
Disisi lain
Nyonya Alima terlihat berjalan tergesa-gesa menuju ke arah depan, seorang pengawal menundukkan kepalanya di hadapan wanita tersebut kemudian dia membuka pintu mobil dan membiarkan wanita itu masuk ke dalam mobil nya.
Seolah-olah tahu ke mana tujuan wanita tersebut, sang pengawal buru-buru langsung naik ke bagian kursi kemudi, mereka pada akhirnya pergi dari sana dengan cepat tanpa harus menunda waktu lagi.
"Bergeraklah lebih cepat sebelum mereka kembali ke Mansion"
Ucap nyonya Alima cepat, dia mencoba untuk membiarkan bola mata nya terus menatap lurus kearah depan.
Wanita itu tahu Adalrich dan yang lainnya akan pulang hari ini, meskipun dia tidak tahu semua orang akan kembali ke kediaman Petra pukul berapa, yang jelas dia pikir dia harus bergerak dengan cepat sebab masih ada beberapa urusan yang harus dia selesaikan.
"Baik nyonya"
Laki-laki tersebut menjawab dengan cepat.
Mereka bergerak dengan cepat menuju kearah Utara, tidak ingin menunda waktu sendikitpun karena hari pemilihan semakin merapat.
******
Kediaman calon presiden terpilih 2
Begitu mobil mereka tiba di sana nyonya Alima secepat nya melesat turun Dari mobil miliknya, bergerak cepat masuk ke kediaman sekutunya tersebut.
"Apa ada sesuatu yang buruk terjadi?"
Seorang laki-laki berusia sekitar 48 tahunan bertanya cepat kearah nyonya Alima sembari memberikan salamnya,dia bergerak berjalan beriringan dengan wanita tersebut.
"Kita harus bergegas melakukan rencana A"
Tanpa basa-basi wanita tersebut bicara cepat, membiarkan kaki nya melangkah masuk kedalam mansion tersebut dan terus bergerak ke dalam.
"Ini seperti sebuah pernyataan perang terang-terangan?"
Laki-laki tersebut bertanya cepat, menatap kearah nyonya Alima juga dengan sejuta kemungkinan, dia pikir wanita di samping nya itu benar-benar akan melakukan nya,
"Kau bisa melihat nya sendiri, presiden terpilih sudah bergerak mengkhianati ku dengan membuat konflik sendiri.
Mendengar ucapan wanita tersebut dia diam.
"Pemilihan tinggal menghitung hari, kita akan menyikirkan siapa pun yang bergerak diam-diam mencoba berkhianat dibelakang semua orang"
*Nyonya yakin dia berkhianat?"
"Tidak perlu bukti banyak saat tahu dia mengirim beberapa orang untuk mengikuti ku, kau tahu dia mencoba untuk mengarahkan pedang dan pistol nya ke arah leher ku.
Ucap wanita tersebut sambil menghentikan langkah kakinya, menatap laki-laki dihadapan nya dalam keheningan.
******
Kembali ke 1 hari yang lalu.
PersiapanPerjalanan menuju ke istana negara.
Ulang tahun istri presiden.
Alima terlihat bergerak naik ke atas mobil miliknya di bantu oleh sang pelayan kepercayaan nya, dia membiarkan beberapa pelayan menyusun beberapa barang untuk di kirim ke istana negara sebagai bentuk kado kiriman untuk istri presiden .
Hari ini Wanita itu merayakan ulang tahun nya, meskipun tidak digelar secara besar-besaran karena takut menimbulkan konflik besar menjelang pemilihan dan takut mengancam nyawa mereka jika menggelegar pesta besar-besaran, istri presiden memutuskan hanya mengundang beberapa orang untuk merayakan pesta ulang tahun nya.
Alima jelas bergerak cepat, menyiapkan beberapa hadiah untuk wanita kesayangan presiden dengan beberapa kado istimewa sebagai hadiah ulang tahun nya.
Bola mata wanita wanita tersebut menatap satu persatu hadiah yang di siapkan nya masuk ke bagian belakang mobil yang di naiki nya, memastikan jika tidak ada barang yang tertinggal.
"Pastikan semua dimasukkan dan tidak ada yang kurang dari mereka"
ucap dan perintah nya cepat.
"Baik nyonya"
Nyonya Alima tersenyum puas, membiarkan semuanya memasukkan semua hingga selesai.
Dia sengaja mengirimkan beberapa hadia untuk wanita tersebut, mengingat istri presiden punya selera bagus dan sedikit serakah soal barang antik, memberikan beberapa hadiah atau sedikit banyak hadiah jelas bukan Masalah besar.
Pada akhirnya wanita tersebut menganggukkan kepalanya, dia membuang pandangannya saat semua barang telah di masukkan dan para pelayan mengangguk kan Kepala mereka dan berkata mereka sudah selesai dengan semua nya.
"Anda yakin tidak membawa Ilse Kock dalam perjalanan, nyonya?"
Sang pelayan bertanya dengan cepat.
"Tidak perlu, aku pikir bukan hal yang naik membàwa nya pergi, temperamen perempuan tersebut sedang tidak baik, kau tahu? Adalrich benar-benar membuat dia marah besar karena membatalkan pertunangan mereka"
Setelah Berkata begitu nyonya Alima menutup jaring di topi nya, membiarkan wajah nya tertutup dengan baik dimana para wanita berkelas di Jerman menggunakan topi yang sedang menjadi trend mereka saat ini.
Mendengar jawaban nyonya Alima sang pelayan mengangguk pelan, memilih ikut naik ke mobil kuda besi tersebut dan duduk di samping nyonya Alima.
Sebenarnya pergi tanpa banyak pengawasan cukup membuat takut beberapa orang saat ini, meskipun sebenarnya orang-orang Alima banyak yang bergerak dibelakang diam-diam melindungi nya mengingat semakin dekat pemilihan umum, semakin banyak gonjang-ganjing yang terjadi di tengah konflik demi konflik yang memicu.
Sebab siapa yang membela dan mendukung siapa jelas akan memiliki ancaman tersendiri untuk nyawa mereka, meskipun nyonya Alima tidak menampakkan siapa sebenarnya yang dia pilih, namun mengingat respon yang diberikan nya belakangan membuat tuan presiden berpikir Alima perlahan menjauh dan tidak memberikan dukungan nya seperti di pemilihan masa lalu.
Meskipun tidak di pungkiri nyonya Alima kini berpaling, tapi wanita tersebut tidak menampakkan keadaan berpaling nya pada banyak orang, wanita berwajah 12 tersebut pandai menempatkan situasi.
Mobil yang mereka naiki mulai bergerak menuju kearah istana negara, dibawa oleh sopir kepercayaan nya, mobil tersebut terus melaju dengan tenang memecah keheningan malam.
Semua terlihat cukup tenang tanpa hambatan, tidak ada yang perlu di khawatir kan sama sekali untuk mereka, hingga melewati setengah perjalanan tiba-tiba mobil tersebut berhenti begitu saja.
"Ada apa?"
Wanita tersebut bertanya sembari mengerutkan keningnya, dia bertanya cepat kearah sang sopir yang tiba-tiba saja berhenti mendadak tanpa perintah.
"Aku rasa beberapa orang mengikuti kita"
Sopir tersebut baru bicara namun tiba-tiba,
Ssrrttttt.
Casshhhh.
Satu tembakan melesat mengenai kepala sang sopir, tepat melesat ditengah-tengah keningnya sang sopir nya, Seketika sopir tersebut ambruk dalam keheningan malam.
Sang pelayan tercekat, membulatkan bola matanya karena terkejut.
Alima jelas terlihat berang, dia membulatkan bola matanya, wanita itu tampak menggeram.
"Berani-beraninya"
Dia bicara dengan penuh kemarahan.
Bisa dia lihat beberapa orang bergerak mendekati mereka dari sisi kiri, kanan dan depan, mengepung mobil Alima dengan cepat.
Namun siapa sangka detik berikutnya tiba-tiba saja beberapa orang bergerak dengan cepat menembus warna malam, para orang-orang berpakaian hitam datang dari arah belakang dan sisi kiri dan kanan dibelakang dengan cepat.
Membuat orang-orang yang bergerak lebih awal terkejut dengan keadaan.
Klatakkkkk.
Klatakkkkk.
Suara senjata yang di kokang memecah keheningan dan langit malam.
Semua penyerang awal yang didepan terlihat terkejut dan membulatkan bola mata mereka, para laki-laki berpakaian hitam dibelakang mereka bersiap untuk menembak saat ini juga.
******
Disisi lain
Kediaman tuan presiden
Ulang tahun istri presiden.
Ilse Kock terlihat turun dari kuda besi miliknya yang tak lain mobil Volkswagen milik nya yang berwarna hitam, seulas senyum licik mengembang di Balik bibir nya saat ini.
Beberapa orang-orang yang terlihat menundukkan kepala mereka, setelah memastikan perempuan tersebut turun dari dalam mobilnya beberapa orang secara perlahan mengeluarkan berbagai macam bingkisan dari dalam mobil tersebut.
Ilse Kock telah menyiapkan kado khusus untuk istri presiden di malam ulang tahun, dia sengaja mengingatkan beberapa kado istimewa untuk menarik perhatian perempuan tersebut.
Bisa dilihat di depan sana orang-orang mulai memenuhi halaman kediaman istana kepresidenan, tidak dipungkiri orang-orang berlomba-lomba untuk menarik perhatian dan juga mendapatkan muka mereka dihadapan para calon presiden dan juga nyonya presiden selanjutnya.
Dan saat ini Ilse Kock serta orang-orang yang ada di sekitar sini memilih untuk bertahan pada presiden lama yang mereka yakini akan kembali memimpin.
Hanya ada tiga calon presiden yang akan bergerak saat ini, posisi presiden yang masih bertahan jelas cukup kuat mengingat banyaknya pendukung dan juga money politik yang dia keluarkan untuk tetap bertahan pada posisi.
Sedangkan calon presiden mulai kedua Memang Ilse Kock akui dia cukup kuat didalam keadaan, tapi perempuan itu harus berpikir dengan tiga kali untuk mendukung calon presiden kedua mengingat jika calon ke dua tidak memiliki terlalu banyak politik uang yang bisa digelontarkan untuk menjanjikan kemenangannya pada semua orang.
Sudah bukan hal yang ada lagi di dalam pemilihan mengandalkan kata atau istilah money politik.
Sedangkan calon presiden ketiga jelas saja tidak mencolok dan tidak terdapat kekhawatiran besar mengingat sosok itu hanya datang dari kalangan kelas bawah, mencoba peruntungan untuk naik menyingkir kan dua calon lainnya.
Jadi dia tidak perlu melirik kepada calon ketiga.
Biasanya di dalam menjelang pemilihan orang-orang telah menetapkan mereka akan bersekutu dengan siapa, memberikan dukungan mereka dengan siapa dan akan menyingkirkan siapa.
Rata-rata mereka akan bermuka dua, memberikan dukungan mereka kepada salah satu calon dengan tujuan untuk mendapatkan keuntungan kedepannya.
Bahkan tidak heran akan ada politik uang juga timbal balik jasa dukungan dalam setiap pencalonan dan juga politik kepemimpinan serta jaminan kesetaraan.
Politik money atau politik uang jelas menjadi satu Momok yang telah biasa terjadi dalam sebuah pemilihan, orang-orang akan memilih presiden atau bertahan pada calon.
Politik uang (Money politic) adalah suatu bentuk pemberian atau janji menyuap seseorang supaya orang tersebut memilih calon pemimpin tertentu. Politik uang sudah menjadi salah satu kasus yang hingga saat ini masih terjadi dan menimbulkan masalah dan menjadi salah satu kebiasaan para calon pemimpin baik kepala daerah, DPR, DPRD bahkan sudah merambah ke sendi2 masyarakat kampung lewat pemilihan kepala kampung demi mendapatkan dukungan yang banyak dari masyarakat. Dengan menjanjikan uang atau materi lain yang dapat bernilai uang untuk memengaruhi pemilih artinya masyarakat yang terdaftar dalam DPT yang melaksanakan Pemilihan diberi (suap) uang, materi lainnya atau dijanjikan akan diberi (suap) uang atau materi lainnya asal mau menjatuhkan pilihannya kepada calon pemimpin tertentu atau tidak menjatuhkan pilihannya.
Pemberian uang atau dalam bentuk materi lainnya atau janji akan memberi uang atau materi lainnya yang bernilai uang dalam konteks politik uang dilakukan calon-calon pemimpin melalui para tim sukses dengan berbagai cara agar mereka memenangkan atau Maraup suara sebanyak-banyaknya dari masyarakat. Politik uang bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti persaingan dan karena masyarakat yang kurang cerdas, masyarakat yang belum sejahtera, iming-iming kekuasaan yang kelak diterima sangatlah tinggi, moralitas bobrok, dan kurangnya kreativitas serta peraturan yang kurang maksimal.
Sedangkan timbal balik saja biasanya dijanjikan oleh sang calon pemimpin kepada para pendukungnya, siapa yang berani mendukungnya dan membuat dirinya menang di dalam pemilihan maka Sang pemimpin yang akan memenangkan kursi pemilihan akan memberikan timbal balik jasa berupa proyek penting dengan uang berlimpah setelah dia memimpin satu kepemimpinan.
Dia akan memuluskan dan melancarkan usaha banyak orang setelah dia menjadi presiden terpilih nanti.
Hal tersebut sudah sangat biasa dilakukan oleh para calon-calon licik yang ingin mendapatkan kekuasaan, dan itu sudah menjadi lazim dan sangat murah di dalam satu pemilihan kepemimpinan di negara manapun.
Ilse kock dengan cepat bergerak menuju ke arah pintu masuk utama rumah utama kepresidenan.
Bola mata perempuan tersebut menatap lurus dan tajam ke arah depan, dia memperhatikan satu persatu orang-orang yang ada di sana yang mulai masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sedangkan orang-orangnya secara perlahan mulai membawakan hadiah menuju ke arah dalam.
Bisa dilihat sudah banyak yang telah mencoba untuk mencari muka saat ini pada istri presiden.
Perempuan itu bergerak masuk menuju ke roda anak mendekati istri presiden, di mana bisa dia lihat di ujung sana seorang wanita tampak duduk di atas kursi mahoni yang berukir kan bak tahta kerajaan, senyuman palsu tersirat di balik wajah wanita tersebut, gimana bisa dilihat orang-orang mulai berhamburan mendekati dirinya mengajaknya bicara dan memberikan berbagai macam hadiah.
Ilse Kock jelas bergerak menuju ke arah depan sana dan mulai melancarkan aksinya untuk mendapatkan muka di depan wanita tersebut.
Dia jelas memiliki rencana lain dalam pemilihan kali ini, dan dia tidak harus bersekutu dengan Alima, Karena Ilse Kock jelas tahu nyonya Alima pasti lagi-lagi telah membuat rencana di belakang semua orang yang mendukung dirinya.
Wanita tua itu selalu bergerak di luar rencana dan juga bergerak di luar pemikiran orang-orang yang dekat dengannya, bahkan Ilse Kock mulai mencurigai wanita itu, jika bisa saja ibu Adalrick sedang berencana untuk menyingkirkan dirinya.
Karena bukan rahasia lagi wanita tersebut selalu mampu memikirkan siapapun yang tidak dia inginkan bahkan meskipun itu adalah anak dan menantu sendiri.
Jadi dia pikir sebelum dia disingkirkan oleh nyonya Alima, maka sebaiknya dia bergerak dengan cepat untuk membuat perlindungan diri dari temeng untuk dirinya sendiri.
Ada istilah yang berkata siapkan payung sebelum hujan atau bahkan jangan lupa gunakan pelindung plastik untuk membuat kamu tidak basah.
Begitu Ilse Kock tiba di hadapan Nyonya presiden, perempuan itu langsung mengembangkan senyuman nya, dia memberikan salam dengan cara yang sangat ramah kemudian memeluk wanita tersebut sembari mengucapkan selamat.
"Semoga panjang umur dan sehat selalu, nyonya"
Ucap perempuan itu sembari membiarkan tubuhnya dan tubuhnya yang presiden saling menyatu antara satu dengan yang lainnya.
Mendapatkan ucapan selamat dari perempuan yang ada di hadapannya itu membuat Nyonya presiden mengeluarkan tawa khasnya, kemudian perempuan tersebut berbisik.
"Apa kau telah menyelesaikannya?"
Kemudian Ilse Kock membalas ucapan nya.
"Anda tidak perlu khawatir, nyonya"