
Zaffa tampak diam mematung menatap Edgard yang tengah duduk tepat dihadapan nya itu, perempuan itu mencoba menelisik seluruh tubuh dan wajah Edgard sejak tadi, mencoba benar-benar memastikan jika di tidak salah melihat orang.
"Aku fikir mungkin aku sudah gila"
ucap Zaffa dengan suara pelan dan kacau, dia berusaha untuk beranjak dari hadapan Edgard.
Dia pikir pasti ada yang salah dengan dirinya, jangan-jangan stress karena beberapa hal memperngaruhi keadaan nya belakangan ini, dan Zaffa fikir dia pasti lagi-lagi sedang berhalusinasi seperti dimasa lalu.
"Pasti sesuatu yang salah terjadi padaku, aku butuh dokter untuk berkonsultasi"
Zaffa bicara sambil menyentuh keningnya dia terus menyakini diri dengan pandangan nya, Zaffa jelas merasa sedikit bingung masih berpikir lantas mencoba memijat-mijat kepalanya untuk beberapa waktu kemudian perempuan itu berusaha untuk menjauhi Edgard, dia mencoba untuk membuka pintu depan ruang VIP dimana dia dirawat di rumah sakit tersebut.
"tidak Zaffa kamu tidak sedang berhalusinasi ini adalah aku, Edgard"
laki-laki itu mencoba untuk menyakini Zaffa.
Dia sejenak mengerutkan keningnya
"aku pasti sudah gila"
Ucap Zaffa pelan.
Dia masih tidak mempercayai pandangan nya, dia jelas terlihat begitu frustasi, tapi Secepat kilat Edgard menarik tangan nya dan meminta Lea untuk menyentuh wajah nya.
"Ini aku, kamu bisa menyentuh wajah ku untuk memastikan nya hmm"
Edgard bicara sambil menatap dalam bola mata Zaffa, mencoba menyakini perempuan itu jika dirinya benar-benar nyata.
Seketika Zaffa terdiam, dengan gerakan ragu-ragu dia mencoba menyentuh wajah itu, menelisik nya dan mencoba merasakan nya.
Secara perlahan bola mata Zaffa berkaca-kaca hingga Sepersekian detik kemudian tangisan nya pecah.
Itu Edgard nya, yah itu benar-benar Edgard nya.
"Edgard.... ufuk senja ku?"
Zaffa langsung menjatuhkan dirinya ke lantai, dan Edgard secepat kilat menyambar tubuh Zaffa, perempuan itu menangis tanpa bisa berhenti, menggenggam erat lengan laki-laki itu sambil terus menangis terisak.
Seolah-olah kenangan lama kembali menerjang diri nya.
Edgard berusaha meraih tubuh Zaffa, laki-laki itu hanya bisa memeluk nya tanpa tahu harus berkata apa.
Zaffa terus menangis dalam keadaan sedangkan Edgard hanya berusaha untuk mencoba menciptakan sebuah ketenangan.
Hingga akhirnya Mereka sama-sama larut dalam puncak kesedihan dengan cara mereka masing-masing di atas dingin nya lantai rumah sakit dan berisik nya orang-orang yang terus lalu lalang.
*******
"Aku tidak punya banyak kenangan soal masa lalu kita"
Ucap Edgard kemudian, memecah keheningan yang begitu lama terjadi di antara mereka.
"Lebih tepatnya seluruh isi kepalaku diubah, bahkan seluruh memori yang aku miliki soal kemarin dihilangkan"
tambah Edgard lagi sambil menoleh ke arah Zaffa, perempuan itu nampak menatap lurus kedepan dia masih belum berani menatap Edgar, karena takut mungkin dia salah orang.
buru-buru zafa menoleh kearah Edgard.
"Aku tidak tahu apa yang telah Daddy dilakukan padamu"
perempuan itu berkata dengan bola mata berkaca-kaca menatap Edgar begitu dalam dengan jutaan rasa bersalah, rasa marah, kesal, benci bercampur aduk menjadi satu dia tidak menyangka Daddy nya akan bertindak diluar pemikirannya.
Tiba-tiba Edgar meraih tangan Zaffa secara perlahan.
"Mari kita mulai membuka kenangan lama untuk membuat ku teringat apa yang terjadi kemarin"
ucap laki-laki itu sambil menatap dalam bola mata zaffa.
"Aku sarankan agar kamu tidak menoleh ke belakang lagi sebab sejatinya semua telah berlalu, ketika kita ingin mengingat yang tersisa, yang ada hanyalah rasa sakit dan sisa tangisan ya mungkin akan pecah"
ucap Zaffa tiba-tiba.
"Lalu apa yang harus aku lakukan untuk bisa mengingat tentang kita lagi?"
Edgard bertanya sambil menaikkan sebelah alisnya.
"Mari membuka lembaran baru melupakan rasa pedih masa lalu"
Ucap Zaffa sambil berusaha mengembangkan senyumannya.
Edgard tampak balik tersenyum.
"lebarkan senyumanmu aku suka melihatmu tersenyum begitu lebar dan seperti tanpa beban"
laki-laki itu berkata sambil kembali menatap dalam bola mata Zaffa.
Zaffa mencoba lebih melebarkan senyumannya.
"Mari mencoba semua nya dari awal bersama"
Edgar bicara sambil mengulurkan tangannya dia menunggu Zaffa menyambut uluran tangannya dan balik menggenggamnya dengan erat.