King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 25 A & A



Gedung besar kenegaraan


Pertunangan Putra Halogen dan Fervita


Malam.


Di langit malam Moscow, ketika jutaan bintang bertaburan di atas langit kelam dimana angin sepoi-sepoi terus menerpa wajah melalui cela kaca mobil yang terbuka.


Bisa di rasa ketika mobil mendominasi berwarna Hitam mulai bergerak memasuki satu wilayah keramaian dimana orang-orang dan ratusan kendaraan saling hilir mudik diberbagai macam sisi disekitar wilayah tersebut  mencari satu area kosong untuk menghentikan laju putaran roda mobil Kokoh tersebut.


Tatkala bola mata sang pemilik mobil mendapatkan tempat untuk menghentikan laju kendaraan nya, Adalrich seketika langsung menghentikan mobil kesayangan nya tepat didepan sebuah gedung besar beberapa hektar di sisi kanan nya.


Dia berhenti di depan gedung tersebut dan membiarkan mobil nya terus menyala dengan sempurna.


Setelah memastikan tidak ada halangan yang terjadi dimana beberapa orang berpakaian serdadu mulai mendekat dan menundukkan kepala mereka ke arah Adalrick dan menaikkan tangan kanan mereka tanda memberikan hormat, laki-laki tersebut hanya mengangguk kan kepala nya sembari dia mulai beranjak turun dari mobil nya.


Namun sebelum itu dia melirik kearah perempuan di samping nya sambil berkata.


"Tunggu aku dan jangan turun lebih dulu"


Ucap nya pada Adeline yang duduk tepat disamping dirinya.


Mendengar suara laki-laki disamping nya itu yang persis seperti sebuah perintah membuat Adeline diam dan menuruti perintah laki-laki tersebut.


Kini Adalrich langsung Keluar dari Mobil nya dan memilih jalan memutar dari arah depan menuju ke arah pintu mobil dimana Adeline berada.


Laki-laki tersebut langsung membuka pintu pada bagian sisi Di mana Adeline berada, kemudian Adalrich secara perlahan mengulurkan tangannya dan menunggu Adeline menerima uluran tangan nya, bisa dilihat bola mata perempuan itu sejenak menatap kearah gedung besar yang ada disisi kanan mereka untuk beberapa waktu.


sembari secara perlahan tangan perempuan tersebut diberikan kepada Adalrich, Adeline tetap menatap di sekeliling nya Sembari dia perlahan turun dari mobil yang di naiki nya.


Karena ini adalah Pesta pertunangan orang yang cukup penting bisa dipastikan banyak nya tamu undangan yang datang saat ini.


Bagian depan gedung terlihat ratusan kendaraan mulai berdatangan dan mencari posisi parkiran di masing-masing tempat mereka.


Para pasangan bangsawan dengan pakaian mewah mereka terus bergerak hilir mudik menuju ke arah dalam gedung.


Bahkan para penjaga dengan pakaian serdadu di lengkapi senjata dan pistol di pinggang mereka masing-masing Tampak berdiri gagah di tiap-tiap tempat di seluruh area dan sudut gedung tersebut.


Adeline tidak begitu paham sebenarnya ada acara apa malam ini, yang dia tahu laki-laki di sampingnya itu yang membawanya kini memerintahkan sang pelayan untuk mendandani dirinya dan mempersiapkan dirinya secantik dan sebaik mungkin.


Dan laki-laki itu berkata mereka akan menghadiri sebuah pesta di mana makan banyak orang-orang penting berdatangan di sana.


meskipun awalnya sebenarnya dia menolak untuk ikut pergi tapi laki-laki tersebut berkata ini adalah permintaan sang ayah mertua nya.


dia belum bertemu dengan laki-laki tersebut, namun ayah mertuanya melakukan panggilan pagi ini kepada dirinya melalui telepon rumah, melakukan panggilan resmi dan mengajaknya untuk berbicara beberapa mata.


meskipun dia tidak tahu bagaimana rupa laki-laki tua tersebut, dari obrolan mereka dan cara laki-laki itu berbicara dengannya melalui telepon bisa Adeline simpulkan jika laki-laki itu pasti orang yang baik dan hangat, begitu gampang untuk diajak berbicara dan juga sangat penuh perhatian.


pertanyaan pertama yang muncul dari laki-laki itu ketika menghubunginya adalah,


"Apakah Adalrick memperlakukan kamu dengan baik?"


Dan Adeline bisa membuat satu kesimpulan lain jika pertanyaan itu menandakan betapa orang tua itu begitu memperhatikan anak-anaknya, seolah-olah nada kalimat yang dilontarkan dan pertanyaan yang diberikan menjadi satu kekhawatiran yang mendalam dari laki-laki tersebut.


Apakah Adalrick memperlakukan diri nya dengan buruk dan tidak baik, hingga membuat Adeline berpikir dimasa lalu bagaimana laki-laki tersebut memperlakukan dirinya.


Apakah Mereka benar-benar saling mencintai atau tidak sama sekali.


"Dia memperlakukan aku dengan cukup baik"


jawab Adeline pelan dari balik telepon nya kala itu.


"Itu bagus, jika dia memperlakukan kamu dengan cara yang sangat buruk maka kamu bisa melaporkannya dengan ayah, dan ayah akan memastikan laki-laki tersebut akan menyesali perbuatannya, bahkan percayalah hanya bisa memukulnya dengan tangan ayah sendiri jika dia berani sedikit saja menyentuh tubuhmu dan melukai kamu"


barusan demi barisan kalimat yang diberikan oleh laki-laki membuat Adeline seketika mengembangkan senyumannya, tidak tahu kenapa rasanya seolah-olah dia memiliki seorang ayah di dalam hidupnya.


meskipun hanya melalui panggilan telepon dan baru kali itu dia bicara dengan ayah Adalrich tapi dia merasa laki-laki tersebut memperlakukan dia layaknya seorang putri kandungnya.


"Mari bertemu di gedung Pesta nya, ayah akan menghampiri kamu dan Adalrich"


Itu adalah pesan terakhir laki-laki tersebut.


Dan kini dia berdiri disini bersama Adalrich, dimana bola matanya masih menatap kearah depan gedung yang jelas telah dipenuhi oleh banyak orang-orang yang satupun tidak ada dia kenal.


Mereka berjalan perlahan menuju ke arah pintu masuk gedung raksasa tersebut dimana Adalrich terus menggenggam erat telapak tangan nya, tidak ada obrolan yang terjadi di antara mereka, hanya genggaman erat tangan Adalrich yang sama sekali tidak ingin lepas dari diri nya.


Begitu tiba di pintu masuk mereka disambut dengan kepala ditundukkan ke arah Adalrick dan Adeline.


Seketika suasana ramai, suara saling bersahutan, obrolan riuh dan enyah apalagi bercampur aduk menjadi satu di hadapan Adeline dan dibalik telinga nya.


Adalrich masih menarik langkah Adeline, dia sama sekali tidak peduli dengan pandangan orang-orang dan desas-desus baru yang terjadi saat ini.


Ketika Adalrich menyeret langkah pasti untuk masuk menuju kejalan, tiba-tiba saja banyak bola mata yang tertuju kepada mereka, dan dari ujung sana bisa dilihat tahu-tahu seorang laki-laki bertubuh kekar dan kuat berdiri menatap dirinya sambil mengerutkan keningnya, namun Sepersekian detik kemudian sosok laki-laki tersebut seolah-olah menyadari siapa yang dilihat nya, laki-laki itu seketika langsung melotot terkejut dengan ekspresi yang sulit dijelaskan Dengan kata-kata.


"Adeline?'


Gerakan bibir laki-laki tersebut langsung bisa dibaca oleh Adeline.


*******


Laut (Elegi) 


Laut diam, laut biru, 


Penuh pesona kulihat jurangmu. 


Kau resah bercinta: bergelora; bernapas, 


Pikiranmu dipenuhi berbagai rasa cemas. 


Laut diam, laut biru, 


Mengungkapkan rahasia terselubung.


Apa yang menggerakkan dadamu mendekap luas?


Apa yang menghirupkan jantungmu mengalir tegang? 


Atau kenapa langit membuatmu terhempas


Dari perbudakan duniawi yang berang? 


Kehidupan manis begitu misterius, 


Kau murni di khalik agung: 


Birunya cahaya tertuang, 


Sinar pagi dan sore terbakar, 


Kau membelai awan emasnya 


Gembira ria bintang-gemintang. 


Kapan awan gelap melengkung, 


Untuk mengusap langit cerahmu - 


Memukul, melolong, menggelombang, 


Menyapu, dan mengoyak sekawanan kabut... 


Hingga awan pun terlenyapkan, 


Namun, masa lalu penuh kecemasan,


Perlahan meningkatkan deburan ketakutan 


Untuk waktu yang begitu panjang, 


Langit pun kembali cemerlang 


Tanpa mendatangkan keheningan; 


Paras parasaanmu tampak menipu: 


Bingung sembunyikan tapal kematian, 


Aku mengagumi dan mengasihi laut biru. 


Zhukovsky