arah Adeline, dia masih berharap perempuan tersebut mengubah keputusannya.
bola matanya menatap perempuan itu begitu dalam seolah-olah penuh harapan agar Adeline mengerti apa yang ada di balik bola matanya saat ini.
Adeline terlihat tidak bergeming untuk beberapa waktu kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Tidak"
Jawab nya pelan.
sebenarnya dia tidak tahu yang mana yang harus dia aggap masuk akal dan baik saat ini, ada tiga laki-laki Yang bergantian datang di mana salah satunya adalah Adalrich.
begitu bangun dari tidurnya dimana dia kehilangan seluruh memori ingatan nya, Adeline jelas harus menjadi orang yang pintar, dia tidak pernah tahu jati dirinya di masa lalu jadi dia pikir diantara dia berdiri saat ini pasti ada orang jahat dan baik.
karena dia buta akan semua hal bahkan dia tidak tahu dia berada di pihak yang mana di masa lalu, yang paling menjadi alasan nya saat ini untuk memilih adalah menggunakan insting dan logika hati serta pikiran.
Dan ucapan orang yang paling bisa dipercaya hanyalah ucapan seorang anak kecil, ditambah lagi insting Adeline berkata dimana hati nya ikut bergerak dan berbicara, jika Chaddrick pasti orang yang paling tepat untuk dipercaya dan lagi dia seolah-olah memiliki ikatan batin kepada bocah laki-laki tersebut.
pertama kali bola matanya menatap bocah tersebut percayalah pada satu relung hatinya yang paling dalam dia merasa begitu merindukan nya, dia ingin menangis dan juga ingin memeluknya, namun situasi dan keadaan membuat dia suka sekali untuk mengekspresikan perasaannya.
pernahkah merasa senang karena seseorang?.
dia merasakannya ketika dia bertemu dengan Chaddrick, tidak ada hati seseorang ketika merasa dia berhadapan dengan seseorang lainnya yang tidak asing dan begitu dia rindukan, di sentuhan pertama mereka satu gelanyar aneh menghantam hatinya, seolah-olah dia pernah berjuang di antara hidup dan mati untuk meraih tangan kecil tersebut di masa.
setelah itu rasanya begitu menyakitkan dan begitu menyedihkan, seakan-akan ada masa di mana mereka dipaksa untuk berpisah, terkadang saat dia menyentuh Chaddrick, seolah-olah sebuah tangkisan kecil kembali terdiam di balik telinganya dan menghantam kepalanya.
di mana dia merasa seseorang mencoba merampasnya Dari dirinya.
ada satu masa ketika dia meragukan pilihannya, dimana seperti tadi Adalrich berusaha untuk meraih dan mengambil kembali Chaddrick dari pelukan nya, seketika Adeline merasa seolah-olah lagi-lagi mereka akan dipisahkan, hatinya merasa tidak menerima, dan secara refleks saat Chaddrick kecil berbisik ke arah nya, Adeline mengeratkan pelukannya.
Dia seakan-akan berkata.
Yah anak ini adalah milik ku, bukan milik siapapun di dunia ini.
Adeline pada akhirnya menentukan pilihan nya dengan refleks.
"Aku cukup kecewa dengan keputusan yang di ambil buru-buru"
Suara Dalmiro mengejutkan pemikiran Adeline.
"Padahal sebelumnya aku telah mengirim hadiah pernikahan, karena aku pikir tidak ada respon penolakan sama sekali, aku mengambil kesimpulan kamu telah menerima lamaran yang sempat tertunda"
Ucap Dalmiro kemudian.
mendengar ucapan laki-laki tersebut seketika membuat Adeline menaikan ujung alisnya.
Hadiah pernikahan?!.
perempuan itu tidak menjawab tapi di dalam hatinya bertanya-tanya, dia pikir dia tidak pernah menerima hadiah pernikahan tersebut dari siapapun selama dia tinggal di kediaman Adalrick.
"tidak kah kamu telah menerima hadiah nya?"
Dia bertanya cepat kearah Adeline.
yang ditanya menggelengkan kepalanya secara perlahan.
Bayangkan bagaimana ekspresi Dalmiro saat ini, bola matanya langsung mencari Adalrich dan seorang perempuan lainnya.
begitu dia menangkap sosok adalah, bisa dilihat laki-laki tersebut menampilkan ekspresi angkuh dan juga sombongnya, bola mata dingin laki-laki tersebut menghunus jantung nya.
Kau...!.
Dalmiro jelas saja mengeram, bayangkan bagaimana rasa kesal dan kemarahan menyelimuti dirinya saat ini.
dia sudah menduganya Adalrich dan juga Frada pasti sudah memanipulasi apapun yang dilakukannya di belakang semua orang.
sejak dulu hingga kini laki-laki itu selalu suka merebut hak milik orang lain dan tidak menempatkannya pada posisi yang seharusnya.
Di antara rasa kesal dan marah yang menghantam dirinya, Tiba-tiba tuan Petra datang tepat di sisi kanannya.
"Suatu kehormatan tuan Dalmiro datang kesini,mari lupakan perjanjian lama soal lamaran masa lalu, terkadang hati perempuan suka berubah-ubah"
Laki-laki tersebut bicara Sembari menaikkan sebuah gelas wine di tangan nya, dia mengajak Dalmiro agar bersulang dengan nya.
Seorang pelayan yang ada dibawah panggung buru-buru naik membawakan nampan berisi wine.
Sebenarnya situasi cukup Canggung, para tamu memperhatikan mereka, tapi beberapa laki-laki berseragam serdadu mengingat kan para tamu Agar kembali fokus mengucapkan selamat kepada putra tuan Halogen dan istri nya nyonya Fervita.
Mereka jelas tidak berani membuat gosip besar atau bahkan Desas-desus, memilih diam dan fokus pada pemegang puncak acara.
Di atas sana tuan Petra masih mengajak Dalmiro untuk bersulang, demi apapun Dalmiro yang sebenarnya tidak dalam keadaan baik-baik saja terpaksa memasang wajah penuh topeng, dia berusaha tersenyum padahal di hati nya jelas marah besar.
Sial.
Bolehkah dia mengumpat seperti itu?!.
Yah dia Harus mengumpat dengan kerasnya namun membiarkan nya terus berada didalam hati.
Pada akhirnya saat seorang pelayan memberikan dirinya segelas wine, laki-laki tersebut memilih menaikkan gelas minuman nya kehadapan Tuan Petra.
Laki-laki tersebut lantas mulai menghabiskan wine miliknya dalam 2 kali tegukan penuh kemarahan didalam hati nya, Tapi meskipun dia kesal dan marah, wajah nya jelas tidak menampilkan hal seperti itu, seolah-olah dia bahagia dan tidak mempersoalkan keadaan malam ini.
"Yah kau benar"
Tuan George tiba-tiba ikut bicara,dia menatap kearah Dalmiro sembari mengembangkan senyuman nya.
"Benar-benar satu kehormatan kau datang kemari nak, itu membuat keluarga besar kami cukup tersanjung atas cinta kamu pada putri kami"
Tuan George ikut menaikkan gelasnya, dia menyungging kan senyuman nya untuk beberapa waktu.
"Tapi jangan berkecil hati jika permintaan pernikahan Dimasa lalu terpaksa ditolak oleh putriku"
laki-laki tua tersebut mulai meneguk minumannya secara perlahan, kemudian setelah dia menyelesaikan tegukan terakhir nya, laki-laki tersebut kembali berkata.
"Terkadang hati paling tahu ke mana tempatnya berlabuh, son"
ucapan tuan George benar-benar membuat Dalmiro menggenggam erat telapak tangan nya penuh dengan kekesalan.