
Edgard secepat kilat masuk ke area parkiran bandara, setelah memarkirkan mobilnya laki-laki itu berlarian ke arah dalam mencoba mencari sosok perempuan tersebut.
Dengan gerakan kacau dan nafas tidak beraturan laki-laki itu terus lari berkeliling dari satu terminal ke terminal lainnya, bola matanya terus menelisik seluruh sudut ruangan bahkan orang-orang yang berlalu lalang, mencoba mencari informasi keberangkatan yang di tuju perempuan itu sesuai dengan informasi yang dia dapatkan dari informan nya tadi.
Edgard sesekali meruap wajahnya juga meremas rambut nya, perasaan panik dan marah terus menggerogoti dirinya.
Dimana? dimana?
Edgard terus bergerak mencari perempuan itu, mengitari bandara bahkan naik turun kesana-kemari.
"Keberangkatan ke itali?"
Tanya Edgard di salah satu terminal, dia bertanya pada seorang gadis yang menatap ramah ke arah nya.
"Baru saja lepas landas, Sir"
Seketika Edgard membeku, dia cukup bingung untuk bergerak kemana, berbalik pulang atau melangkah pergi?
Hingga akhirnya dia berkata pada gadis di depannya itu di luar akal sehatnya.
"Berikan aku tiket penerbangan berikutnya"
*******
Ditempat yang berbeda
Mansion utama Cullen mafia
Ketika sebuah panggilan masuk Melalui handphone nya, secepat kilat Zehra mengangkat panggilan tersebut.
Dalam beberapa waktu dia hanya terlihat mengangguk atau bicara iya bahkan baiklah kemudian Zehra menutup panggilan nya.
Zehra tampak mengembangkan senyuman begitu Leo menghubungi dirinya.
"Tuan Edgard baru saya mendapat kan penerbangan nya, dia pergi menyusul Nona Zaffa menuju ke itali"
Seketika Perempuan itu langsung menoleh ke arah sang suami nya.
Arash tampak tengah menyelipkan pistol juga pisau di dalam pinggang nya.
"Ini waktu nya bergerak"
Ucap Zehra pelan ke arah Arash.
"Jangan keluar kemanapun"
Ucap Arash lembut.
Zehra secepat kilat meraih tubuh Arash, menyentuh pipi sang suami sambil menatap dalam bola mata nya.
"Ingat, jangan gunakan kekerasan kecuali didalam keadaan terdesak"
Laki-laki itu tampak mengulas senyuman, mengelus wajah sang istri sejenak lantas menautkan bibir mereka.
"Jangan khawatir"
Bisik nya pelan.
Setelah itu Arash melesat pergi dari sana.
Zehra secepat kilat kembali meraih handphone nya, dia mengintip sosok laki-laki itu yang pergi secepat kilat dari balik jendela kamar, Zehra menatap punggung sang suami yang mulai menjauh dari pandangan nya.
"Lindungi suami ku dan pastikan keselamatan menyertai nya dalam setiap langkah nya"
Ucap Zehra lantas dengan cepat dia mematikan handphone nya.
*********
Doktor John dan Hans tampak fokus menatap ke arah depan dimana terdapat sebuah peta besar yang membentang di atas sebuah meja kaca besar dihadapan mereka.
Leo tampak ikut memperhatikan peta tersebut di ikuti beberapa orang kepercayaan doktor John dan Hans, elan terlihat ikut fokus memperhatikan peta tersebut, tangan Doktor Hans menunjuk 3 titik didalam peta itu.
"Ini adalah distrik-distrik yang paling sulit untuk didekati, mereka masuk dalam katagori orang-orang keras yang tidak akan berhasil didekati dengan hati"
Ucap doktor Hans cepat.
"Arash bergerak di beberapa titik distrik untuk membawa anak-anak dan para perempuan menjauh malam ini, sisanya..."
Doktor Hans menoleh ke arah Leo.
"Kau tahu apa yang harus dilakukan?"
"Aku tahu"
"Dan kau tahu kemana harus membawa para anak-anak dan perempuan?"
Doktor John menoleh ke arah Elan.
"I know, uncle"