King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 78 A & A



Kembali ke Kediaman tuan presiden


Ulang tahun istri presiden.


"Pastikan kamu menyingkirkan calon kedua dengan bersih dan rapi"


Nyonya presiden kembali berbisik ke pada Ilse Kock.


"Tentu saja Nyonya."


Jawab Ilse Kock lagi.


"Jangan khawatir soal apapun, anda akan mendapatkan berita baik nya besok pagi"


Kali ini Ilse Kock mengembang kan senyuman nya sambil dia melepas kan pelukan nya dari nyonya presiden, dia kemudian bergerak menjauhi wanita tersebut secara perlahan.


Ilse Kock berjalan menuju ke arah depan sembari bola matanya menatap kearah sisi kiri dan kanannya, beberapa orang pengawal tempat berdiri tegak di sana hingga ke lantai atas.


Perempuan tersebut menganggukkan kepalanya lantas bergerak keluar dari gedung itu secara perlahan.


Mobilnya telah menunggu di luar sana bersama para orang-orangnya, dia masuk ke dalam mobil tersebut tanpa berpikir dua tiga kali.


Sang sopir yang seolah tahu kemana tujuan perempuan tersebut terlihat dia sembari mulai melanjutkan mobilnya ke arah depan ketika Ilse Kock telah masuk ke dalam mobilnya.


Tanpa pernah Ilse Kock sadari begitu mereka keluar dari sana beberapa orang tanpa mulai mengitari gedung dan bergerak dengan cepat masuk ke dalam.


******


Disisi lain.


Kediaman Calon presiden ke dua


Suara teriakan seketika memecah keheningan malam saat beberapa orang bersenjata lengkap tiba-tiba masuk ke dalam kediaman tempat tersebut.


Sang calon presiden kedua yang baru mulai terlelap dari tidurnya jelas saja langsung membulatkan bola matanya, diikuti oleh istrinya yang secepat kilat ikut bangun dari posisi tidur nya.


"akhhhhhhh"


Istri laki-laki tersebut berteriak misterius saat dia melihat segerombolan orang-orang dengan senjata lengkap mengarahkan ke arah mereka.


"Apa-apaan ini?"


Laki-laki tersebut jelas bertanya tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini, dia pikir ke mana para pengawal di rumah tersebut.


"Apakah ini sebuah pemberontakan atau satu cara untuk menyingkirkan seorang saingan?"


Lagi laki-laki itu bertanya sembari menatap satu persatu orang-orang yang ada di sekitar mereka.


Alih-alih menjawab pertanyaan dari laki-laki tersebut, dua orang terlihat langsung menarik tubuh laki-laki tersebut dan dua orang lain yang menarik tubuh wanita tersebut dengan cepat lantas membawa mereka menuju ke arah bagian tengah tempat tinggal tersebut.


Seolah-olah tahu apa yang terjadi dan siapa yang melakukannya laki-laki itu seketika langsung tertawa tidak percaya.


"Ilse Kock?"


Dia bertanya pada orang-orang yang ada di hadapannya.


"Seharusnya aku telah menduganya sejak awal, perempuan sialan itu akan menghianatiku dan Alima"


Ucap laki-laki tersebut kemudian.


Istri laki-laki itu tanpa ketakutan ketika sebuah pistol telah mengarah ke kepalanya, sedangkan sang laki-laki sama sekali tak gentar dia membiarkan tubuhnya dipaksa untuk berlutut sedangkan belakang kepalanya telah diacuhkan oleh moncong pistol.


"Sekalinya seekor anjing, pada akhirnya dia akan tetap menjadi anjing untuk orang lain"


Ucap laki-laki tersebut lagi.


Klatakkkkk.


Bisa dia dengar seseorang mengokang senjata dari arah belakangnya, laki-laki itu memejamkan bola matanya dan bersiap mati saat ini juga tapi satu hal tidak terduga terjadi.


Klatakkkkk.


Klatakkkkk.


Beberapa segerombolan orang berpakaian serba hitam tiba-tiba masuk dan mengepung semua tentara yang berada di ruangan tersebut.


Hal itu sontak membuat semua orang membulatkan bola matanya, mereka akan menyerang namun tiba-tiba satu orang melesatkan senjata ke arah kepala laki-laki berpakaian tentara di samping calon presiden kedua.


Casshhhh.


Brakkkkkk.


Seketika laki-laki tersebut tumbang dan  membuat semua orang terkejut setengah mati.


"Turunkan senjata kalian"


*******


Di sisi lain


Di bagian hutan xxxxxxxx.


Perempuan tersebut mengerutkan keningnya saat tiba-tiba mobil yang dia tumpangi berhenti secara mendadak.


"Ada apa?"


Ilse Kock bertanya dengan cepat kepada sang supir sambil bola matanya menetap ke arah depan, tidak tahu kenapa laki-laki yang membawa mobilnya tiba-tiba menghentikan gerakan dalam melajukan mobilnya.


"Nona?"


Laki-laki itu menatap ke arah depan dengan pandangan aneh, seketika membuat Ilse Kock ikut menatap ke arah depan sejenak untuk beberapa waktu, dia mencoba untuk menajamkan pandangannya hingga akhirnya tiba-tiba.


Klatakkkkk.


Klatakkkkk.


Tokkkk.


Tokkkk.


Di bagian sisi kiri dan kanan mobilnya beberapa orang mengarahkan senjata ke kaca jendela mereka, kemudian orang mengetuk kaca jendela mereka dengan cepat.


Hal tersebut jelas membuat Ilse Kock langsung terkejut dan mengerutkan keningnya, dan diketik selanjutnya seketika dia membulatkan bola matanya saat sadar apa yang terjadi.


Klatakkkkk.


Sang sopir tiba-tiba menghadap ke arah belakang dan mengarahkan pistolnya ke arah Ilse Kock.


"kau ..?"


Perempuan itu seketika tercekat dan terkejut, juga tidak menyangka jika dia dikhianati oleh orang-orang terdekat nya.


"apa kau sudah gila?"


Seketika perempuan itu marah besar saat menyadari hal tersebut.


Alih-alih menjawab ucapan Ilse Kock, laki-laki tersebut cuma menaikkan ujung bibirnya kemudian berkata.


"Kurang jelas saat melihat seseorang, Ilse Kock"


Setelah dia bicara seperti itu dia langsung memerintahkan perempuan itu untuk keluar dari mobilnya.


Ilse Kock jelas tidak memiliki pilihan, keluar dari mobil tersebut dengan perasaan penuh kemarahan.


Begitu dia keluar dari mobilnya bisa dilihat beberapa anak buahnya telah diacungkan senjata oleh orang-orang yang asing tersebut.


"Kau Bekerja atas perintah siapa?"


Dia bertanya dengan cepat dan ingin tahu siapa yang memerintahkan untuk menghianati dirinya, dan dia ingin tahu kawanan siapa para laki-laki berpakaian serba hitam tersebut.


Sedangkan tangan Ilse Kock seolah-olah bersiap untuk meraih senjata yang ada di paha kanannya sembari bola matanya terus menatap tajam para sopirnya lantas berpaling ke beberapa laki-laki yang ada di hadapan nya itu.


"Kau tahu apa akibat menghianati diriku?"


Perempuan itu bertanya pada sopirnya.


"Kau telah kehilangan para pengikut mu, tidakkah kamu menyadarinya? Bahkan kau dan alima telah terpecah sehingga kalian tidak memiliki kekuatan apa-apa"


Ucap laki-laki tersebut sambil menyunggingkan senyumannya.


Jawaban laki-laki itu membuat Ilse Kock menggenggam erat telapak tangannya.


"kau..."


Iya mereka tahu pada akhirnya Ilse Kock dan nyonya Alima terpecah, itu jelas akan mempermudah mereka untuk menghancurkan satu persatu dari kedua orang tersebut.


Ketika persatuan Buyar dan tidak terkendali, maka seseorang bisa memanfaatkan kesempatan untuk menghancurkan orang-orang serakah seperti itu.


"Kau tidak menjawabku, siapa yang memerintahkan untuk melakukan semua ini?"


Ilse Kock bersiap untuk menarik pistol nya.


Namun di detik berikutnya seketika dia membulatkan bola matanya saat tiba-tiba seseorang keluar tepat di sisi kanannya.


"hallo Ilse Kock"


Satu suara mengejutkan dirinya, membuat perempuan itu menoleh dengan cepat, Dan dia jelas langsung terkekeh saat menyadari siapa yang ada di sisi kanannya.


"kau.. rupanya"


Ucap perempuan tersebut sambil mengeratkan rahangnya.


"Aku telah menunggu waktu lama ini untuk  bisa menghancurkan, akhirnya kita benar-benar saling berhadapan antara satu dengan yang lain, Ilse Kock"


Usia sosok itu sambil mengembangkan senyuman liciknya.