
Disisi lain
Leonard baru saja tiba di ruang gedung megah tersebut, sebenarnya suasana hatinya saat ini cukup baik, dia diundang langsung oleh pihak kedutaan besar Jerman dan juga keluarga perdana menteri Halogen untuk menghadiri pesta pertunangan putra laki-laki tersebut, bahkan dia masih bertegur sapa dengan beberapa pejabat pemerintahan di dalam gedung tersebut.
tidak ada yang tidak mengenalnya saat ini di dalam gedung tersebut, dia yang memiliki kedudukan sebagai letnan jenderal saat ini jelas membuat orang cukup sungkan kepada dirinya.
tapi meskipun seperti itu dia tetap kalah di bawah Adalrich, laki-laki tersebut jelas bukan tipe orang yang bisa dia kalahkan, laki-laki tersebut tidak pernah takut kepada siapapun bahkan kepada seorang presiden sekalipun.
karena itu tidak pernah ada yang berani untuk berhadapan langsung dengan laki-laki tersebut, bahan untuk membuatnya terpengaruh atau berpaling Dengan blok sekutu jelas bukan hal yang mudah, laki-laki tersebut memiliki sejuta kesetiaan terhadap negaranya.
Bagi Adalrich, dia tidak akan pernah tunduk kepada perintah seorang presiden atau bahkan manusia dalam jenis apapun, laki-laki tersebut selalu berkata selama ini dia berjuang untuk negaranya, kemerdekaan mereka tidak ada yang lain.
jadi membuat laki-laki tersebut ingin menerima persekongkolan atau bahkan mengajak dan mengacu pada sebuah ajakan kompromi untuk memberontak dan lain sebagainya jelas tidak akan berhasil.
laki-laki tersebut seketika menaikkan ujung bibirnya saat seseorang bergerak mendekati dirinya, itu adalah Ilse Kock.
dia pikir dia ingin mengabaikan perempuan itu namun sepertinya Ilse Kock mencoba untuk memberikan sebuah kode kepada dirinya, hal tersebut kontan membuat Leonard mengerutkan keningnya.
"kau datang cukup terlambat"
begitu mereka berdiri bersampingan, Ilse Kock bicara dengan cepat.
perempuan itu jelas ingin berkata perihal soal Adeline saat ini, meskipun orang berkata sosok perempuan yang dilihat tersebut bukan Adele tapi memiliki nama lain Anastasia, dia tetap masih meragukan identitas nya.
"aku tidak mesti datang jauh lebih awal bukan? bagaimana pekerjaan seorang letnan jenderal? aku harus berputar dengan berbagai macam persoalan senjata, keselamatan dan pemberontakan, bahkan tak ayal harus berhadapan dengan senjata dan pedang, jadi keterlambatanku berada di sini jelaskan memiliki alasan tertentu"
laki-laki tersebut bicara cepat sambil dia menjunggikan senyumannya, bola mata Leonard sejenak menatap kearah sisi kanan nya.
"Yeah bukankah kau dan aku punya pekerjaan sekarang yang berhadapan langsung dengan pistol dan pedang? aku tahu betapa sibuknya dirimu, tapi aku harap kau tidak ketinggalan informasi penting seorang perempuan yang kau cintai"
Ilse Kock menjawab dengan cepat, dia langsung melirik ke arah Leonard.
mendengar ucapan Ilse Kock seketika membuat laki-laki tersebut menaikkan ujung alisnya.
"cukup bohong jika kau tidak tahu soal kembalinya Adeline saat ini, aku pikir kau tidak akan percaya jika dia menjadi putri angkat tuan Halogen bahkan dia menjadi putri kandung tuan George saat ini"
Ilse Kock langsung bicara menuju ke intinya, dia bukan tipe perempuan yang suka berbelit-belit dan berputar-putar dalam bicara soal sesuatu.
ketimbang memperumit persoalan dan keadaan, perempuan tersebut lebih suka bicara langsung pada poinnya.
"apakah kamu sejak awal telah mengetahuinya? atau kau sama bodohnya seperti aku karena buta soal Sesuatu?"
lanjut pertanyaan Ilse Kock lagi.
bisa dilihat bagaimana ekspresi Leonard saat ini, laki-laki tersebut jelas langsung terus mengerut kan keningnya, perkataan dari Ilse Kock cukup membuatnya terkejut.
"Siapa? putri halogen? putri George?"
ini kali pertamanya seorang Leonard yang begitu tidak bersahabat dan memiliki temperamental buruk terlihat bodoh di hadapan seorang Ilse Kock.
"Yeah, coba luruskan pandanganmu menuju ke arah depan, perempuan yang kamu cintai tersebut kembali datang dengan nama yang baru, dia kini bernama Anastasia dan menjadi seorang putri dari seorang wakil presiden kita"
setelah berkata seperti itu bola mata Ilse Kock terus menatap lurus ke arah depan, Sehingga membuat Leonard mengikuti arah pandangan nya.
Awalnya Leonard masih mencerna ucapan Ilse Kock, mencari siapa yang dia maksud, sepersekian detik kemudian laki-laki tersebut seketika langsung membuoatkan bola matanya.
Dia mematung dan tercekat untuk beberapa waktu.
Tidak terjadi pergerakan pada laki-laki tersebut saat dia melihat satu pemandangan yang membuat sakit bola matanya dan seketika membuat emosi nya menggebu saat ini.
Jadi dia benar-benar belum mati?!.
Itu yang ada di dalam hatinya saat ini.
Laki-laki tersebut pada akhirnya melangkah kan kakinya dengan cepat ke arah depan, tidak dihiraukan soal Ilse Kock lagi, sebab fokusnya saat ini tertuju kepada sosok perempuan yang ada di ujung sana.
Adeline, cinta pertamanya.
setelah kematian perempuan tersebut 5 tahun yang lalu di mana Adalrich mengesahkan surat kematian Perempuan tersebut, bayangkan bagaimana kacau nya dunia Leonard.
bahkan segala sesuatu yang menjadi rencana mereka hancur berantakan kala itu, padahal kala itu pemilihan presiden telah berlangsung, tidak tahu siapa yang sebenarnya membuat kekacauan awal hingga membuat Adeline terlihat begitu berputus asa.
Kala itu Adeline pikir dia telah meninggal dalam penyerangan salah sasaran yang dilakukan Adalrich, padahal keadaan hari itu di setting oleh Ilse Kock dan dirinya untuk membuat Adalrick tertekan dan merasa bersalah karena kesalahan dalam mengenali kawan dan lawan.
Adeline begitu kecewa, setelah kematian orang tua nya yang juga di setting oleh dirinya dan Ilse Kock seolah-olah Adalrich sengaja melakukan pembantaian pada keluarga, perempuan tersebut semakin merasa kecewa saat dia tahu Adalrich juga membunuh dirinya.
Leonard pikir Adeline tidak akan mungkin melakukan aksi bunuh diri tanpa berpikir panjang dua tiga kali, tapi siapa sangka malam tersebut Adeline kehilangan akal sehatnya dan memutuskan sesuatu diluar ekspektasi nya.
Perempuan tersebut benar-benar menjatuhkan dirinya dari puncak tebing menuju ke arah sungai besar Jerman.
Bayangkan bagaimana frustasi nya Leonard kala itu?!.
Dia seolah-olah kehilangan kendali atas hidup nya sendiri.
Bola mata Leonard terus menetap ke arah depan di mana bisa dilihat Adeline tengah menatap seorang bocah laki-laki berusia sekitar 5 tahunan, Leonard jelas tahu betul siapa bocah laki-laki tersebut.
Bahkan rahang Leonard seketika langsung mengeras saat dia menyadari ada siapa lagi dihadapan Adeline saat ini.
Seketika laki-laki tersebut membulatkan bola matanya.
Adalrich!.
Batik Leonard sambil mengeram penuh kemarahan.
Jangan harap kau bisa mendapat nya lagi seperti hari kemarin.
Laki-laki tersebut terus berjalan menuju kearah depan dan langsung buru-buru mendekati sosok Adeline.
Adeline terlihat masih menatap kearah Chaddrick kecil, dia terus mengerutkan keningnya saat kalimat yang diucapkan oleh bocah kecil tersebut masih terus terngiang-ngiang yang dibalik telinganya.
Ibu? bibi tua? ayah? bocah yang bisa di andalkan?.
berbagai macam pertanyaan menghantam kepala perempuan tersebut, dikala jutaan pemikiran menghantam dirinya tiba-tiba dia mendengar ucapan seorang laki-laki.
"Adeline...kau kah itu, sayang?"
Tiba-tiba satu sosok laki-laki bicara tepat dihadapan nya, dia menatap dalam wajah Adeline kemudian secara perlahan mencoba menyentuh wajah perempuan tersebut dengan penuh kerinduan.
"Aku benar-benar merindukan mu"