
Adeline jelas langsung membulatkan bola matanya saat dia mendengar perempuan dihadapan nya itu berkata jika dia tidak memiliki orang tua.
Ada sejuta kekhawatiran serta rasa bersalah yang ditampilkan oleh perempuan yang ada di hadapan Adeline saat ini, seolah-olah ada rahasia besar yang tercetak dari balik wajah perempuan tersebut saat ini soal orang tuanya.
"Bagaimana...?"
Adeline ingin bertanya dengan seksama tapi Adalrich seketika memerintahkan perempuan tersebut agar segera pergi dari kamar tersebut.
"Keluarlah, tinggalkan kami berdua sekarang"
Kata-kata Adalrich lebih tepat seperti sebuah perintah mutlak tanpa boleh ada bantahan sama sekali, perempuan yang diberikan perintah itu seketika menundukkan kepalanya.
"Baik tuan"
Perempuan itu menundukkan kepalanya.
"Tapi..."
Adeline mencoba untuk menghentikan langkah sang pelayan tapi Adalrich langsung menarik lengannya hingga membuat Adeline masuk ke dalam pelukan laki-laki tersebut.
Ehh?!.
Seketika Perempuan itu tercekat, wajahnya terbenam didalam dada laki-laki tersebut, membuat Adeline langsung memejamkan bola matanya Kate terkejut.
Tiba-tiba dia mencium aroma tidak asing dari dalam dada Adalrich, perempuan itu pikir rasanya aroma tersebut terasa begitu familiar, membuat dia seolah-olah merasakan satu sensasi tidak asing Ketika laki-laki tersebut memeluk hangat dirinya.
"Mari bicara dengan tenang 4 mata"
Bisik Adalrich lembut dibalik telinga nya, bisa dia rasakan laki-laki tersebut memeluk Erat tubuh nya, tangan kanan laki-laki tersebut mengelus lembut kepala Adeline sembari bola mata laki-laki tersebut sejenak terpejam.
laki-laki itu mencoba menikmati memeluk tubuh Adeline, seolah-olah sudah sangat lama sekali dia tidak melakukan hal seperti itu, dia begitu merindukan aroma tubuh Adeline yang masuk ke dalam dekapannya dan juga merindukan aroma rambut khas perempuan tersebut.
berapa tahun, dia sulit sekali mengingat nya.
Orang-orang bilang sudah 5 tahun Adeline terlelap dan mengabaikan dirinya, sibuk dengan tidur lelap nya bahkan enggan bangun meskipun barang sejenak.
membuat dirinya nyaris gila bahkan Adalrich berpikir untuk ikut terlelap juga di sampingnya.
bahkan laki-laki itu acap kali berpikir untuk menyerah dengan kehidupannya, karena baginya dunianya telah mati ikut bersama Adeline.
rasanya semua kejadian malam itu seperti sebuah mimpi buruk untuknya ketika dia harus melihat dengan mata kepalanya sendiri Adaline membuang tubuhnya ke tepian jurang tak berpenghuni, meninggalkan putra mereka ditangan nya dengan cara yang begitu kejam.
Sejenak Adeline terlena dengan pelukan Adalrich dan juga belaian tangan dari laki-laki tersebut, dia menikmati sentuhan laki-laki tersebut yang terasa tidak asing untuk dirinya, seolah-olah hati nya merindukan tubuh laki-laki dihadapan nya itu.
Namun detik berikutnya hati Adeline terasa begitu sakit dan terluka, seolah-olah ada sebuah luka menyakitkan yang pernah di torehkan dan didapatkan oleh laki-laki tersebut sebelum nya.
Hingga membuat Adeline secara spontan langsung membuka bola matanya, dia langsung mendorong tubuh laki-laki tersebut dengan cara yang kasar.
Adalrich yang menerima respon buruk dari Adeline langsung melepaskan pelukannya, dia takut jika dia memaksakan diri memeluk erat tubuh perempuan tersebut, membuat Adeline membenci dirinya dan merasa tidak nyaman.
"kau dengar tuan aku pikir aku belum siap untuk bicara empat mata denganmu, tolong beri aku waktu untuk berpikir secara rasional, bagiku semuanya terasa begitu mendadak dan sangat membuat bingung diriku"
entahlah Adeline bingung harus berkata apa, bahkan dia tidak pandai untuk merangkai kata-katanya saat ini kepada laki-laki yang ada di hadapan nya itu.
secara jujur yaa.. dia masih sangat membutuhkan waktu untuk berpikir atau bahkan menelaah semua kejadian yang terjadi sejak kemarin hingga hari ini, baginya semua terasa begitu tidak masuk akal.
seolah-olah dia baru saja terbangun dan terlahir di muka bumi ini, seperti bayi yang tidak berdosa, lahir tanpa mengenal siapapun yang ada di hadapannya.
"Beri aku waktu sejenak, tolong"
Adeline bicara lantas menatap Adalrich untuk beberapa waktu.
"Mari tidur terpisah dan beri aku waktu untuk mengingat tentang kita"
Tambah Adeline lagi.
******
Disisi lain
Mansion utama Dalmiro
Disebuah ruangan besar mendominasi berwarna putih, dua sosok laki-laki berdiri saling berhadapan.
Seorang laki-laki berusia sekitar 32 tahunan dengan wajah tampan dan tenang menggunakan pakaian hitam dengan kancing berbaris rapi dari atas hingga ke bawah dimana pakaian tersebut digunakan oleh orang-orang penting di jaman kolonial Belanda dan juga jaman Nazi Jerman pada masa kini terlihat berdiri di depan sebuah kursi kerja bulat dihadapan nya.
Pakaian yang digunakan laki-laki tersebut menandakan bahwasanya sang pengguna merupakan orang penting di bagian pemerintahan dan juga bukan orang sembarangan, bisa dipastikan laki-laki berusia 32 tahunan tersebut merupakan orang kaya pada masa nya.
Laki-laki tersebut kini terlihat menatap kearah laki-laki berusia sekitar 28 tahunan yang berdiri tepat dihadapan nya.
Laki-laki tersebut tidak bicara sejak tadi, memilih untuk memejamkan sejenak bola matanya sembari dia berusaha berpikir akan sesuatu.
"Yakin dengan apa yang perempuan itu lihat?"
laki-laki berusia 32 tahunan itu bertanya secara perlahan sembari membuka bola matanya ke arah laki-laki berusia 28 tahunan dihadapan tersebut.
Dia menunggu jawaban laki-laki dihadapan nya itu untuk beberapa waktu.
"Ya tuan, dia bilang itu benar-benar adalah Nona Adeline"
jawab laki-laki yang lebih muda itu sembari menundukkan kepalanya.
mendengar nama Adeline benar-benar disebut oleh laki-laki yang ada di hadapan nya itu, seketika membuat laki-laki itu langsung membulatkan bola matanya.
Seulas senyuman tipis mengembang dari balik bibir laki-laki tersebut, seolah-olah dia mendapatkan berita yang telah lama ingin dia cari pada akhirnya dia benar-benar mendapatkan apa yang diharapkan selama ini.
"Minta Freda untuk datang ke kediaman Adalrich untuk memastikan apakah dia benar-benar telah bangun dari mimpi panjangnya"
ucap laki-laki tersebut sembari menatap lurus ke arah depan.
"Baik tuan"
laki-laki dihadapan nya kembali menjawab.
"Berikan beberapa kotak peti uang dan emas sebagai hadiah untuk Chaddrick kecil, katakan pada Alice hadiah itu diberikan oleh calon ayah sambung Chaddrick untuk hadiah lamaran atas perjanjian pernikahan dari ku untuk Adeline"
setelah berkata begitu, laki-laki tersebut langsung bergerak menjauhi laki-laki yang ada di hadapannya itu.
Melihat sang tuan nya bergerak berlalu menjauh seketika membuat laki-laki tersebut sejenak memejamkan bola matanya sembari dia menghela berat nafasnya untuk beberapa waktu.
Ini akan menjadi awal peperangan besar antara dua kubu karena seorang perempuan.
Batin laki-laki tersebut sembari menundukkan kepalanya secara perlahan, dia berbalik lantas beranjak pergi dari ruangan tersebut dengan perasaan yang bercampur aduk menjadi satu.