King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Bab 47 A & A



Kembali ke mansion utama Adalrich


Kamar tidur utama Adalrich


Adeline masih menegang di dalam kamar nya ketika dia mendengar pintu mulai di buka, perempuan tersebut pikir apa mungkin ini akan jadi hari akhir nya?!.


dia tidak berharap ini akan menjadi hari akhirnya ketika seseorang dari luar sana masuk ke kamarnya, namun dia jelas sudah tidak bisa lagi bergerak saat ini baik ke kiri, ke kanan, ke depan atau ke belakang.


Manik bola mata Adeline menatap gusar ke arah kotak emas yang ada ditangan nya, kegelisahan yang jelas menerkam dirinya, ini adalah kali pertama dia seperti orang bingung harus bergerak kemana.


Tiba-tiba dia merasa seolah-olah kamar ini menjadi begitu sempit dan terasa sangat dalam, dia tampak mulai pasrah dengan keadaan, Adeline mencoba untuk memejamkan bola matanya sembari menggenggam kotak emas yang ada di tangannya.


Namun tiba-tiba saja bisa jadi nggak suara seseorang dari luar sana.


"Ibu, apa yang ibu lakukan di sini?"


suara seorang gadis terdengar dari luar sana, dia tidak tahu berapa usia sang pemilik suara tapi cukup mengejutkannya ketika seorang itu berkata 'Ibu'.


Siapa?!.


itu yang ada di dalam pikiran Adeline saat ini.


"kau kenapa ada di sini?"


dan kini dia bisa mendengar suara ibu Adalrick yang menyahuti ucapan dari suara gadis di depan sana.


"Apa ibu akan masuk ke kamar kakak ipar? aku pikir jika kakak melihatnya dia pasti tidak suka, kak Adalrich akan berpikir jika ibu kembali akan merencanakan sesuatu untuk membuat kakak ipar celaka seperti malam tempo hari"


"Apa? kau...?"


Adeline jelas mengerutkan keningnya dia pikiran siapa sebenarnya yang bicara di depan sana, namun alih-alih terlalu mempedulikannya, dia jelas lebih baik buru-buru untuk menata kembali hiasan dinding yang ada di hadapannya tersebut dan menyembunyikan kotak emas yang ada di tangannya kemudian langsung naik ke atas kasurnya dengan cepat.


ini adalah kesempatannya untuk tidak kepergok oleh orang lain jika dia mencoba untuk mencari tahu dan menyembunyikan sesuatu.


tanpa berpikir dua tiga kali pada akhirnya gadis tersebut langsung melakukan apa yang dia harus lakukan saat ini.


di tengah obrolan yang terjadi di depan sana Adeline langsung bergerak dengan cepat tanpa membuang waktu, seiring dia menyelesaikan apa yang harus dia selesaikan samar-samar dia mendengar suara di depan sana mulai menghilang dan menjauh.


meskipun seperti itu ketika dia naik ke atas kasurnya 1000 pertanyaan menghantam kepalanya, suara siapa yang ada di depan tadi yang memanggil nyonya Alima dengan sebutan ibu?.


sepertinya Adalrich dan seluruh keluarga dari Ben Petra belum ada dan belum pernah bercerita kepadanya soal Putri yang lainnya dimiliki oleh nyonya Alima.


di tengah pertanyaan yang berkacamuk menjadi satu di atas kepalanya, Adeline secepat kilat naik ke atas kasurnya, dia buru-buru langsung menarik selimut kemudian memperbaiki posisi tidurnya, setelah itu gadis tersebut pura-pura langsung memejamkan bola matanya.


Come Adeline, ada jutaan teka-teki yang ada di hadapanmu saat ini, kau harus menyambung benang kosong dan juga benang merah ya sama sekali belum kamu pahami ke mana arahnya nya saat ini.


diantara detik jarum jam yang terus berbunyi di kamarnya, pikiran Adeline kala ini berkacamuk mau menjadi satu, dia mencoba meletakkan satu punggung tangan kanannya ke kening dan berusaha untuk mencoba mengingat-ingat soal sesuatu.


tidak bisakah kau sedikit saja mengingat soal masa lalu Adeline?!.


dia mencoba bergumam di dalam hatinya, mau belajar pakai paksa matanya sembari mencoba meninggal soal masa lalu.


Sedikit saja.


batin nya lagi.


namun sekeras apapun dia merasakan diri untuk mengingat masa lalu realitanya Adeline sama sekali tidak memiliki sedikitpun memori untuk dia bisa kembali ke masa kemarin.


pada akhirnya gadis tersebut benar-benar memilih untuk memejamkan bola matanya, dia pikir dia butuh istirahat untuk menetralisir semua keadaan saat ini.


ciuman Adalrich, suara gadis yang memanggil nyonya Alima ibu dan kotak emas berisi surat kelahiran juga surat peringatan dari seseorang yang dia tidak ketahui siapa serta identitas peringatan atas inisial Mr D.


****


(ISTRI BERHARGA JENDERAL BESAR)


****


masih di kamar utama


Pagi


di tengah suara-suara burung yang terdengar samar-samar dari arah luar kamar, di mana matahari pagi secara perlahan mulai menyerang masuk melalui jendela yang ada di sisi samping tempat peraduan tidurnya dan mengenai wajah nya, seketika membuat Adeline langsung berusaha untuk menggerakkan tubuhnya dan mencoba untuk membuka bola matanya secara perlahan.


dia dengan enggan mencoba untuk membuka bola matanya sembari menggeliat kan tubuhnya dengan cara yang begitu indah, dia menaikkan kedua tangannya dengan sengaja dan tanpa sadar membuat penutup perutnya terbuka secara sempurna, menampilkan pusar putih dan perut putihnya yang membuat laki-laki manapun tergoda melihatnya.


Adeline kini menatap ke sisi kanannya untuk beberapa waktu, entah apakah dia masih bermimpi atau sebenarnya telah sadar dari tidur panjang yang saat ini.


samar-samar dia melihat sosok seseorang ia tengah duduk di sebuah kursi sofa di ujung sana, menatap dirinya dengan tatapan yang begitu tajam dan penuh dengan tatapan yang tidak begitu dia pahami.


awalnya Adeline pikir itu mungkin penglihatan yang salah, dia mencoba mengembangkan senyumannya sembari kembali memejamkan bola matanya, dia pikir bolehkah dia kembali terlelap sejenak?!.


karena dia tidur sedikit lamban semalam, jadi matanya seolah-olah terasa masih mengantuk.


dia memejamkan bola matanya sambil kembali mencoba menggeliat dan membalikkan tubuhnya di posisi ke kanan, serta meraih sebuah bantal guling agar bisa menyamankan posisi tidurnya kembali.


namun tiba-tiba sepersekian detik kemudian seolah-olah sesuatu menyadarkan dirinya.


What?!


Adeline langsung membuka bola matanya dengan cepat, dia pikir apa yang dia lihat di hadapannya tadi bukan imajinasi atau khayalannya atau bahkan dia dalam keadaan salah melihat.


seketika dia mencoba memperbaiki pandangannya dan kini wajah Adeline menegang karena terkejut.


Oh god.


Perempuan tersebut seketika langsung terbangun dengan sempurna dari tidurnya dia langsung duduk secara refleks hingga membuat kepalanya pening dan menarik selimut dengan cepat untuk menutupi seluruh anggota tubuhnya.


itu adalah sosok Adalrick.


Kauuu?!.


"Selamat pagi, nyonya Adalrich Ben Petra"


laki-laki di hadapannya tersebut bicara sembari bangun dari tempat duduknya, dia berjalan dengan perlahan menuju ke arah Adeline dengan tatapan bola mata yang begitu dalam dan hangat, namun sama sekali tidak menampilkan senyuman di balik bibirnya.


nyonya Adalrich Ben Petra.


kalimat yang diucapkan oleh laki-laki tersebut di pagi hari seketika membuat telinga Adeline dan kedua belah pipinya memerah dalam keadaan tidak jelas.


namun dia juga sedikit marah karena ingat laki-laki itu melihatnya dalam posisi belum belum tersadar dari tidurnya.


"Aku harap tidurmu malam ini nyenyak"


begitu Adalrich tiba di hadapannya, laki-laki itu menjagokan sedikit tubuhnya kemudian mencium puncak kepalanya dengan cara yang begitu hangat hingga membuat Adeline langsung mendongakkan kepalanya dengan perasaan terkejut.


alih-alih peduli dengan keterkejutan Adeline laki-laki itu kemudian berkata.


"bersiaplah kita akan pergi ke Hamburg pagi ini"


ucapnya sembari menyentuh hangat pipi Adeline.


"Ya?!


hal tersebut jelas membuat perempuan itu langsung terkejut setengah mati.


kemana? Hamburg?.