
Kembali ke masa kemarin
Saat Dalmiro masuk ke rumah bordil xxxxxxx
Ketika Aurora bergerak menjadi gadis pilihan Dalmiro.
Aurora bergerak dengan cepat kearah ruangan di mana Dalmiro berada saat ini, seluruh penampilannya telah berubah drastis, tidak akan ada yang mengenal dirinya saat ini.
Siapapun yang melihat gadis tersebut saat ini tidak akan ada yang tahu jika dia adalah istri wakil presiden.
Langkah kaki dengan menggunakan heels tinggi terdengar memenuhi setiap lorong jalanan menuju ke arah kamar dimana Dalmiro berada, tidak ada sedikitpun kekhawatir yang dibalik wajah perempuan tersebut, meskipun orang-orangnya terus mengatakan khawatir dengan keadaanmu karena takut jika Dalmiro bisa jadi mengenal nona nya.
Begitu dia tiba di sebuah pintu ruangan Aurora tanpa berhenti sejenak, dia mencoba untuk berdehem dan menarik nafasnya secara perlahan, kemudian tangan kanannya dengan gerakannya lembut membuka handle pintu di hadapannya tersebut.
Begitu pintu itu terbuka seketika bola matanya menatap sosok laki-laki yang kini duduk di atas kursi sofa dengan gaya yang begitu santai dan tenang, Dalmiro langsung mengarahkan pandangannya ke arah pintu depan di mana pintu tempat dia duduk tersebut berada dibuka oleh seseorang.
Bola mata laki-laki tersebut sama sekali tidak terlepas saat dia menatap seorang gadis cantik berjalan dan bergerak mendekati dirinya.
"Aku harap kamu tidak begitu lama menungguku, tuan Dalmiro"
Aurora bicara tanpa berniat mengembangkan senyuman, wajah dingin dan datar terlihat jelas di balik wajah cantik, dia memilih duduk di hadapan dengan kemudian secara perlahan mengangkat botol minuman lantas menuangkannya ke arah sebuah gelas kaca bertangkai tinggi yang ada di hadapan Dalmiro.
Laki-laki tersebut sama sekali tidak bergeming, membiarkan gadis di hadapannya itu menuangkan minuman untuk dirinya, bola matanya tidak lepas menatap wajah cantik perempuan yang ada di hadapannya tersebut, di mana laki-laki tersebut mencoba untuk berpikir seolah-olah dia pernah melihat perempuan itu sebelumnya.
"Wajahmu terlihat sangat tidak asing"
Begitu Aurora menggeser gelas minuman yang telah terisi tepatkah hadapan Dalmiro, laki-laki tersebut bertanya sembari bola matanya terus menetap tajam ke arah Aurora, dia meyakinkan dirinya jika dia benar-benar merasa tidak asing dengan wajah di hadapannya tersebut.
"benarkah? Itu artinya mukaku cukup pasaran dan kecantikanku sudah banyak yang menyamai nya"
Aurora bicara dengan penuh percaya diri, tidak menampilkan kegugupannya sedikitpun atau bahkan ketakutan karena Dalmiro bertanya soal sosok dirinya.
Mendengar jawaban gadis itu membuat Dalmiro seketika tertawa terbahak-bahak, ini kali pertama seorang gadis berkata jika kecantikannya sudah banyak yang menyamainya.
Dia pikir gadis di hadapannya cukup penuh dengan percaya diri, sangat percaya diri jika dia cantik dan kecantikannya seolah tidak perlu diragukan lagi.
Meskipun dia tidak memungkiri jika gadis itu memang cantik dan Juga menarik.
"Aku sedang berusaha mengingat di mana pernah melihat wajahmu sebelumnya"
Laki-laki tersebut melanjutkan kata-katanya, video pikir wajah tersebut sangat tidak asing.
"Kamu boleh memikirkannya dalam waktu yang cukup lama, aku senang ketika seseorang berusaha dengan keras untuk mengingat tentang wajah ku"
Jawab Aurora lantas sejarah perlahan dia menuangkan minuman untuk dirinya sendiri di dalam gelas kosong bertungkai tinggi di hadapannya, dia meluangkan minuman tersebut secara perlahan sehingga menimbulkan suara indah di dalam seluruh ruangan tersebut.
Setelah selesai menuangkan minuman itu dengan gerakan yang begitu anggun Aurora mulai menyesal minumannya namun bola matanya terus menatap kearah Dalmiro.
Bola mata mereka berdua tanpa saling menatap antara satu dengan yang lainnya, gimana bola mata laki-laki di hadapan Aurora tersebut terlihat berperang dengan perasaannya.
"kau bisa bermain?"
Seketika Dalmiro bertanya dengan cepat pada gadis itu.
Mendengar pertanyaan Dalmiro jelas saja membuat Aurora menaikkan ujung Alisnya, dia bahkan mengerutkan keningnya untuk beberapa waktu.
Gadis tersebut bicara dengan sangat terus terang.
"Aku sangat handal dan ahli bermain di atas meja, kau tahu aku memenangkan banyak perlombaan bersama keluargaku di masa kecil dan mereka bilang jika aku adalah ahli kartu di atas meja"
Aurora bicara dengan cepat, bola matanya masih terus meratap Dalmiro sembari sesekali dia menyesap minumannya.
"Tapi bermain di atas kasur aku tidak ahli sama sekali, aku akan membiarkan kamu mendominasi karena aku type gadis pasif, tapi untuk naik bersama ku tidak semudah yang kamu bayangkan, ada beberapa syarat yang akan terjadi saat kamu ingin membawa ku ke atas kasur"
setelah berkata begitu, Aurora menaikkan gelas minuman nya, mengajak laki-laki tersebut untuk bersulang.
Mendengar ucapan gadis di depannya seketika membuat Dalmiro menaikkan ujung bibirnya, ucapan dari gadis tersebut seketika membuat dia mulai tertarik pada Aurora.
"katakan pada ku siapa nama mu?"
Laki-laki tersebut bertanya dengan cepat sembari menelisik seluruh anggota tubuh orang, dia memperhatikan gadis tersebut secara perlahan-lahan dari ujung kaki hingga ke ujung kepalanya.
"Mawar hitam, kau bisa memanggilku dengan julukan tersebut"
Mendengar gadis di hadapannya menyebutkan namanya mawar hitam seketika membuat laki-laki itu menaikkan ujung alisnya.
"itu nama dunia kelam mu?"
"Bisa jadi begitu, tapi setiap nama panggilan ada makna tersembunyi didalam tempat ini"
"misalnya?"
"Kau akan mati saat menyentuh mawar hitam jika mengenai duri tajam nya, dia beracun, bahkan lebih beracun dari Aconitum Taigicola (Wolf's Bane)"
Jawab Aurora kemudian.
"semua orang berfikir Aconitum Taigicola (Wolf's Bane) bunga yang tampak indah dan tidak berbahaya. Tapi mereka lupa, semua bagian tanaman ini beracun. Bahkan banyak yang tidak tahu jika orang-orangn di masa lalu meletakkan bunga ini di ujung panah dan sebagai umpan untuk membunuh serigala yang mengganggu hewan ternak. Karena itulah disebut sebagia Wolfsbane."
Lagi bola mata mereka berdua saling bertemu antara satu dengan yang lainnya, Dalmiro tanpa menyadarkan tubuhnya keatas kursi sopan dia duduk kita tersebut, dia menggeser bibir bawahnya secara perlahan dengan jemarinya, seulas senyuman licik tampil dibalik wajah tampan nya.
"kau tahu? Aku suka pada sesuatu yang menantang hingga mendatangkan kematian, jika belum mencoba nya aku akan mati penasaran"
Laki-laki tersebut menjawab dengan perlahan, mencoba menikmati wajah cantik dihadapan nya .
"kamu bisa berusaha untuk mencoba nya"
Jawab Aurora dengan sangat tenang, dia mencoba menyembunyikan kegelisahan nya saat laki-laki tersebut mulai berpikir membawa nya ke atas kasur peraduan.
Bukan karena dia takut jika Dalmiro tahu dia istri dari sang wakil presiden, bukan dia takut jika Dalmiro mengenali dirinya sebagai Aurora, tapi dia takut laki-laki tersebut benar-benar membawa nya ke atas kasur perpaduan nya.
Ada alasan khusus dia tidak bisa naik kesana bersama Dalmiro.
"Kau bicara seolah-olah kau seperti seorang perawan"
Ucap laki-laki tersebut lagi kemudian.
Aurora terlihat diam, dia mencoba untuk menatap tajam kearah laki-laki tersebut untuk beberapa waktu