King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 59 A & A



Mansion utama Ben Petra


kamar utama Alima.


Alima terlihat meremas sebuah kertas yang ada di tangan nya saat ini dengan sekuat tenaganya, silakan apinya marah menggebuh dan berhati-hati ya di balik bola mata wanita tersebut.


Rahangnya mengeras dengan sempurna sembari dia mencoba mengeratkan giginya, jangan ditanya bagaimana perasaannya saat ini namun dia benar-benar merasa kesal dan marah seolah-olah apa yang dia inginkan dan apa yang terjadi saat ini benar-benar di luar ekspektasi dan juga kemauannya.


"Brengsek"


satu umpatan penuh kekesalan keluar dari mulut wanita tersebut, detik berikutnya wanita tersebut menghantam meja yang ada di hadapannya dengan penuh kemarahan.


itu adalah pesan yang dikirim oleh seseorang suruhannya dari kereta Orion Express mewah.


Cukup sulit untuk bergerak membinasakan nya, nyonya. Adalrich terus mengikuti perempuan tersebut kemana pun dia melangkah.


Itu adalah barisan dengan barisan kalimat yang dituliskan oleh orang kepercayaannya.


wanita itu pikir bagaimana bisa putranya terus melindungi Adeline, jika dulu suaminya yang melindungi perempuan tersebut, kini bagaimana bisa Adalrich juga ikut melindungi adeline.


"Sebenarnya kemana arah tujuan mereka?"


Nyonya Alima mengeram kesal, dia pikir kemana semua orang akan pergi?!. Adeline, Adalrich, Chaddrick kecil dan sekarang suami nya Petra ikut menghilang.


"Akhhhhhh"


Pranggggg.


dengan penuh kemarahan wanita itu berteriak sembari menghantam apapun yang ada di hadapannya ke lantai.


Sang pelayan terlihat diam tidak berani mengeluarkan suaranya, bola matanya melirik ke arah pecahan keramik ini ada di atas lantai untuk beberapa waktu.


"Bahkan Petra menghilang sejak malam kemarin, apa sebenarnya yang direncanakan semua orang di belakangku?"


wanita itu kembali mengeram dengan perasaan kesal.


semua orang yang seharusnya menjadi bagian keluarga nya menghilang, dengan dalih perjalanan dinas untuk pergi ke Hamburg, itu semua minum kepingan masuk akal karena yang dia tahu Adalrich harus mengikuti pertemuan yang di adakan di Hamburg oleh sebagian para petinggi negara dan juga para jenderal elite seluruh dunia.


tapi membawa Adeline serta Chaddrick menurutnya terlalu berlebihan, sebab di masa lalu setiap kali Petra melakukan perjalanan dinas dia sama sekali tidak pernah diajak ikut serta ke dalam perjalanannya.


seolah-olah dirinya tidak memiliki harga sama sekali diantara semua orang juga di hadapan Petra.


"Perjalanan dinas? hah.... yang benar saja"


Dia mendengus kemudian menoleh kearah sisi kanan nya, bola mata nyonya Alima mana tahukah telepon rumah mendominasi berwarna hitam di sisi kanannya tersebut untuk beberapa waktu, hingga akhirnya wanita itu beranjak dari tempat duduknya demam akan berjalan mendekati telepon tersebut.


jemari-jemarinya dengan cepat memutar tombol bulat yang berisi angka untuk menyambungkan panggilan itu kepada seseorang.


cukup lama dia menunggu jawaban dari ujung sana hingga pada akhirnya panggilannya tersambung dengan seseorang.


"di mana kau kini?"


sebaris pertanyaan tersebut meluncur dari bibir wanita itu, dia menunggu jawaban dari seberang untuk beberapa waktu, cukup lama hingga akhirnya nyonya Alima kembali berkata.


"Temui aku di xxxxxxxx sore ini juga secepat nya"


ucap wanita itu kemudian.


"putri Monac telah kembali, aku pikir tidak hanya satu tapi kedua putri nya telah bergerak merancanakan sesuatu untuk menggagalkan pemilihan berikut nya dan naik melalui orang-orang di belakang kita"


Ucap nyonya Alima lagi kemudian.


*****


Disisi lain.


Bagian hutan xxxxxxxx


diantara keheningan hutan di mana susunan pohon-pohon yang diliputi oleh salju putih yang menebal karena salju terdengar deru suara Mobil yang menderu memecah hutan tersebut.


Dibagian depan sebuah mobil mendominasi berwarna hitam terus melaju diikuti dua mobil dibelakang nya.


Aurora terlihat duduk di atas mobil yang ada di depan nya yang membawa dirinya, bisa dilihat seorang perempuan duduk tepat disampingnya sembari Perempuan tersebut sambil dia sibuk mengencangkan pakaian zirah nya, sebuah pistol diletakkan di sela-sela paha kanan nya.


"Apa kereta nya sudah terdengar?"


Nyonya Aurora bertanya pada sang pengendara mobil, dia mengintip keluar ke arah sisi kanan nya, dimana bisa dia lihat tumpukan salju semakin menebal sejak tadi.


"mereka bilang semakin mendekat, nona"


jawab sang dengan cepat.


Nyonya Aurora secepat kilat melepaskan rambutnya, dia mencetnya kencang ke atas secara perlahan, menampilkan bentuk elegan di dalam dirinya, kemudian dengan cepat dia merayap sebuah kain untuk membersihkan make up yang digunakannya.


"Anda yakin akan ikut bergerak, nona?"


perempuan di samping nyonya Aurora bertanya dengan cepat, dia menatap wajah sang nona nya untuk beberapa waktu.


Begitu make up perempuan tersebut terlepas, kembali penampilannya berubah dengan orang-orang yang tidak akan menyangka karena perbedaan signifikan antara make up yang pertama dan ketika dia tidak menggunakan riasan apapun di wajahnya.


"aku tidak mungkin tidak ikut turun saat ini, Alima dan tuan X kembali bergerak untuk memusnahkan semua orang"


ucapan Aurora dengan cepat, dia membiarkan perempuan yang ada di sampingnya itu mengencangkan pakaiannya, setelah memastikan pakaiannya coba terikat dengan sempurna perempuan itu meraih sebuah pistol dan meletakkan nya juga dipaha sisi kanannya.


"aku berharap tidak terjadi beku hantam atau tembakan sebelum acara penting agar tidak ada, jangan ada yang menarik senjata jika lawan masih belum menyadari keberadaan kita"


Lanjut Aurora lagi pada perempuan tersebut dan juga sang sopir nya.


"Yes Miss"


kedua orang itu menjawab dengan cepat.


"Aku hanya khawatir dengan keadaan Adeline, sebelum dia mendapatkan semua ingatan nya, dia mungkin tidak benar-benar bisa menjaga dirinya sendiri, pastikan orang-orang kita terus bergerak mengawasi dirinya dengan seksama, aku tidak ingin kehilangan adeline sekali lagi"


setelah berkata begitu perempuan itu membuang pandangannya, kini bola matanya menatap ke arah ujung sana di mana bisa dia dengar dan bisa dia lihat kereta Orion Express mulai menampakan posisinya.


"Mereka telah mendekati Hamburg"


Ucap perempuan di samping nyonya Aurora cepat.


"Bergerak cepat, pastikan semua orang telah bersiap dalam posisi masing-masing, lakukan pergantian tugas 2x dalam satu Hari"


Aurora bicara sembari bola matanya tersengat tapi ada kereta api yang terus berjalan mendekati mereka kemudian menembus area salju yang cukup tebal menuju ke arah bagian utara.


diiringi suara kereta api dan turbo kereta api yang semakin menjauh mereka ikut melanjutkan mobil mereka dengan kecepatan penuh menuju kearah Hamburg.


tidak ada lagi percakapan di antara mereka selama perjalanan yang terjadi, semua orang terlihat sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.


mereka menembus dinginnya hujan salju ibukota Jerman, membawa berbagai macam rahasia di dalam hati mereka masing-masing menuju ke dalam satu misi besar yang tersimpan di dalam diri mereka.