King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 84 A & A



Mari membuat kesepakatan dan memberikan keuntungan, barisan Kalimat tersebut nya di luncurkan oleh Dalmiro cukup membuat Aurora terkejut dan orang-orang Aurora seketika langsung menghentikan gerakan mereka untuk masuk ke dalam ruangan itu.


"Aku cukup terkejut dengan apa yang kamu katakan saat ini, tuan" pada akhirnya Aurora menggantikan gerakan tubuhnya yang memberontak untuk dilepaskan oleh laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.


dia memilih untuk bicara sembari menata bola mata laki-laki yang ada di hadapannya tersebut untuk beberapa waktu, ingin tahu apa yang dimaksud oleh Dalmiro dan sebenarnya apa yang diinginkannya.


"aku tidak paham apa yang sebenarnya kamu katakan tadi, Aurora? kesepakatan? keuntungan? tidak bisakah kamu menjelaskan padaku satu persatu daripada maksud mu?" berbagai macam tanya kepada laki-laki tersebut pura-pura tidak paham dengan apa yang diucapkan oleh daun biro dan dia masih bersikeras tidak ingin mengatakan jika dia adalah Aurora sang istri wakil presiden.


mendengar ucapan gadis yang ada di hadapannya tersebut seketika membuat Dalmiro mendengar suara dia kemudian berkata.


"kau pikir aku tidak tahu kau melakukan kesepakatan pernikahan dengan laki-laki tersebut untuk sebuah keuntungan? kau pikir aku tidak tahu siapa istri laki-laki tersebut di masa lalu? aku sangat tahu sekali terhadap orang-orang yang ada di sekitarku" laki-laki tersebut bicara kemudian dia membiarkan bola matanya menatap gadis yang ada di bawah kukungannya tersebut.


Dalmiro sama sekali tidak mau melepaskan genggaman tangannya pada kedua belah tangan Aurora, seolah-olah laki-laki tersebut sengaja untuk menekan dan menahan tubuh gadis tersebut agar tidak lepas dari cengkramannya.


"aku menyelidiki banyak orang di sekitarku untuk tahu soal masa lalunya, dan kau menikah dengan wakil presiden atas sebuah keuntungan yang kalian buat bersama putri Monac" lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian.


Dan mendengar apa yang diucapkan oleh Dalmiro, seketika membuat Aurora membulatkan bola matanya dengan cepat.


"Kau pikir aku juga tidak tahu? kau adalah kakak perempuan Adeline, putri pertama Monac, raja pendahulu yang di bantai habis-habisan oleh Alima ibu tiri Adelrick" lanjut laki-laki tersebut lagi kemudian sembari membiarkan tatapannya tidak lepas dari gadis yang ada di hadapannya tersebut.


Aurora seketika menegang mendengar ucapan dari Dalmiro, dia jelas kehilangan kata-katanya untuk waktu yang cukup lama.


*******


Mak bantu mampir ke tempat teman ku makkkk siapa tahu suka genre ini😇. Masih baru MAKKK mohon bantu dukungan dia ya MAKKK❤️🙏🏻.



"Sudah Mas , sudah." Ucap Debby pada suaminya.


Lantas apa kabar dengan hatiku?


Apa yang aku dengar pagi ini benar- benar membuat dadaku semakin sesak dan sakit, semua daya dan upaya yang aku lakukan nyatanya tidak berbuah dengan manis. Ditambah lagi pesaingku bukanlah orang sembarangan, dia putra bungsu dari pengusaha sukses Pak Atmajaya, walau aku belum pernah melihatnya namun dari yang ku dengar selama ini, dia sangat di pertimbangkan oleh Atmajaya dan jelas lebih berpengaruh dari kami. Terjawab sudah pertanyaanku selama ini, kenapa dia begitu mudah lepas dari penangkapan yang sudah aku rencanakan dulu, dan ternyata inilah jawabannya, kenapa aku baru menyadarinya.


Dering ponsel pun berbunyi, ku lihat Dokter itu merogoh ponsel dari sakunya.


"Apa tidak bisa menyelesaikannya sendiri? Atau cari dulu dokter Firman!" Katanya pada seseorang yang ada di seberang telepon, sepertinya sedang ada masalah.


"Ya, saya kesana." Tutupnya.


"Ayo sayang kita pulang, semua sudah disampaikan juga kan!"


"Tunggu, biarlah Debby di sini sebentar, saya masih mau membahas sesuatu." Sela Linda.


"Maaf, saya tidak mengijinkan." Tolaknya.


"Debby bagaikan Adik untuk saya, banyak sekali yang harus saya sampaikan setelah begitu banyak yang terjadi diantara kami."


Debby terlihat menatap suaminya, tatapan yang mengisyaratkan begitu penuh permohonan, Membuatku merasa semakin tak karuan, bahkan Debby tak pernah merasa senyaman itu denganku apa lagi memohon padaku saat kita bersama dulu, kecuali saat aku menjatuhkan talak padanya malam itu, dia terlihat begitu hancur dan memohon belas kasihan padaku, tapi aku? Aku justru tak mengindahkan itu, betapa bod*hnya diriku saat itu.


"Saya kasih waktu 15 menit ya Debby, 15 menit akan ada yang jemput kamu kesini kalau kamu masih juga belum keluar dari ruangan ini. Dan satu lagi, kalau karena masalah ini penyakit Pak Doni itu semakin parah, kamu panggil dokter, jangan kamu sendiri yang tangani! Ngerti?" Pesannya Pada Debby begitu jelas dan lugas, bahkan terkesan tak mau dibantah. Debby pun demikian begitu mudah menganggukkan kepalanya tak membantah sedikitpun walau hanya diberi waktu 15 menit olehnya


"Ya sudah saya pergi dulu." Di ulurkannya tangan dokter itu dan Debby meraihnya lalu mengecup punggung tanganya, hal yang dulu pernah juga dilakukannya padaku. Satu yang tak pernah ku lakukan, aku tak pernah mengecup keningnya seperti apa yang dilakukan oleh dokter itu barusan. Sungguh penyesalan begitu dalam terasa saat ini.


Airmatapun mengalir tanpa ku sadari, dan semakin deras setelah pria itu meninggalkan ruangan ku.


"Mas, jika kamu seperti ini, rasa bersalahku pun akan semakin besar. Kamu boleh menghukum ku, atau menceraikan aku kalau kamu mau.