
Kembali ke masa lalu
Pertemuan pertama
Beberapa tahun yang lalu
Jika aku bisa mengulang waktu, aku berharap tidak pernah ada pertemuan hari ini diantara kita.
Suara tangisan berasal dari seorang gadis
muda yang duduk seorang diri dekat
sebuah tumpukan karung-karung berwarna coklat yang entah isi nya apa di bagian ujung barak dingin ditengah malam Cukup membuat sosok gadis dengan wajah bercoret kan lumpur disisi kanan barak mengerutkan keningnya.
Dia tahu suara tangisan itu berasal dari seorang gadis lain seusia dirinya, menangis menjadi pilihan terakhir setelah berdoa kepada Tuhan namun terasa sudah lelah untuk di lakukan dan gagal.
Dua lutut gadis tersebut di tertekuk menyanggah dagunya seiring
isak tangis yang terdengar cukup mengganggu pendengaran.
Didepan nya terlihat sosok seorang perempuan yang mencoba untuk menenangkan gadis tersebut, samar-samar terdengar nasehat dari bibir perempuan berusia sekitar 30 tahunan itu agar sang gadis muda tidak mengeluarkan suara tangisannya.
Sebab terlalu banyak mengeluarkan tangisan nya itu akan berakibat fatal untuk semua orang disini.
Gadis itu memperhatikan semua adegan itu sedari tadi, membiarkan keadaan yang membuat dia tidak tertarik dan membuang mukanya.
Di beberapa sudut bisa dia lihat banyak gadis dan perempuan yang hanya bisa memilih diam dan tidak mengeluarkan suaranya, sebab di luar tempat barak Tersebut yang persis seperti penjara tengah berjaga beberapa laki-laki seram berpakaian serdadu dan preman.
Dia tahu hari ini akan menjadi hari kematian semua orang, bahkan termasuk dirinya jadi dia pikir untuk apa dia menangisi keadaan.
Mereka sejak awal telah dididik untuk menjadi tidak takut mati, menjadi mata-mata pemerintah yang ditugaskan masuk ke area zona merah, berkutat dengan kehidupan berat bertemu para musuh dan jenderal yang kejam dan masuk untuk mencari mati jelas adalah pilihan mereka sejak awal.
Jika tidak ketahuan, tidak tertangkap jelas merupakan satu keberuntungan, jika tertangkap maka bisa dipastikan cepat atau lambat mereka akan mati dengan cara yang mengenaskan.
Sebenarnya dia tidak mengerti Kenapa gadis tersebut harus menangisi keadaan, sebab saja awal gadis tersebut sudah tahu risiko menjadi seorang mata-mata yang masuk ke arah barak musuh dan lawan.
Dia pikir gadis itu malah memilih untuk menangis di ujung sana, ketimbang bergabung dengan yang lainnya
di ranjang kayu dua tingkat tanpa
alas untuk berbicara soal kapan waktu kematian mereka.
Gadis itu terus memandangi si gadis diujung sana dengan saksama, dia merasa cukup iba dan kasihan mendengar tangisan nya namun selebihnya dia membuang rasa kasihan nya, Sebab dia pikir tidak ada guna sebuah tangisan dan penyesalan karena mereka sudah ditakdirkan hidup seperti itu sejak awal.
Ditambah lagi siapa yang tahu bagaimana cara untuk menghentikan tangisan tidak berguna tersebut.
Kurang lebih setengah jam telah berlalu,
dengan adegan sama di ujung sana tanpa henti, gadis itu akhirnya memutuskan mengalihkan pandangan mata nya, dia menatap kearah sisi kirinya dimana terdapat sebuah ruangan kosong Sejak tadi yang tidak berpenghuni
kini bola mata gadis itu mendongak ke atas, bisa dia lihat atap diatas nya ada yang sedikit terbuka, bentangan langit malam luas yang bertaburan jutaan bintang kini terlihat begitu jelas dibalik bola mata indah gadis tersebut, meskipun wajah gadis itu ditutup Coreta lumpur, laki-laki dengan mata jeli akan tahu betapa cantiknya rupa di balik wajah kotor tersebut.
Di beberapa tim mereka, gadis tersebut menjadi gadis pilihan yang dipuja oleh banyak laki-laki.
Dalam bentangan waktu malam yang dihujani jutaan bintang terlihat rembulan terus bergerak mengikuti arah waktu, bola mata Gadis tersebut terus bergerak mengikuti barah bulan.
Dia pikir dia telah menghabiskan
waktu diposisi duduknya saat ini di atas ranjang susun bagian paling bawah selama beberapa malam.
Sejenak bisa dia lihat rembulan tertutup awan untuk beberapa waktu, kemudian tiba-tiba bulan tersebut muncul kembali secara perlahan.
Gadis itu mengehela pelan nafas nya, dan dia memilih tidak terlelap meskipun sebenarnya bola matanya sudah sangat berat dan berteriak-teriak meminta terlelap sejak malam kemarin.
Secara perlahan gadis itu beringsut dari posisi nya, memilih duduk sejenak dan meraih sebuah piring kaleng yang diisi dengan roti dan segelas minuman air putih yang dia tidak paham apakah higienis atau tidak.
Dia pikir memangnya ada makanan sehat dan baik di barak pengungsian atau penjara bawah tanah dari musuh yang Telah menangkap mereka?.
Jawaban nya tentu saja tidak ada.
Jadi jangan terlalu banyak berharap yang tidak masuk akal saat ini.
Gadis itu seketika menyambar roti bulat dihadapan nya itu, mulai memakannya secara perlahan sedikit demi sedikit, dia pikir makanan itu akan menjadi makanan pengganjal perut jelang kematian nya besok.
Mereka bilang saat pimpinan jenderal datang, itu adalah waktunya para mata-mata musuh akan dihabisi.
Sebenarnya perutnya terasa cukup mual untuk menyantap roti tersebut, karena aroma pengap dan bau karat serta aroma tanah lembab di sekitaran ruangan tersebut cukup membuat dia ingin memuntahkan isi perutnya.
Namun dia tidak bisa untuk menikmati rasa mual dan memanjakan perutnya saat ini agar memuntahkan semua isi perut nya, Karena ketimbang kehilangan tenaga karena harus kehilangan seluruh isi perut nya, lebih baik dia mengisi perut nya hingga kenyang dengan roti yang ada ditangan nya tersebut.
Cukup lama dia mencoba menghabiskan roti di tangan nya tersebut hingga akhirnya tidak lagi tersisa sedikitpun remahan dari roti itu, kemudian gadis itu secara perlahan meraih cangkir kaleng berisi air putih yang ada di sisi kanan di mana dia duduk saat ini.
gadis itu secara perlahan menuangkan semua isinya ke mulutnya, dia tidak menyisakan sedikit pun air di dalam cangkir tersebut.
Membiarkan seluruh isinya tumpah ke tenggorakan nya tanpa sisa.
Sejenak gadis itu langsung menggeser Piring kaleng di hadapannya, dia membiarkan piring Tersebut berada di sudut dinding dimana dia berada saat ini.
Sejenak kening Tersebut berkerut ketika dia mendengar beberapa bisik-bisik di tengah barak Tersebut jika sebentar lagi jenderal bersifat kan Nazi kejam akan datang sebentar lagi.
Maka dengan Begitu bisa dia pastikan waktu Kematian mereka arti nya semakin menyempit.
Kemudian tiba-tiba keributan mulai terjadi, para serdadu dan orang-orang berpakaian hitam berjenis kelamin laki-laki tanpa perempuan dengan cepat masuk kedalam sana, dan memaksa para gadis dan perempuan disana Agar berdiri dan berkumpul menjadi satu saat ini juga.
Tidak sedikit kelakuan kasar pada laki-laki tersebut terlihat di balik bola mata gadis itu, meskipun dia awalnya heran kenapa pada laki-laki tidak berani menyentuh perempuan dari gadis di sana sebelumnya dalam beberapa hari mereka dikurung di tempat itu.
gadis itu baru sadar jika hari ini ada alasan khusus kenapa hal itu terjadi.
kabarnya Sang jenderal akan mencari satu gadis untuk dijadikan teman tidurnya di dalam kamar kematian nya.
dan dia tidak berharap dia akan menjadi salah satu gadis pilihan tersebut di antara puluhan gadis dan perempuan yang ada di sana.