King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 77 A & A



Kembali ke sisi Alima.


klatakkkkk.


Ketika laki-laki di hadapannya melakukan senjatanya seketika membuat nyonya Alima membulatkan bola matanya.


"Ada apa dengan mu, Dalmiro?"


Dia pikir laki-laki itu berpihak kepadanya dan tidak akan pernah mengacungkan senjata ke arah dirinya, tapi malam ini bayangkan apa yang dilakukan laki-laki tersebut pada dirinya, Dalmiro mengacungkan senjata tepat ke arah kepalanya dengan tatapan yang begitu sinis dan sadis serta seringai tajam yang mengerikan.


Dalmiro terlihat terkekeh kecil sembari dia menatap wajah nyonya Alima.


"Aku cukup tidak menyangka kau berada di sini dalam keadaan terjepit dan kehilangan banyak pengawal"


Ucap laki-laki tersebut lantas bergerak melangkah mendekati alima.


Angin malam pergantian musim salju menuju ke musim semi membuat suara pepohonan di sisi kiri dan kanan mereka terus melambai-lambai memecah keheningan, laki-laki tersebut bergerak dengan tenang namun cukup mematikan, seolah-olah sejak awal dan biru memang telah berniat menghancurkan wanita yang ada di hadapannya tersebut.


Pakaian tentara yang melekat ditunggu laki-laki tersebut tercetak indah membentuk tubuh penuh otot Dalmiro, bola mata laki-laki itu menatap tajam ke arah nyonya Alima,


Ketika dia bergerak ke depan surai rambutnya terlihat melayang-layang diterpa angin malam musim semi.


Wajah laki-laki tersebut sama sekali tidak menatap ramah Kearah nyonya Alima, dia terus mereka maju menuju ke arah depan sembari terus menggenggam senjatanya.


Nyonya Alima jelas berusaha untuk mengencangkan pegangan senjatanya, bola matanya melirik kearah sisi kiri dan kanan serta depannya sejenak, kini bisa dilihat orang-orang Dalmiro telah berdiri di bagian beberapa sisi di mana mereka bersiap dengan senjata masing-masing seolah-olah menunggu perintah untuk menarik pelatuk senjata mereka dan menyerang secara bersamaan wanita tersebut.


Hal itu sempat membuat wanita itu menelan sampai terjadi pemberontakan diam-diam di belakang dirinya, seolah-olah sejak awal semua orang telah merencanakan sesuatu yang tidak pernah dia ketahui.


Pertanyaannya adalah siapa yang merancang rencana ini, penghianatan yang dilakukan oleh orang-orang di sisi kiri kanan depan dan belakangnya dengan sangat rapi.


Dan kini malam ini dia sadar, sepertinya kematian semakin mendekatinya dan tidak ada kesempatan untuk yang berkata dia baik-baik saja atau bahkan dia hidup hingga matahari terbit besok.


"Siapa yang merencanakan semuanya dan mampu mengatur dirinya saat ini, Dalmiro?"


Dia tahu laki-laki di depannya itu adalah laki-laki keras dan pembangkang, tidak mudah untuk mendapatkan kesepakatan bersama dalam hidup kecuali seseorang tersebut memberikannya keuntungan besar, Dalmiro pasti selalu meminta uang pembayaran atau hak pembayaran di awal, dia tidak pernah patuh dan tunduk pada perintah siapapun, bahkan tidak pernah mau diatur oleh siapapun.


Di masa lalu untuk membuat Dalmiro tunduk, dia harus menggelontorkan banyak hal dan menjanjikan banyak hal pada laki-laki tersebut, sehingga laki-laki berwajah datar dan dingin itu mau bekerjasama dengan nya.


Dia yang membuat Dalmiro berbelok pada Adeline dimasa lalu, di mana dia tahu jika Dalmiro mencintai perempuan tersebut, tapi dia tidak pernah tahu kenapa Dalmiro bekerja sama dengan Adeline di masa itu, yang dia tahu laki-laki itu mengharapkan sebuah keuntungan dari kerjasama yang dia jalin.


"Aku tidak pernah diatur oleh siapapun kau tahu bukan? Dan aku tidak pernah berpikir akan berdiri di sini menghadapi dirimu secara langsung setelah sekian tahun aku menunggu"


Dalmiro menjawab pertanyaan nyonya Alima yang menatapnya dengan kebingungan, dia tahu wanita dihadapan nya tersebut seolah-olah kehilangan kata-kata nya saat tahu dirinya mengkhianati Alima.


"Apa?"


Nyonya Alima bertanya sembari mengerut kan keningnya, kata setelah sekian lama cukup membuatnya terkejut seolah-olah sejak awal laki-laki itu memang telah mengincar dirinya, tapi bukan karena banyak sekali kesempatan selama ini untuk Dalmiro bisa menyiapkan dirinya?! Lalu dia pikir kenapa laki-laki tersebut baru menggunakan kesempatan saat ini untuk menghabisi dirinya.


"Kau bicara apa?"


Suara Alima terlihat bergetar.


Dalmiro kini telah berdiri tepat dihadapannya, bola mata tajam dan memelihara tersebut menatap nyonya Alima dengan pandangan penuh kebencian.


Keheningan sejenak terjadi di antara mereka seolah-olah mereka bergelayur pada pemikiran masing-masing untuk beberapa waktu.


"Ingin mendengarkan sedikit cerita dari ku?"


Tiba-tiba saja laki-laki tersebut bertanya dengan menaikkan ujung bibirnya.


"Kau pasti akan tertarik untuk mendengar ceritanya"


Ucap Dalmiro lagi sambil terus menatap tajam bola mata wanita yang ada di hadapannya tersebut.


******


Kembali ke masa lalu.


Kediaman keluarga besar Dalmiro.


Seringai keji dan licik tersirat dari balik wajah Alima muda, perempuan dengan ambisi besar tersebut menatap laki-laki yang usianya beberapa tahun lebih tua darinya tersebut untuk beberapa waktu.


"Aku jamin kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan jika kamu mau bekerja sama dengan kami"


ucap Alima cepat kearah laki-laki tersebut.


"Aku juga akan menjamin kesetaraan dan juga kesejahteraan untuk keluarga kalian"


Lanjut Perempuan tersebut lagi dengan penuh keyakinan.


"Kau pikir semua orang bisa disuap dan dinilai dengan uang? Seseorang yang bersalah tidak mungkin aku bebaskan atau aku ubah kesalahannya, Alima. Menurutku ambisimu terlalu berlebihan, kecuali kau memang mendapatkan keuntungan dari orang tersebut"


Laki-laki itu bicara cepat sambil menjalankan kepalanya dia berniat untuk berdiri dan meninggalkan Perempuan tersebut sekarang juga.


Baginya dia duduk di kursi menjadi seorang petinggi keadilan karena dia ingin berlaku adil kepada siapapun, karena itu dia tidak akan tertarik melakukan sebuah konflik kebohongan dimana keadaannya hanya akan menguntungkan pihak bersalah dan akan merugikan pihak yang benar, baginya perempuan muda yang ada di hadapannya tersebut telah melewati akal warasnya.


Meminta dia menutup sebuah kasus besar, membenarkan yang salah kemudian menjatuhkan hukuman kepada yang benar.


Dia jelas tidak akan pernah mau melakukannya bahkan hingga mati sekalipun meskipun ditawarkan dengan jutaan keuntungan untuk dirinya dan keluarganya.


Laki-laki tersebut jelas menolak mentah-mentah apa yang ditawarkan oleh Alima.


Karena itu dia meminta perempuan itu segera pergi dari sana secepatnya.


Namun saat dia baru saja mengembalikan tubuhnya tiba-tiba saja alima berkata.


"Kau yakin tidak akan menyesalinya karena menolak apa yang aku minta?"


Tanya perempuan tersebut dengan cepat.


Laki-laki itu langsung menjawab tanpa ingin menoleh ke arah Alima.


"Yah, aku tidak akan menyesalinya hingga mati atas keputusanku, jadi pergilah dengan cepat dari hadapanku sebelum aku memanggil pengawal untuk mengeluarkan mu dari sini"


Laki-laki itu berniat untuk beranjak pergi, namun tiba-tiba dia mendengar sebuah kekehan dari bibir Alima, perempuan tersebut berdiri secara perlahan lantas.


Klatakkkkk.


Tiba-tiba saja Alima mengeluarkan senjatanya dan mengarahkan senjata tersebut tepat ke belakang kepala laki-laki itu, hal tersebut sontak menjadi laki-laki itu langsung membulatkan bola matanya.


*****


Kembali ke masa kini.


Seketika Alima membelalakkan bola matanya saat dia mendengar cerita Dalmiro soal masa lalu.


"Kauuu?"


Wanita tersebut jelas tercegah dan dia berusaha untuk mencari pegangan.


"Putra Vander, hah..."


Seketika Alima mendengus tidak percaya.


"Bagaimana mungkin?"


Sebaris pertanyaan tersebut menghantam dirinya.


Satu persatu kejahatannya di masa lalu seorang anak terbongkar, dia baru ingat betapa gajinya dirinya setiap kali dia mendapatkan sesuatu bahkan keuntungan untuk dirinya sendiri, dia sangat menyukai kekuasaan dan juga uang baginya semua itu adalah satu jaminan kebahagiaan.


Bisa duduk di manapun dan dianggap penting untuk banyak orang adalah hal yang paling menyenangkan untuk dirinya, baginya seseorang bukan siapa-siapa jika tidak bisa mendapatkan jabatan dan juga dialog-elukan serta dikagumi oleh banyak orang atas banyak prestasi yang dimiliki.


Baginya melakukan kecurangan dan membunuh banyak orang serta mampu naik menjadi pemimpin atau berada di samping seorang pemimpin adalah suatu prestasi luar biasa yang jarang bisa dilakukan oleh orang-orang.


Bahkan dia tahu di masa lalu orang-orang cukup takut dengan dirinya karena dia selalu menghalalkan banyak cara untuk bisa bertahan pada tahtanya dan menjadi kepercayaan orang-orang penting, bahkan dia tidak akan menghalalkan banyak cara termasuk menyingkirkan saudaranya sendiri agar dia bisa menjadi pengaruh di dalam keluarganya dan menikahi laki-laki adalah milik saudaranya.


Namun siapa sangka perjalanan karir dan kekuasaannya pada akhirnya malam ini harus karena anak-anak muda jauh lebih licik dan picik daripada dirinya.


Nyonya Alima pikir bagaimana bisa dia tertipu bahkan dia bisa kalah oleh segerombolan orang yang tiba-tiba berkhianat di belakangnya.


Apakah ini adalah karma karena kekejamannya karena dia telah menghianati banyak orang di masa lalu bahkan termasuk ayahnya sendiri dan juga saudara perempuannya sendiri.


Siapa bilang saudara perempuan atau antara saudara tidak saling iri dan ingin mendapatkan apa yang dia inginkan juga menyingkirkan saudaranya yang menjadi penghalang.


Di lapisan dunia muka bumi ini akan banyak terjadi kasus seperti itu ketika seorang saudara merasa iri dengan saudara lainnya atau bahkan membenci segala hal lainnya itu biasa demi untuk mencapai sebuah harta dan martabat serta kekuasaan dan juga harta benda yang mereka inginkan.


Dia selalu menyusun rencana segala sesuatu dan sangat rapi dan api bahkan dia bisa mengkhianati siapapun dan menyuap siapapun untuk menghianati kawannya sekalipun.


Namanya siapa sangka ketika usianya mulai menua dia dikhianati oleh orang-orang muda atas perbuatan masa lalunya.


Dia pikir akan bertahan pada pemilihan selanjutnya, tetap memegang puncak tanduk kekuasaan berdiri di samping orang penting di negara tersebut dan menyingkirkan orang-orang yang tidak dia suka termasuk adeline menantunya.


Namun siapa sangka harapannya ternyata sia-sia, kalau ini dia harus menerima kekalahan besar di mana orang-orang mampu mengelabui dirinya bahkan termasuk Dalmiro sekalipun.


Melihat ekspresi nyonya Alima, hal tersebut untuk membuat Dalmiro terkekeh senang, dia membiarkan wanita tersebut kehilangan kata-katanya bahkan tidak mampu untuk berdiri dengan benar dalam posisinya.


"Bagaimana bisa aku lengah?"


Sebaris pertanyaan itu menghantar dirinya nyonya Alima, dia pikir bagaimana dia tidak menyadari jika Dalmiro adalah putra Vander, Hakim paling jujur di masa itu yang dihabisi karena menolak kesepakatan dengan dirinya untuk membebaskan seseorang di masa itu.


Dia ingat betul di masa lalu dia telah menghabisi seluruh anggota keluarga laki-laki bersembunyi namun siapa sangka masih ada anak laki-lakinya yang tertinggal, padahal kalah itu kita memerintahkan seluruh orang-orangnya untuk mengecek dengan baik apakah mereka telah menghabisi seluruh anggota keluarga laki-laki tersebut dan sebuah laporan meyakinkan mengatakan tidak ada satu anggota keluarga pun yang selamat.


Namun coba lihat hari ini bagaimana bisa putra Vander berdiri tepat di hadapan nya sambil mengacungkan pistol, bersiap menarik Pelatuk dan menghancurkan kepalanya tanpa sisa.


"Kau bisa membunuhku saat ini juga untuk rasa puasmu"


Wanita tersebut berkata dengan cepat sembari dia mendongakkan kepalanya menatap ke arah dalam meniru dengan tatapan menantang, dia pikir kematian yang paling indah adalah ketika dia tidak merasakan kesakitan dan orang membunuhnya tanpa berpikir dua tiga kali.


Namun sayangnya setelah dia berkata seperti itu dan biru malah terkece yang kecil.


"Taufik aku sebodoh itu akan memberi kematian yang begitu mudah dan gampang untukmu Alima?"


Laki-laki tersebut bicara sambil terkekeh kecil dia lalu mencoba menikmati wajah kalimat yang kini kembali berubah ekspresinya.


"Aku sedang ingin menikmati rasa sakit yang dirasakan oleh kedua orang tuaku di masa lalu"


Ucap laki-laki tersebut lagi sembari menatap wajah nyonya Alima.


"Bahkan aku ingin mendengar jeritan mu dan tangisanmu yang penuh dengan kesakitan"


Lanjut laki-laki tersebut lagi.


Mendengarkan ucapan dalamnya rasa ketika Halimah membulatkan bola matanya.


"Apa?"


Wanita tersebut bertanya itu ada laki-laki dihadapannya itu, namun alih-alih mendapatkan jawaban dia inginkan tiba-tiba dua pengawal mendekati dirinya dan menarik tubuhnya dengan kasar hingga dia berjuang kau terhadap anak laki-laki yang ada di hadapannya itu.


"Apa yang kau lakukan Dalmiro? brengsek! lepaskan aku...."


Nyonya Alima seketika berteriak dengan kencang saat kedua laki-laki itu memaksanya untuk membukukan tubuhnya ke hadapan Dalmiro, mereka membuat nyonya Alima terlihat bersujud kepada laki-laki tersebut dan begitu kemudian kedua orang itu membuat Alimah nyaris tersempur ke tanah.


Dia diperlakukan persis seperti seekor anjing yang mengharapkan makanan pada tuannya.


Dalmiro langsung menjagokan tubuhnya membiarkan tubuhnya tersebut bertumpu pada kedua kakinya.


Laki-laki itu menarik kasar rahang alima dan mencengkeramnya tanpa perasaan, dia sengaja melakukan hal tersebut karena rasa sakit yang dia rasakan di masa lalu, di mana bisa dia ingat dengan baik bagaimana ibunya diperlakukan dengan cara yang sama seperti cara dia memperlakukan alima saat ini.


"Kau ingat pada bagian ini? Aku ingat betul pada bagian ini, aku bersembunyi di salah satu meja kecil, membiarkan diriku tertekuk di dalam sana dan mengintip apa yang kau perbuat pada kedua orang tua ku"


Dalmiro bicara dengan nada yang begitu dingin dan mengerikan, dia membiarkan Ali maminya soal masa lalu yang telah diperbuat oleh wanita tersebut.


"Saat itu ibuku menangis sembari melirik ke arahku yang mengintip ke arah kalian, kau tahu bagaimana perasaanku saat itu Alima? Saat itu aku berkata di dalam hatiku jika aku selamat dan keluar dari tempat itu, maka aku pikir aku akan menyusun strategi untuk mulai membalaskan dendamku dan membunuhmu dengan cara yang sama"


Ucap laki-laki tersebut ke arah Alima, ekspresi wajahnya terlihat Sangat datar, seolah-olah laki-laki tersebut saat ini benar-benar telah bersiap untuk menghabisi nyawa Alima.


"Tapi malam ini aku akan sedikit berbaik hati, aku hanya akan menyakitimu sedikit demi sedikit tidak seperti cara kamu menyakiti ibuku dan juga ayahku dengan cara yang kita cepat"


Setelah berkata seperti itu dalam diri tiba-tiba mengeluarkan pisau belatinya dari punggung belakangnya.


Hal tersebut membuat nyonya Alima membulatkan bola matanya.


"No...no...apa yang kau lakukan, no... Dalmiro...."


Wanita itu bertanya histeris ketika Dalmiro tiba-tiba meraih tangannya, dan dalam hitungan detik suaranya lolongan nyonya Alima memecah keheningan malam.