
Secara perlahan Enardo meletakkan tubuh Anta ke atas kasur mereka, membenahi bantal kepala gadis itu secara perlahan lantas meletakkan selimut di tubuh Anta agar sang istri merasa nyaman dengan tidurnya.
Sejenak Enardo duduk disamping Anta, dia terlihat mengulum senyumannya saat melihat wajah Anta yang cukup terlelap dalam tidur nya, secara perlahan membenahi rambut anta yang menutupi wajahnya.
"Maafkan aku perihal di masa lalu"
Bisik Enardo pelan kemudian secara perlahan laki-laki itu mencium lembut bibir Anta.
Seketika Anta terkejut saat dia merasa ada seseorang yang menyentuh bibirnya, gadis itu langsung membuka bola matanya secara spontan, dan dia jelas kaget saat tahu siapa yang mencium nya.
Alih-alih ikut terkejut karena Anta terbangun, Enardo malah bersikap begitu biasa, tersenyum begitu hangat sambil menyentuh lembut wajah Anta.
"Tidurlah lagi, kamu baru mendapatkan sedikit jam istirahat hmm"
Ucap laki-laki itu sambil terus mengelus wajah Anta.
Anta tampak mengedipkan bola matanya beberapa kali, menatap Enardo dengan jutaan pandangan, jantung nya jelas berdetak begitu kencang, suasana kamar yang dingin karena AC tiba-tiba membuat tubuh Anta menjadi panas seketika, apa dia terbuai dengan kelembutan Enardo?
Iya.
Tapi sepersekian detik kemudian Anta mencoba menekan kesadaran nya.
"Kenapa belakangan begitu lembut dan hangat padaku? ini memang diri mu? atau kamu sedang memberikan aku harapan palsu? lagi... lagi.. dan lagi?"
Pada akhirnya pertanyaan yang telah lama ingin Anta ucapkan keluar juga dari bibirnya.
Enardo tampak mengerutkan keningnya.
"Sikap kamu belakangan membuat aku menyimpulkan terlalu banyak hal, Enardo dan itu cukup membuat diriku takut, kamu menjadi berubah begitu banyak, begitu hangat dan membuat aku berdebar-debar untuk semua hal yang kamu ciptakan, realita nya gadis seperti aku takut nya akan menyalah artikan sikap kamu sebagai pemberi harapan palsu mengingat bagaimana kamu pernah membohongi aku soal perasaan kamu di masa lalu"
Enardo tampak diam, menelusuri seluruh lekuk wajah Anta sambil berusaha terus memperhati kan ucapan Anta.
"Dulu juga sama Kehadiran sikap-sikap yang kamu berikan memang biasanya mengindikasi kan minat, tapi sering kali Akulah yang membayangkan masa depan yang terlalu jauh. Akibatnya, aku sendiri yang menghadirkan, menanam, dan menyiram harapan itu di dalam hati sendiri"
"Aku takut berdelusi ada cinta dalam fase yang kamu lakukan, sehingga membuat aku melibatkan perasaan dan harapan yang terlalu prematur. lalu seperti dulu tiba-tiba kamu berhenti melakukan sikap-sikap seperti itu begitu saja, melepaskan genggaman tangan ku hingga akhirnya aku merasa dicurangi, dibohongi, dimanipulasi"
"Realita nya hanya karena kamu memberikan begitu banyak perhatian aku takut salah mengartikan padahal realita nya sikap kamu bukan berarti kamu mencintai aku bukan? kamu hanya merasa berhutang dan terbebani dengan pernikahan ini bukan? itu berarti Kita ber dua kelak tidak harus jadi sepasang kekasih atau suami istri yang sebenarnya kan?"
Seketika bola mata Anta tampak berkaca-kaca.
Seketika air mata Anta tumpah.
Enardo masih diam, mencoba mendengar kan kegelisahan hati dan keluh kesah Anta yang disimpan gadis itu selama ini.
"Jangan lakukan ini lagi, sebab jika tidak aku benar-benar akan hancur dengan perasaan ku sendiri"
"Berhenti melakukan hal seperti ini, Enardo. jangan buat Aku kembali hancur seperti dimasa kemarin"
Setelah berkata begitu, Anta berusaha membuang pandangannya, dia berusaha untuk menggeser wajah nya dari hadapan Enardo.
Tapi laki-laki itu tiba-tiba meraih kedua pipinya.
"Bukankah sudah aku katakan kemarin? perihal dulu sebuah kesalahpahaman yang Daddy mu ciptakan, sejak awal aku hanya mencintai kamu, tapi ada hal yang tidak bisa aku jelaskan dengan rinci kenapa aku terpaksa melepas kan genggaman ku kemarin"
"Ini bukan sikap karena rasa bersalah atau hutang Budi, tapi ini benar-benar ada dari dalam hati ku hmm"
Enardo bicara lantas meraih tangan kanan Anta, membiarkan gadis itu mendengar kan detak jantung nya.
Anta menatap dalam bola mata Enardo, menelisik mata itu dan ingin tahu bohong lagi kah laki-laki itu pada nya.
"Ini bukan khayalan atau delusi kamu, tapi ini realita, perasaan ku yang aku persembahkan untuk kamu hmm, sekali ini aku bersumpah tidak akan melepaskan genggaman ku pada mu, meskipun maut memisahkan pun, aku akan tetap menggenggam tangan mu hmm"
"Mari memulai semua dari awal, lupakan yang kemarin dan cukup menatap ke depan untuk menata masa depan bersama hmm"
Enardo mengelus lembut wajah Anta,lantas dengan gerakan lembut menghapus sisa air mata Anta di pipi kiri kanan gadis itu.
"Apa harus aku ucapkan jutaan kata I love dihadapan semua orang? atau kamu mau aku mengumumkan pada dunia betapa aku mencintai kamu Anta? hingga kamu percaya jika aku benar-benar mencintai kamu?"
Gadis itu diam, lantas menggelengkan kepalanya secara perlahan.
"Kamu tidak sedang membohongi aku?"
"No ."
Jawab Enardo Cepat dengan nada mantap.
Anta terus menelisik wajah dihadapan nya itu untuk waktu cukup lama, hingga tiba-tiba secara perlahan Enardo mendekati wajahnya ke wajah Anta dan mulai menautkan kedua bibir mereka untuk waktu yang cukup lama.