
Mansion utama Adalrich
Kamar tidur utama.
Adeline tersentak dari tidur panjangnya ketika dia mendengar suara samar-samar orang-orang yang terdengar seperti sebuah bisikan dibalik telinga nya serta beberapa gerakan telapak kaki yang cukup mengganggu pendengaran nya.
Adeline secara perlahan membuka bola matanya kemudian berusaha untuk membiasakan bola matanya tersebut pada pemandangan yang ada di sekitarnya.
dia pikir dia berada di sebuah kamar yang cukup besar dan megah di mana bisa dia lihat di sisi atap kamar tersebut terlihat goresan ukiran-ukiran indah berlapiskan emas ala jaman kerajaan.
bahkan beberapa perabotan kamar bisa
dia lihat merupakan perabotan-perabotan pada zaman kerajaan Inggris yang tersusun dengan begitu rapi dan indah.
Adeline baru sadar terdapat sekitar 4 orang perempuan yang ada di dalam kamar tersebut yang tengah menggunakan pakaian seperti seorang pelayan di zaman kerajaan Inggris di mana keempat orang tersebut terlihat sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing sembari mengobrol memunggungi dirinya.
sepertinya 4 perempuan itu belum sadar jika Adeline telah terbangun dari tidur lelapnya.
mereka terlihat sibuk membereskan kamar tersebut dan berbagi tugas, bahkan sesekali terdengar obrolan diantara mereka dengan suara yang sedikit berbisik-bisik.
"Aku khawatir jika musang betina itu datang dan menyadari soal kenyataan tentang nona muda"
salah seorang dari keempat orang tersebut bicara dengan sedikit khawatir.
"ini cukup berbahaya jika mereka tahu soal Nona muda yang telah terjaga"
kembali satu perempuan yang lainnya menyahut secara perlahan.
"ya semua orang jelas mengkhawatirkan keadaan saat ini, jenderal mungkin saat ini bisa menyembunyikan Nona muda dari dunia luar tapi itu jelas hanya sementara waktu, cepat atau lambat semua orang akan tahu soal kenyataan yang terjadi di masa lalu"
lagi perempuan lain nya bicara dengan nada sedikit khawatir, ucapan mereka membuat Adeline menaikkan ujung alisnya.
dia pikir siapa sebenarnya yang orang-orang itu bicarakan.
"aku hanya berharap Nona muda tidak terkecoh lagi dan menjadi lemah karena perempuan rubah dan juga nyonya Calister"
Lagi suara salah satu dari mereka kembali terdengar sama-sama.
"ya kau benar, harapanku adalah Nona muda menjadi jauh lebih kuat dan bisa merobohkan dua perempuan mengerikan itu persis seperti sebuah keajaiban"
setelah salah satu dari mereka kembali menjawab, keempat orang itu terlihat diam tak bersuara.
Keheningan tiba-tiba terjadi untuk waktu yang cukup lama, tidak ada lagi yang berani mengeluarkan suara mereka kecuali tangan mereka tetap bergerak untuk membersihkan dan membereskan kamar tersebut.
hingga akhirnya Adeline tidak sengaja membuat dirinya batuk.
ketika mendengar perempuan tersebut terbatuk-batuk seketika semua orang langsung menoleh ke arah belakang, mereka semua cukup terkejut karena sadar jika nona mereka kini ada lainnya telah berpindah dan bersandar di ujung kasur.
Keempat orang tersebut seketika langsung bergerak mendekati Adeline, mereka bersikap begitu sopan menundukkan kepala dan sedikit membungkukkan tubuh mereka secara perlahan.
"Anda sudah bangun nona?'
salah satu dari ke empat orang tersebut bertanya ke arah Adeline, bisa Adeline lihat usia perempuan yang Bicara kearah Adeline itu terlihat jauh lebih tua sekitar 5 atau 6 tahun dari ketiga orang yang lainnya.
Dia pikir pasti sosok perempuan yang ada dihadapan nya tersebut yang di anggap paling tua di antara mereka semua.
"Iya"
Adeline pada akhirnya menjawab kemudian mencoba untuk membenahi posisi nya.
"Apakah ada yang membuat anda tidak nyaman nona?"
Perempuan itu kembali bertanya, buru-buru mendekati Adeline dan perlahan menyerahkan secangkir air putih yang terletak di atas nakas.
Adeline pikir semua tentu saja membuat dirinya nyaman.
"Aku pikir tidak, jangan khawatir soal apapun"
Adeline menjawab cepat, kali ini perempuan tersebut berusaha untuk kembali membenahi posisi nya,. keempat perempuan dihadapan nya itu terlihat saling melirik.
"Apa kalian bertiga bertugas membereskan kamar ini?"
Adeline bertanya sambil membenahi posisi nya kembali, dia berusaha menyamankan posisi tidurnya dan berencana untuk kembali beristirahat dan kembali mencoba menyandar kan tubuhnya.
Tapi belum juga dia mendapat kan jawaban dari salah satu keempat orang itu tiba-tiba dia mendengar suara pintu kamar tersebut dibuka.
bola matanya menatap awas ke arah sisi kanannya tersebut melihat siapa yang masuk melewati pintu depan kamar itu.
Begitu perempuan itu telah memastikan siapa sosok yang barusan masuk ke dalam kamar tersebut dan menutup pintu kamar itu secara perlahan seketika Adeline mengerut kan keningnya ketika.
Oh laki-laki sialan itu lagi.
entahlah bagaimana mengatakannya demi apapun dia sangat tidak menyukai laki-laki yang berjalan mendekati dirinya saat ini.
Adeline hanya berharap ini hanya mimpi buruknya belaka, dia pikir kenapa begitu dia membukakan bola matanya dia sama sekali tidak mengenal siapapun yang ada di sekitarnya bahkan bisa-bisanya orang kedua yang dia lihat adalah laki-laki tersebut.
Siapa kata nya?!.
jendral besar?!.
Yeah dia bertampang seram seperti seorang jenderal besar.
Fuhhhh.
Adeline menghela kasar nafas nya, Perempuan tersebut mencoba membuang pandangannya untuk beberapa waktu.
"Sudah Bangun?"
Laki-laki itu, Adalrich bicara Sembari melangkah mendekati Adeline, dia membawa nampan berisi makanan dan segelas susu didalam nya, dengan gerakan perlahan laki-laki itu meletakkan nampan tersebut di atas meja nakas yang terletak di sisi kanan Adeline.
"Ya tuan"
Satu perempuan menjawab pelan.
Selanjut nya seolah-olah keempat orang tersebut paham harus melakukan apa, mereka langsung menundukkan kepala mereka lantas beranjak pergi dari kamar tersebut dengan cepat.
Begitu mereka bergerak keluar, seketika Adeline langsung bergerak cepat, memundurkan posisi tubuhnya saat dia sadar Adalrich telah duduk tepat di samping kasurnya.
Gerakan laki-laki tersebut terasa begitu kentara, membuat dia tersentak kaget dan sedikit panik.
Terasa aneh baginya saat seorang laki-laki naik ke atas kasur dimana dia berada.
"Mau apa?"
Adeline langsung bertanya sembari menaikkan ujung alisnya, dia merapatkan tubuhnya ke arah sandaran dinding ranjang.
Melihat ekspresi Adeline seketika membuat Adalrick menghentikan gerakan nya.
"Apa aku terlihat begitu menakutkan untukmu sayang?"
laki-laki tersebut bertanya sembari menaikkan ujung alisnya, bola matanya menutup jalan ke arah Adeline dia pikir setelah setakut itukah perempuan itu terhadap dirinya saat ini.
Padahal dia sudah memasang ekspresi sebaik mungkin.
Mendengar laki-laki tersebut memanggilnya sayang, Seketika membuat Adeline bergidik ngeri, dia meremang dan sedikit mual mendengar nya.
"Sayang?"
Adeline bertanya sedikit mengejek.
"Anda memanggil ku sayang tuan? terdengar sedikit menggelikan, aku pikir julukan itu hanya disematkan oleh sepasang suami istri "
Protes Adeline cepat.
Perempuan itu sedikit mencibir, berharap laki-laki dihadapan nya itu sadar dengan panggilan nya.
"Apakah aneh? aku pikir kita memang sepasang suami istri sejak dulu, jadi bukan hal yang aneh aku memanggil istri ku sendiri dengan sebutan sayang"
Jawab laki-laki itu kemudian.
"Apa kamu lupa jika kamu adalah istri sah ku?'
Lanjut laki-laki itu lagi kemudian.
Mendengar ucapan laki-laki itu seketika membuat Adeline terkejut setengah mati.
"Apa?"
Tanya nya dengan sedikit menganga.