
Masih di mansion tidak berpenghuni
Lewat tengah malam.
Ketika kedua orang yang paling dia sayangi tersebut terlihat telah terlelap di dalam tidur mereka, Adalrich masih setia duduk di atas kursi sofa sembari menatap dalam wajah kedua orang tersebut di mana laki-laki itu tampak duduk dengan gaya yang begitu dingin, sedikit menyilangkan kaki nya sembari tangan kanan nya terlihat menyentuh pelan ujung pelipis kanan nya.
Entah apa yang dipikirkan oleh laki-laki tersebut sejak tadi, tapi tatapan bola mata Adalrich seolah-olah menembus ke arah depannya begitu tajam dan dalam.
Ekspresi wajahnya menampilkan satu sisi dingin yang tidak pernah berubah sedikitpun sejak dulu, raut wajah penuh dengan ketidakramahan menjadi satu mama paling menakutkan untuk orang-orang yang melihatnya.
Sejak dulu hingga sekarang tidak ada yang ingin berurusan dengan laki-laki tersebut bahkan orang-orang terdekatnya sekalipun, karena mereka tahu sekalinya berurusan dengan Adalrich maka yang dipertaruhkan jelas adalah nyawa mereka.
Cukup lama Adalrick bertahan pada posisi tersebut sembari lagi-lagi itu mencoba untuk menarik nafasnya beberapa waktu, dia kemudian memijat-mijahan kepalanya secara perlahan seolah-olah ada satu beban besar dan berat yang menghantam dirinya kala ini.
Laki-laki itu terlihat mulai mengantuk, dia hingga akhirnya laki-laki itu secara perlahan beringsut dari posisi nya, dia bergerak dari sana secara perlahan menuju kearah dimana Adeline dan Chaddrick kecil terlelap.
Laki-laki tersebut secara perlahan naik ke atas kasur memilih untuk berbaring tepat di samping Adeline, dia sengaja tidak membuat pergerakan yang signifikan mengingat hal tersebut bisa mengganggu adeline dari tidur lelapnya, Adalrich dengan gerakan yang begitu lembut dan hati-hati naik ke atas kasur secara perlahan.
Begitu dia naik ke atas kasur itu Adalrick dengan gerakan sedikit ragu-ragu menatap kearah Adelia yang tidur dalam posisi miring sembari memeluk putra mereka, laki-laki itu mencoba untuk meletakkan tangannya di tubuh Adeline, memilih menenggelamkan dirinya kedalam kerinduan, memeluk sang istri nya secara perlahan.
Adalrich tahu mungkin lamban laut adeline akan menyadari kehadirannya, entahlah bagaimana reaksi istri nya nanti dia tidak tahu, tapi dia berharap sejenak saja dia bisa memeluk Adeline, memangkas kerinduan di antara mereka.
5 tahun jelas bukan waktu sejenak untuk mereka terpisah oleh keadaan, meskipun hidup Adeline nyata nya seperti orang yang mati dan tidak berdaya, hanya bisa dilihat namun realitanya sama sekali tidak bisa diajak bicara meskipun ingin sekali menenggelamkan perempuan tersebut ke dalam dekapannya realitanya Adeline benar-benar seperti manusia tak bernyawa.
Kini meskipun telah bangun dari tidur panjangnya, nyatanya Adalrich sama sekali tidak mampu untuk menggenggam Adeline, dia bahkan tidak memiliki daya kemampuan untuk merengkuh perempuan tersebut kedalam pangkuan nya.
Dia terkadang lelah ingin menyerah untuk bertahan, namun ketika dia ingat kesalahan-kesalahan yang telah dibuat pada masa lalu terhadap perempuan tersebut dia berusaha untuk melukis rasa menyerahnya dan tetap berpegang teguh untuk mencintai Adeline hingga Perempuan tersebut mengingat nya.
Hari ini dia begitu merindukan Perempuan tersebut, sangat, bahkan sangat merindukan nya.
"Maafkan aku"
Satu bisikan lembut lolos dari bibir laki-laki tersebut, dia semakin menenggelamkan dirinya ke belakang adeline, membiarkan perempuan tersebut masuk kedalam pelukan nya dimana tangan kanan Adalrich sengaja menggenggam erat telapak tangan kanan adeline.
Laki-laki tersebut berusaha untuk memejamkan bola matanya, membiarkan dirinya memupus kerinduan yang tidak terbendung lagi didalam dirinya.
Ketika Adalrich mencoba larut didalam asa nya, tiba-tiba saja satu suara mengejutkan dirinya.
"Seberat itukah meminta maaf hingga baru bisa mengatakan nya hari ini?"
Adeline terlihat bicara tanpa memberikan pergerakan sama sekali pada tubuhnya, hal tersebut seketika membuat Adalrick terkejut, laki-laki tersebut refleks langsung membuka bola matanya.
Dia membeku untuk beberapa waktu dan tidak mengeluarkan sama sekali suaranya, laki-laki itu terlihat dia harus bicara apa, dia cukup terkejut jika sang istri telah terjaga sejak tadi.
Adeline tanpa Diam dia menunggu balasan dari ucapannya untuk Adalrich.
Perempuan itu sebenarnya belum benar-benar tidur, setelah menghabiskan banyak waktu bersama Chaddrick kecil, dia memilih membaringkan putranya dan tidur mendekap bocah kecil tersebut, menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan putranya untuk waktu yang cukup lama, dia memejamkan bola matanya namun sama sekali tidak membiarkan dirinya tenggelam di dalam tidur nya.
Pikiran Adeline saat ini lembar kacamu menjadi satu dan dia memilih untuk pura-pura tertidur Sembari menepuk-nepuk punggung putranya.
Begitu meyakinkan bocah laki-laki tersebut telah terlelap Adeline memilih menghentikan gerakan tangannya, cukup lama hingga akhirnya tiba-tiba bisa dirasakan pergerakan seseorang yang naik ke atas kasur secara perlahan.
Sejujurnya tadi dia merasa sedikit menegang sebab dia bisa menebak jika itu adalah Adalrich, udah sesuai dengan juga aja laki-laki itu benar-benar naik ke atas kasur udah tahu-tahu memilih untuk memeluk dirinya sudah membiarkan laki-laki itu tenggelam di belakang punggung.
Adeline berdiri tidak bersuara dan dia sama sekali tidak beringsut dari posisinya, cukup lama dia seperti itu hingga akhirnya dia mendengar satu bisikan yang dilontarkan oleh Adalrich kepada dirinya.
Maafkan aku.
Laki-laki itu bicara tepat di balik telinganya hingga membuat Adeline diam untuk beberapa waktu, kalimat sakral tersebut terdengar memenuhi gendang telinganya, dia yang awalnya meminjamkan bola matanya seketika langsung membuka bola matanya secara perlahan kemudian setelah itu dia benar-benar menjawab ucapan Adalrich.
"Seberat itukah meminta maaf hingga baru bisa mengatakan nya hari ini?"
Jawaban dari ada jelas membuat laki-laki tersebut terkejut setengah mati dia membulatkan bola matanya sembari mencoba untuk menahan nafasnya.
"kamu belum terlelap?"
Satu suara laki-laki tersebut terdengar diantara keheningan malam di mana Chaddrick kecil telah tenggelam didalam tidur nya.
"Hmmm"
Adeline hanya ber Hmmm ria, dia tidak menambah kalimat dari kata-katanya.
Mereka kembali tidak mengeluarkan suara masing-masing, Adeline terlihat diam, sama sekali tidak marah atau mengeluarkan ekspresi berlebihan ketika dia sadar Adalrich semakin mengencangkan pelukannya pada dirinya saat ini.
Sejenak mereka tenggelam ke dalam pemikiran mereka masing-masing, sedangkan Adalrich sengaja mengencangkan pelukan nya, mencoba melepas kan kerinduan yang jelas telah lama membuncah di dalam hatinya.
Entah berapa lama waktu berlalu yang jelas mereka sama sekali tidak berinisiatif untuk membuka suara terlebih dahulu, membiarkan diri masing-masing tenggelam ke dalam pemikiran mereka dan Adeline seolah-olah sengaja membiarkan laki-laki di belakangnya tersebut untuk memeluk dirinya sejak tadi.
Ditemani keheningan malam serta suara-suara di bagian sisi hutan Mansion tersebut yang terdengar saling bersahutan menambah suasana malam yang rumit untuk dijabarkan diantara mereka.
Hingga pada akhirnya setelah cukup lama tenggelam dengan keadaan, tiba-tiba Adalrich berkata.
"katakan pada ku, sejak kapan kamu mengingat semuanya?"
*****
Tidak ada jawaban sama sekali yang dilontarkan oleh Adeline untuk Adalrich, perempuan itu memilih diam tanpa menimbulkan suaranya sama sekali, dia memejamkan bola matanya untuk beberapa waktu.
Ada berbagai macam perasaan yang menghantam dirinya saat ini, dia sebenarnya tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja, perempuan itu memilih tidak mengeluarkan suaranya lagi untuk waktu yang cukup lama.
Adalrich terlihat ikut diam, laki-laki itu sama sekali tidak ingin melepaskan pelukannya dari sang istrinya, mencoba untuk menetralisir perasaannya diantara jutaan kerinduan dan juga rasa bersalah yang menghantam menjadi satu untuk saat ini.
Dia menunggu jawaban dari Adeline, kapan perempuan tersebut mengingat soal masa lalu, dia bahkan nyaris tertipu, Cukup tidak menyangka jika perempuan tersebut telah mengingat semuanya tanpa dia ketahui sama sekali.
Diantara dengan diam mereka berdua tiba-tiba saja Adeline berkata.
"kau membunuh ayah dan ibu angkat Ku, Adalrich, bahkan kamu juga membunuh laki-laki yang sudah aku anggap seperti kakakku sendiri"
Di mana genangan darah membasahi lantai rumah sederhana yang ada di hadapannya, Adeline berteriak histeris saat dia melihat sosok dua orang yang dia panggil ayah dan ibu tersebut sudah tidak bernyawa dengan darah yang mengucur deras di sekujur tubuh mereka.
Luka tembak terlihat ada dimana-mana.
Akhhhhhh.
Suara teriakan dan tangisan Adeline seketika pecah menghiasai malam tanpa bintang maupun bulan.
Rasa sesak, sakit, kecewa dan marah bercampur aduk menjadi satu, membuat Adeline seakan-akan kehilangan kehidupan nya saat ini.
"Kau sedang merencanakan pemberontakan dibelakang ku?"
Satu suara bariton keluar dari bibir Adalrick kala itu, bola mata laki-laki tersebut memerah, dia menatap tajam Adeline yang bersimpuh di atas tanah sambil menangis histeris, dimana perempuan tersebut dikelilingi oleh bala tentara yang berdiri dengan mengacungkan pistol mereka kearah Adeline.
Di ujung sana terlihat seorang laki-laki yang duduk dalam keadaan tidak berdaya dengan berbagai macam luka di tubuh dan wajah nya, di sisi kiri dan kanan serta belakang laki-laki tersebut 3 orang yang serdadu tanpa siap menarik pelatih pistol laras panjang mereka masing-masing.
Hal tersebut membuat Adeline sontak berusaha untuk bergerak mendekati laki-laki tersebut.
"No Adalrich no....please... jangan lakukan itu"
Dia berteriak histeris, Adeline yang bergerak mencoba mendekati laki-laki di ujung sana di tahan oleh dua serdadu, dia sama sekali tidak bisa bergerak, hanya bisa berteriak histeris ketika pistol para serdadu siap untuk diletuskan dikepala laki-laki dihadapan nya tersebut.
"Kau mengkhianati aku, bermain dibelakang ku dengan laki-laki lain, berani nya kau"
Adeline langsung bergerak menuju ke kaki Adalrich, kedua tangan nya dengan cepat menggenggam erat kaki kiri Adalrich.
"Aku tidak melakukan nya, aku tidak melakukan nya Adalrich, kau telah salah menilai perasaan ku, aku tidak pernah mengkhianati kamu"
Alih-alih peduli ucapan istrinya, Adalrick menjongkokkan tubuhnya, dia kemudian menggenggam erat wajah istri nya kemudian menatap Adeline dengan penuh kebencian dan kemarahan.
"Tidak mengkhianati ku? Tapi kau berada di kamar yang sama dengan bajingan itu"
"Itu jebakan, aku tidak pernah melakukan nya, ada kesalahpahaman di sini"
Perempuan tersebut terus menggenggam kaki Adalrich, meminta suaminya untuk membebaskan laki-laki yang ada di ujung sana.
Adeline yakin seseorang menjebak nya, dia bahkan tidak tahu bagaimana caranya dia bisa bersama laki-laki itu malam kemarin.
Setelah pertemuan dalam diskusi panjang mereka untuk rencana besar yang akan mereka gelar, bagaimana bisa tiba-tiba seseorang memanfaatkan laki-laki yang sudah dianggap seperti kakaknya sendiri tersebut agar terlihat menjadi selingkuhan nya.
"kesalahpahaman?"
Adalrich terlihat mengejek.
"Kau pikir aku cukup buta untuk tidak melihat kenyataan soal kalian berdua? Kau sedang berusaha untuk menghianatiku dan kini berani bermain api dan berselingkuh dibelakang ku"
"aku tidak seperti itu, Adalrich seseorang menjebak ku"
Dan meski sekuat apapun Adalrich menjelaskan, pada akhirnya dia tidak mampu menarik balik perintah Adalrich untuk membinasakan orang-orang yang dia cintai.
"Tembak..."
Sembari menatap tajam bola mata Adeline, laki-laki tersebut memberikan perintah kepada anak buahnya tanpa menoleh kearah mereka.
Mendengar ucapan Adalrich seketika Adeline membulatkan bola matanya, dia seketika berusaha memberontak dan lari mendekati laki-laki di ujung sana, tapi lengan kiri dan kanan serta tubuhnya di tahan oleh 2 serdadu dengan yang kasar.
Dooorrrrrrrr.
Dooorrrrrrrr.
Dooorrrrrrrr.
Suara tembakan seketika memecah keheningan malam, dan laki-laki yang sudah seperti kakaknya itu terlihat langsung tersungkur dan jatuh ke atas lantai di mana bola mata laki-laki itu menatap Adeline sambil laki-laki tersebut mengembangkan senyuman nya.
Adeline langsung terhenyak, perempuan tersebut seketika membeku, di langsung menjatuhkan dirinya kelantai dan mencoba menahan tangis nya untuk beberapa waktu, namun dibeberapa detik berikutnya Perempuan tersebut langsung berteriak histeris.
"akhhhhhh"
Adeline masih memejamkan bola matanya, dia mencoba menetralisir perasaan nya atas ingatan dimasa lalu soal apa yang dilakukan Adalrich pada dia dan orang-orang yang dia cintai.
Adalrich ya mendengarkan ucapan dari Adeline seketika membisu, cukup tidak menyangka sebesar itu ingatan Adeline saat ini, itu artinya sang istrinya memang benar-benar telah mengingat semuanya.
Laki-laki tersebut tidak bergeming untuk beberapa waktu, bisa dilihat Adalrich memejamkan sejenak bola matanya sembari mencoba menetralisir perasaannya atas pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya, dia pada akhirnya kemudian berkata.
"Maafkan aku karena buta dimasa lalu dan diliputi kemarahan yang tidak masuk akal"
Ucap laki-laki tersebut pelan.
"Aku tidak pernah tahu jika itu semua adalah rencana Ilse Kock dan ibu"
Lanjut nya lagi.
Laki-laki itu sama sekali tidak menyangka jika Ilse Kock dan ibu nya terlibat dalam mensetting semua hal yang terjadi dalam kehidupan dirinya dan Adelinedi masa lalu, bahkan dia juga tidak menyangka jika wanita tersebut sengaja membuat dirinya membenci Adeline dan berusaha menghasut nya hingga bisa membuat dia menghabisi seluruh orang-orang terdekat Adeline.
Dia benar-benar tidak menyangka bahwa ibunya ikut terlibat untuk menghancurkan pernikahan mereka, laki-laki itu pikir ibunya hanya sekedar tidak menyukai Adeline, berharap jika Adalrich menikahi Ilse Kock secepatnya.
Wanita tersebut mencoba meyakini dirinya jika perasaannya pada Adeline bukan cinta melainkan satu perasaan obsesi di mana dirinya hanya sekedar menginginkan Adeline dan menginginkan tubuh perempuan tersebut.
Mendengar penuturan dari sang suaminya, Adeline sama sekali tidak menjawab, perempuan itu terlihat diam sembari masih berusaha untuk meminjamkan bola matanya, hingga pada akhirnya untuk beberapa waktu kemudian perempuan tersebut kembali berkata.
"Katakan pada ku, setelah mengetahui semuanya apa yang akan kamu lakukan? Tetap bertahan bersama ku dan diam saat aku kembali menjalankan rencana di masa lalu, atau kita akan saling membunuh saat aku dan orang-orang ku mulai bergerak dan akan melakukan satu pemberontakan secara diam-diam?"
Tiba-tiba perempuan itu bertanya kepada sang suaminya, dan mendengar penuturan dari Adeline, bisa dilihat laki-laki itu terdiam untuk beberapa waktu.