
Anta tampak masih terlelap di dalam pelukan Enardo untuk beberapa waktu, laki-laki itu bilang mungkin akan sampai di Indonesia kurang lebih 3 jam lagi, jadi mereka masih punya waktu istirahat yang cukup untuk melepaskan rasa lelah setelah sesi panas mereka.
Sejenak Anta menggeliat pelan saat dia tiba-tiba merasa ingin buang air kecil, secara perlahan gadis yang telah sempurna menjadi seorang perempuan bergerak untuk turun dari tempat tidur nya.
Seketika Anta meringis menahan perih dan sakit, dia baru tahu bagaimana rasanya pertama kali ketika melakukan kewajiban nya sebagai seorang istri, rupa nya tidak menikmat apa yang ada di buku-buku atau imajinasi nya, rasanya sangat menyiksa dan begitu perih.
Meskipun dia akui dia menikmati nya tadi, tapi setelah nya benar-benar membuat nya menjadi tidak nyaman dan merasa begitu sakit juga perih.
Begitu mendengar desisin suara Anta, secepat kilat Enardo membuka bola matanya, Enardo mencoba meraba kasur di samping nya namun rupa nya Anta sama sekali tidak ada di sana.
Secepat kilat Enardo menelusuri ruangan, tampak Anta baru sana beranjak mencoba berjalan ke kamar mandi.
Buru-buru Enardo bangun dari tidur nya, menyambar handuk kimono nya dengan cepat lantas menggunakan nya kemudian langsung berjalan mendekati Anta dan menyambar tubuh sang istri hingga masuk kedalam gendongan nya.
"Akhhh"
Anta jelas terpekik kaget saat tahu Enardo dengan langkah cepat menggendong tubuhna dan membantu diri nya masuk ke kamar mandi.
"Enardo?"
"Kenapa tidak bilang kalau mau ke kamar mandi?''
Tanya laki-laki itu sambil terus menggendong Anta masuk kedalam kamar mandi.
"Aku takut membangunkan tidur lelap mu"
Ucap Anta pelan sambil menundukkan kepalanya.
Dia masih cukup malu jika ingat season panas yang mereka lakukan tadi, bahkan selama sesi panas Mereka Anta terus merengek dan mengeluarkan suara-suara yang begitu memalukan dihadapan Enardo.
Akhhh...!
Pokok nya dia merasa begitu malu.
Enardo tampak mengulum senyumannya saat melihat ekspresi Anta yang terlihat begitu lucu dengan ekspresi malu-malu nya.
Secara perlahan Enardo meletakkan tubuh Anta di atas kloset.
"Kenapa harus malu hmm? tidak ada batasan suami istri soal hal seperti itu, kamu bisa membangun kan diri ku dan meminta bantuan ku"
Ucap Enardo pelan.
"Hmm"
Seketika Anta tampak menatap Enardo untuk beberapa waktu.
"Aku harus buang air kecil"
Ucap Anta pelan.
"Kamu bisa melakukan nya sekarang"
"Tapi kamu...?"
Jelas saja Anta bingung, dia fikir bagaimana bisa dia melakukan nya didepan Enardo.
"Apa kamu lupa? kita suami istri sayang, tidak ada batasan untuk kita dalam hal yang seperti ini hmm"
Lagi-lagi wajah Anta memerah karena malu.
"Tapi..."
"Semua nya sudah aku lihat, bahkan sudah jadi seutuhnya milik ku, masih ingin menjaga jarak kah?"
Goda Enardo sambil menjahili hidung Anta.
"Ini cukup memalukan"
Anta bicara pelan.
Enardo menggeleng-gelengkan cepat kepalanya.
"Tidak ada yang memalukan dalam hubungan suami istri, kamu bebas melakukan apapun, meminta apapun bahkan meminta bantuan dikala memang membutuhkan, sebab sejati nya pasangan tercipta memang untuk saling melengkapi dan tercipta memang untuk membantu antara satu dan yang lainnya hmm"
"Selama masih dalam norma agama, masih tahu batasan dan saling menghargai antara satu dengan yang lainnya, aku rasa yang lain tidak mesti membuat kamu merasa malu hmm"
Ucap Enardo sambil mengembangkan senyuman nya, laki-laki itu mengelus lembut wajah Anta.
Sejenak Anta menatap dalam bola mata Enardo, kemudian secara perlahan dia mengangguk kepalanya.
"Aku akan ambilkan obat untuk rasa perih dan sakit, lakukan aktivitas seperti biasa tanpa rasa canggung"
Setelah berkata begitu Enardo mengacak-acak lembut rambut Anta kemudian laki-laki itu keluar kedepan mencari obat khusus guna mengurangi rasa sakit dan perih.