King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 52 A & A



Adeline Monac?!.


nama itu pernah dia baca saat dia membuka sebuah kotak peti emas kecil yang terdapat di hiasan dinding di dalam kamar di mana dia tinggal.


seseorang mengiriminya sebuah surat dan terdapat nama Adeline Monac di bawah surat tersebut.


Apa Adeline pantas bertanya pada laki-laki yang ada di hadapanmu tersebut di mana laki-laki itu mengacungkan sebuah batu tepat di ujung lehernya.


Dia bertanya-tanya jawaban apa yang paling pantas untuk diucapkan saat ini di tengah kepercayaan atau tidak kepercayaannya.


Kawan atau lawan?!.


dia saat ini buta dengan melihat orang-orang yang ada di sekitarnya, dia tidak bisa membacanya seseorang ataupun bahkan tidak mempercayai seseorang, apa yang dia andalkan saat ini dibalik ingatannya yang tidak juga kembali?!.


"sangat sulit sekali untuk mengenali nona karena kita tidak bertemu untuk waktu yang cukup lama"


laki-laki di harapannya tersebut mulai bicara kemudian dia mulai menurunkan belatinya.


"5 tahun yang lalu aku membawa surat terakhir menuju ke arah perbatasan, semua pasukan telah disiapkan untuk bergerak atas perintah Tuan G, tapi seseorang membocorkan informasi keberadaan tuan dan nyonya besar hingga membuat orang-orang dari dalam istana mengirim pasukan khusus bersama para serdadu dan tentara untuk membinasakan semua orang tuan dan nyonya besar"


laki-laki di hadapannya tersebut dengan cepat bicara, bola matanya terlihat begitu awas bahkan dia menelisik seluruh lorong jalanan yang ada di antara kereta tersebut, takut jika-jika ada yang datang saat ini juga.


"Keadaan sangat kacau, kami tidak bisa melakukan penyerangan balik seperti perintah Anda untuk meruntuhkan kekuasaan presiden, seluruh orang-orang kita banyak yang mati dalam pertempuran, Nyonya dan tuan melakukan pelarian menuju ke lorong rahasia dan nona pertama terpaksa kembali ke ibu kota masuk ke rumah bordir untuk mendapat kan perlindungan diri dan mengatur siasat baru untuk masuk ke dalam istana"


Demi apapun ucapan laki-laki di hadapan adanya membuat kepalanya akan pecah, dia tidak memiliki sedikit pun ingatan atau penyambung benang kusut yang bisa dia sambungkan dengan apapun saat ini.


"Aku cukup tidak percaya anda baik-baik saja nona, tuan dan nyonya masih menunggu anda dan perintah, menunggu perintah dari nona pertama juga untuk bergerak pada pemilihan kali ini"


lanjut nya lagi dengan tangan bergetar, laki-laki tersebut mencoba mengeluarkan sesuatu dari saku celananya, Adeline jelas membulatkan bola matanya, dia mencoba untuk tetap awas, tidak menurunkan pistol nya sama sekali dengan alasan untuk menjaga diri.


"Kami pikir tuan Adalrich menjaga anda dengan baik, cinta palsu yang anda berikan benar-benar berjalan sesuai dengan rencana"


Laki-laki tersebut kemudian memberikan sesuatu kepada Adeline.


Cinta palsu?!.


Mendengar kata-kata yang barusan dilontarkan laki-laki tersebut seketika membuat Adelin membulatkan bola matanya.


Istilah cinta palsu membuat dia bergidik ngeri.


"Nona pertama telah memberikan sinyal terbaru jika anda telah kembali, kami cukup tidak percaya rupa nya aku hari ini benar-benar melihat anda, semua orang akan bergerak sesuai dengan perintah setelah ulang tahun istri tuan presiden pada bulan berikutnya"


Dia menyerahkan sebuah kertas dan peluit yang terbuat dari batangan emas murni ke arah Adeline.


"Aku pikir ini akan menjadi hari terakhir petualangan ku mencari nona untuk menyampaikan berita dari tuan besar, aku bahagia bisa memberikan pesan terakhir untuk nona sebelum kemerdekaan kita"


bola mata laki-laki itu terlihat berkaca-kaca, dia menunggu Adeline menerima barang pemberiannya, tampak jelas wajah laki-laki itu menyiratkan sebuah kelegaan dan kebahagiaan, seolah-olah meskipun dia mati hari ini dia telah menjadi orang yang berguna karena menyampaikan hal yang penting kepada perempuan yang ada di hadapannya tersebut.


"Kita akan mendapatkan kembali milik kita, nona dan nona pertama akan mendapatkan kembali hak nona"


Setelah berkata begitu laki-laki tersebut menghentakkan kakinya, dia secara tiba-tiba memberikan sebuah penghormatan sembari meneteskan air matanya.


Adeline jelas terkejut, dia menatap bingung kearah Laki-laki dihadapan nya tersebut.


"Aku tidak akan menyakiti nona"


sebaris ucapan yang diucapkan oleh laki-laki itu membuat seketika membeku, di titik berikutnya tiba-tiba saja tubuhnya didorong dengan paksa, seseorang tiba-tiba melakukan serangan mendadak entah dari mana, dua orang Menghantam dan mencoba menyerbu mereka, Adeline jelas terkejut setengah mati diiringi tubuh nya yang terhuyung-huyung dan terjatuh ke sebuah barisan kursi kereta.


Satu orang menyerang laki-laki dihadapan Adeline, mencoba menghujami nya dengan pedang namun bisa di tangkis. Satu orang lagi mencoba menyerang Adeline dengan pedang nya tapi laki-laki bertongkat tersebut berhasil menyambar pedang tersebut dan melemparkannya dengan kasar ke sembarang arah.


Entah bagaimana waktu berlalu, tiba-tiba saja perkelahian sengit terjadi, Adeline terlihat terkejut saat lagi-lagi dia akan diserang, entahlah bagaimana Tiba-tiba saja di beberapa detik berikutnya dia bisa mendengar suara tembakan memecah keadaan.


Dia tanpa sengaja menarik pelatuk senjata di tangan nya tepat mengarah ke arah laki-laki yang hampir membunuh nya seiring itu laki-laki dihadapan nya berhasil menghujam perut laki-laki dihadapan nya dengan sebuah pedang panjang.


Jantung Adeline berdetak begitu kencang, dia memegang senjata nya tanpa keraguan namun air matanya menetes dan satu ingatan menghantam Dirinya.


Seolah-olah Dejavu dia pernah melewati masa ini, melakukan penyerangan demi penyerangan dan tembakan demi tembakan.


"Tembak"


"Bunuh"


"Lari"


Dia merasa kepala nya berputar-putar keseluruh arah, seketika satu sakit luar biasa menghantam kepalanya.


Dan entah apa yang terjadi berikutnya, tiba-tiba saja tubuh nya ditarik dengan paksa dan dihantam oleh laki-laki bertongkat tadi, Adeline berbalik secara spontan ke arah depan di mana laki-laki itu menahan tubuhnya dengan gerakan yang begitu kasar.


"Ini akan menjadi hari perjuangan terakhir ku nona, terus berjalan dan raih kemenangan untuk kita"


Laki-laki tersebut berbisik tepat di balik telinga kiri Adeline, dia belum bisa mencerna ucapan laki-laki tersebut hingga akhirnya bola mata Adeline membulat dengan sempurna saat dia menyadari segerombolan tentara berlarian menuju ke arah dirinya dari pintu kereta di mana dia melangkah berjalan tadi.


para serdadu memegang senjata mereka mengarahkannya tepat ke arah Adeline dan laki-laki tersebut, dia pikir mereka datang hanya dari arah gerbong depan, rupanya dia salah, dari arah gerbong belakang para tentara juga datang.


demi apapun diantara rasa dan perasaan yang menghantam dirinya karena tidak paham apa yang sebenarnya terjadi saat ini, di ujung lorong sana bisa dia lihat Adalrich berjalan dengan gerakan yang begitu cepat,raut wajah khawatir terlihat jelas dibalik wajah laki-laki tersebut.


Detik berikutnya entah bagaimana semua bisa terjadi, sangat cepat, bahkan Secepat kereta Orion Express yang melaju menuju ke arah tujuan mereka diiringi suara berisik kereta api dan suara cerobong asap yang memekakkan telinga, bisa dia dengar suara tembakan saling sahut menyahut di dalam gerbong kereta mewah tersebut.


Dooorrrrrrrr.


Dooorrrrrrrr.


Dooorrrrrrrr.


Dooorrrrrrrr.


Lautan darah seolah-olah menggenangi sekitaran ditempat dia berdiri, bahkan bisa Adeline rasakan semburan darah mengenai sisi wajah nya, satu erangan terdengar dibalik telinga nya diiringi suara halus yang masih sempat dia dengar lirih.


"Hiduplah dengan baik, nona, satu-satunya senjata kita menyerang mereka adalah jenderal Adalrich, hati untuk kepala, kepala untuk hati"


Brakkkk.


Tubuh itu jatuh tumbang dengan cepat.


Adeline mematung dengan bola mata berkaca-kaca, meskipun dia tidak juga bisa mengingat siapa dia dan siapa laki-laki tersebut namun tidak tahu kenapa hatinya terasa begitu sakit seolah-olah satu pejuang milik nya kembali tumbang didepan matanya.


Bola mata Adeline menatap langkah Adalrich yang mengacungkan senjata api nya tepat di ujung sana, dia bisa menebak 1 tembakan terakhir dimana darah menyembur di wajah nya adalah tembakan Adalrich yang tepat mengenai ujung kening laki-laki tersebut tadi.


Ketika Adalrich melangkah semakin mendekati dirinya, bola mata Adeline terlihat berkaca-kaca.


Apakah ini air mata?!.


Yah ini air mata ketika aku tidak bisa melindungi rakyat-rakyat ku dari malaikat kematian yang mendekati mereka.


"Adeline, apa kamu baik-baik saja?"


Begitu Adalrich menyambar tubuh nya sembari menyentuh hangat tubuh nya, Adeline merasa setengah jiwa nya kembali terbang entah kemana, di antara teriakan dan suara berisik dari para serdadu yang mencoba mencari orang-orang lain yang menyerang dirinya perempuan tersebut seketika memejamkan bola matanya.


"Adeline... Adeline..."


Teriakan nyaring tersebut terdengar sayup-sayup menghilang dari area pendengaran nya.


******


Ini adalah perjuangan untuk mengembalikan hak-hak kita, terus bergerak meskipun pada akhirnya mungkin kita tidak akan menenangkan keadaan.


Ini adalah waktu terakhir kita untuk bergerak, jika kegagalan kali ini membuat kita hancur hingga akhir setidaknya kita pernah berjuang untuk mendapatkan apa yang pernah di rampas oleh mereka dari kita di masa lalu.


Buat laki-laki itu jatuh cinta pada mu, buat dia bertekuk lutut pada mu, selanjutnya jika kamu berhasil melakukan nya, kamu akan bisa mengendalikan seluruh orang-orang nya untuk melakukan penyerangan pada mereka yang menghancurkan kehidupan kita dimasa lalu.


Hati untuk Kepala, kepala untuk hati.