
Edgard mendengus tidak percaya saat dia fikir kematian sudah ada di hadapannya, saat perempuan itu dengan gerakan cepat akan menghantam jantung nya dengan pisau dan dia sudah bersiap dengan kematian nya, tiba-tiba Zehra berkata.
"Kau berhutang satu nyawa pada ku, satu hari aku akan menagihnya bersama bunga nya"
Seketika Edgard membuka bola mata nya.
"Ya?"
Tapi tahu-tahu Zehra telah melasat pergi menjauhi dirinya begitu saja.
Dan perempuan itu benar-benar mendapatkan mahkota nya meskipun pada akhirnya Zehra merasa cukup kecewa jika 1 kawan nya Tumbang karena Edgard.
********
Zehra berjalan perlahan menaiki anak tangga satu persatu, cukup merasa berduka dan bersalah atas kematian 1 kawan nya, awalnya dia fikir jika berjalan sesuai rencana, semua pasti akan selamat dan kembali ke tempat seharusnya tapi rupanya tidak semua rencana akan berjalan sesuai dengan keinginan nya.
Seorang laki-laki berusia sekitar 50'an lebih itu mengikuti langkah Zehra, hanya berjalan sambil terus menundukkan kepalanya.
"Apa nona tidak ingin makan?nona belum makan sama sekali sejak siang tadi"
Ucap laki-laki itu sambil terus mengikuti langkah Zehra.
Sang pelayan kepercayaan the Cullen itu terus berusaha membujuk zehra untuk mendapatkan makanannya, sejak semalam perempuan itu berduka, dan hanya mendapatkan makan pagi nya saja tanpa menyentuh makan siang nya sama sekali hingga malam hari.
Selain berduka dia fikir mungkin sang nona merasa kecewa karena tidak melindungi orang-orang yang seharusnya dia lindungi.
Dia tahu disinilah kelemahan Zehra sejak dulu sejak masih anak-anak,Meskipun Zehra bisa bersikap begitu agresif, lincah dan mampu melakukan banyak hal, putri Cullen satu ini selalu menggunakan hatinya. Karena itu, dulu Cullen acapkali mendidik sang putri dengan cara yang begitu keras agar menghilang kan hati nurani nya, tapi realita nya ingin seperti apapun mendidik nya, pada dasarnya akan sangat sulit untuk mengubah karakter seseorang yang sejak lahirnya sudah lembut hatinya.
"Aku sama sekali tidak lapar, uncle"
Jawab Zehra pelan.
Dengan buru-buru laki-laki tua itu membuka pintu kamar Zehra, membiarkan sang nona nya untuk masuk kedalam.
"Aku hanya butuh istirahat, tidak usah"
Ucap Zehra pelan lantas perlahan menuju ke tempat tidur nya.
"Meskipun anda merasa bersedih dan berduka, mungkin Anda merasa cukup kuat untuk tidak mengkonsumsi apapun sejak siang tadi, tapi mohon nona jangan lupa bayi didalam perut nona butuh asupan nutrisi dan gizi yang baik dari tubuh nona"
Laki-laki itu bicara cepat sambil terus menundukkan kepalanya.
Sejenak Zehra diam, dia menggigit pelan bibir bawahnya.
"Maafkan aku uncle"
Ucap Zahra penuh penyesalan, seolah-olah dia lupa jika saat ini ada makhluk kecil yang terus berkembang didalam tubuhnya dan tengah membutuhkan perhatian dari dirinya.
"Anda tidak perlu minta maaf pada saya nona, saya hanya seorang pelayan yang bertugas mengingat kan'
Zehra hanya menghela pelan nafasnya, berusaha untuk membaringkan tubuhnya yang lelah.
"Letakkan saja di atas meja, aku ingin beristirahat sejenak, uncle"
Setelah berkata begitu Zehra mulai memejamkan bola matanya.
Laki-laki tua itu tampak diam, dia menundukkan kepalanya sejenak lantas Secara perlahan mulai pergi dari sana.
Ditengah sang nona muda yang masih membaringkan tubuhnya untuk beristirahat dan tidur, beberapa pelayan tampak sibuk menata beberapa menu makanan di atas meja, setelah itu secara perlahan mereka mulai keluar dari ruangan.
Sang pelayan laki-laki tua tadi masih berdiri disana, membenahi selimut di tubuh Zehra lantas laki-laki itu berjalan mendekati jendela, menundukkan kepalanya secara perlahan pada satu sosok tubuh yang berjalan masuk kedalam tanpa mengeluarkan sedikit pun suara nya.
Pelayan tersebut mengulas senyuman, membalikkan tubuhnya kemudian berjalan keluar dan memastikan kamar sang nona terkunci dengan baik tanpa gangguan.