King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Tidak punya ingatan soal masa lalu



Zehra tampak sibuk membuat kan sarapan di dapur bersama sang pelayan, tangan-tangan nya dengan lincah mulai membuat teh dan beberapa menu sarapan untuk mereka.


Arash masih terlelap saat zehra mulai keluar dari kamar dan turun ke lantai bawah, tidak tahu kenapa bagi zehra Seperti nya laki-laki sedang memiliki sebuah permasalahan berat yang cukup sulit untuk di tuntaskan.


Dia bisa melihat kesedihan di balik bola mata laki-laki itu semalam, tapi saat zehra bertanya kenapa Arash jelas enggan menjawab nya.


Bagi zehra mungkin diri nya belum menjadi orang yang tepat untuk laki-laki itu berbagi cerita,hingga zehra tidak mungkin menjadi orang ng'yan egois yang ingin tahu soal urusan Arash dan memaksa Arash untuk bercerita soal keluh kesah nya.


Sejenak zehra mengulum senyumannya saat Arash mulai berdiri ujung atas tangga, lantas secara perlahan Arash mulai menuruni anak tangga satu persatu.


Zehra mulai meletakkan cangkir teh Arash di atas meja nya, kemudian bersiap memindahkan sarapan Arash ke dalam piring dan meletakkan nya ke atas meja Arash, tapi sebelum itu terjadi tiba-tiba Arash sudah berdiri dihadapannya lantas mencium pelan pipinya.


"Selamat pagi"


Ucap Arash pelan.


"Eh?"


Zehra menoleh kaget.


Arash malah tampak biasa saja, langsung mencari koran pagi ini seperti biasanya, mulai membaca nya sambil sibuk menyeruput teh hangat miliknya itu.


Zehra masih terpaku beberapa waktu, hingga sentuhan sang pelayan mengejutkan dirinya.


"Nona?"


"Ah iya"


Seketika zehra mengembangkan senyum nya,melirik ke arah Arash Sejenak. Bagi zehra laki-laki itu memang seperti itu, entah bagaimana mengatakannya, jika dibilang tidak pandai mengekspresi kan perasaan nya, arash selalu berlaku lembut dan baik, hanya saja laki-laki itu dalam keseharian nya tidak banyak bicara, tapi saat merayu menuju ketempat tidur terdengar begitu ahli dan pandai.


Ishhhh.


Kadang kala membuat wajah Zehra acapkali memerah mendengar bisikan laki-laki itu di balik telinga nya.


Tapi bagi Zehra Arash memang mem perlakukan diri nya dengan baik. memfasilitasi seluruh kebutuhan nya bahkan tidak banyak mengeluh atas apapun yang zehra kerjakan. Arash jelas memberikan dirinya banyak kebebasan, tidak mengekang hak-hak nya sama sekali.


Hanya saja zehra cukup penasaran bagaimana sebenarnya rupa laki-laki itu jika sedang tersenyum atau tertawa, Arash belum pernah sekalipun tersenyum atau tertawa selama bersama nya. Laki-laki itu paling hanya menaikkan sedikit ujung bibirnya atau bahkan menatap wajah nya ketika dia ingin berkata IYA atau BAIK.


"Maafkan aku"


Ucap zehra mencoba memecahkan keheningan di antara mereka.


"Hmm?"


Arash tampak menoleh ke arah zehra, mencoba menyingkirkan koran yang ada di tangannya.


Itu jelas merupakan pertanyaan besar yang beberapa hari ini mengganggu fikiran zehra.


Sejenak Arash menatap wajah zehra.


"Saat Daddy ku koma karena tragedi kecelakaan di masa kecil kami, satu-satunya laki-laki yang merawat dan membesarkan aku dan Debora adalah Daddy anta, bahkan dia pernah menyelamatkan nyawa ku dimasa lalu"


Ucap Arash cepat sambil menatap dalam wajah zehra.


Dan realita lainnya adalah, dia dan Daddy ku adalah penguasa the black pearl mafia, dan laki-laki itu juga yang menyelamatkan Daddy ku dari kematiannya dimasa lalu.


Zehra mengangguk pelan.


Dia fikir mereka masih punya hubungan keluarga, rupanya tidak ada sama sekali.


"Dan Daddy anta pernah memberikan 1/2 ginjal nya pada daddy ku di masa lalu"


"Ya?"


Zehra sedikit terkejut mendengar perkataan Arash.


"Aku dan anta pernah akan di jodohkan juga sebelumnya"


Zehra tampak terdiam,mencoba menelisik bola mata Arash.


"Tapi aku menolak perjodohan nya, karena aku menganggap anta hanya sebagai salah satu bagian dari keluarga"


Zehra tampak mengembang kan senyumannya, mengangguk perlahan tanda paham dengan apa yang Arash jelaskan.


"Lalu bagaimana dengan mu?"


Tanya Arash tiba-tiba.


"Mereka bilang kamu tidak pernah bertemu dengan keluarga ayah kandung mu?"


Zehra mengangguk pelan.


"Aku tidak punya ingatan di masa anak-anak, yang aku ingat saat bangun dari tidur ku, mereka berkata wanita yang duduk disamping ku itu adalah mama tiri ku"


Ucap zehra cepat.


"Tidak ada satu memori pun yang tertinggal soal keluarga ku dimasa lalu"


Arash tampak diam, mencoba menyesap teh yang ada dihadapannya hingga tidak bersisa.