
Keesokan harinya
Mansion utama Adalrich
Kamar utama Adalrich.
begitu Adeline membuka bola matanya, sang pelayan kepercayaan mereka telah berdiri tepat di samping dirinya, wanita tua itu menundukkan kepalanya sembari melebarkan senyumannya.
sejenak bola mata Adeline mencari salsa laki-laki yang belakangan selalu menghantui kehidupannya, ada satu ketakutan tersendiri setiap kali dia melihat sosok Adalrick.
dia tidak bisa mengungkapkan dengan kata-kata tentang perasaannya terhadap laki-laki tersebut, namun dia pikir ekspresi yang dia bangun untuk Adalrich membuat laki-laki itu paham untuk sedikit menjaga jarak terlebih dahulu kepada dirinya sehingga dia bisa membiasakan diri dengan kehadiran laki-laki tersebut yang kata nya adalah suami nya.
"Berikan aku sedikit waktu untuk bisa menerima semua keadaan yang sebenarnya cukup tidak masuk akal untuk diriku"
kemarin perempuan itu sempat berkata seperti itu kepada Adalrich.
tidak mengerti kenapa laki-laki tersebut sama sekali tidak menjawab ucapannya, namun dilihat dari respon yang diberikan oleh Adalrich, laki-laki tersebut seolah-olah berusaha untuk memenuhi setiap apa yang menjadi permintaannya.
Waktu!.
ya Adelin butuh waktu untuk mencerna semua keadaan bahkan menerima laki-laki itu menjadi suaminya, karena baginya menerima kehadiran Adalrich yang cukup bertentangan dengan kata hatinya jelas terasa begitu sulit dan rumit.
apalagi setiap kali dia menghadapi laki-laki tersebut seolah-olah jiwanya menolak dengan sangat tegas dan berkata laki-laki itu telah banyak menyakitinya.
"Mari pergi membersihkan diri dan kita akan bersiap-siap hari ini nona"
di tengah pemikiran Adeline sang pelayan berkata sembari terus melebarkan senyumannya.
mendengar ucapan wanita yang ada di samping nya tersebut seketika membuat perempuan itu mengerutkan keningnya.
"Bersiap-siap?"
Adeline bertanya tanpa berniat beranjak dari posisinya, kepalanya masih terasa pusing saat ini.
"Akan ada beberapa acara yang harus Nona dan Tuhan hadir dan juga ada yang ingin bertemu nona hari ini"
Jawab wanita itu sembari membantu Adeline yang mulai beranjak dari tempatnya dan perlahan berdiri dari sana.
Adeline terlihat diam,dia sama sekali tidak menjawab, membiarkan tubuhnya berdiri secara perlahan sembari dibantu oleh wanita tersebut.
perempuan itu bergerak menuju ke arah kamar mandi di mana rupanya air pemandian telah dipersiapkan sejak tadi untuk dirinya.
"Seseorang ingin bertemu dengan ku?'
Kali ini Adeline bertanya sembari melirik ke arah sang pelayan.
"Apa aku mengenal mereka?"
tanya perempuan tersebut kemudian.
"Aku khawatir tidak bisa mengenali satupun dari orang-orang yang ingin bertemu denganku dan itu akan cukup membuat malu semua orang"
Lanjut Adeline lagi.
mendengar ucapan orang mudanya pelayan tersebut tampak diam, dia membantu membuka pakaian Adeline satu persatu secara perlahan, kemudian memberikan sebuah handuk yang menutupi tubuh perempuan tersebut.
lantas sang pelayan tua itu mulai mau apa tangan ada yang agar masuk ke dalam sebuah bak mandi besar yang telah dibubuhi dengan berbagai macam aroma bunga serta sabun kesukaan perempuan tersebut di masa lalu.
setelah memastikan adonan bakso ke dalam bak mandi tersebut, wanita itu secara perlahan mulai melepaskan handuk yang digunakan Adeline tadi, membiarkan tubuh telanjang indah perempuan itu tenggelam bersama dengan air hangat dan bersih tersebut.
Jawab wanita itu kemudian lantas meletakkan Handuk basah tersebut ke sisi kiri nya.
"Saat ini Nona tidak perlu fokus dengan ingatan nona, Karena saat ini situasi masih belum benar-benar stabil, merpati emas telah mengirimkan pesan kepada semua orang jika nona akan baik-baik saja di bawah pengawasan mata merah"
Setelah berkata begitu wanita tersebut langsung menunduk kan kepalanya, dia membiarkan Adeline agar menyelesaikan sesi mandinya.
"Apa?"
Mendengar ucapan wanita tersebut seketika membuat Adeline langsung membulatkan bola matanya, dia ingin bertanya apa maksud dari ucapan wanita itu, namun belum sempat dia bertanya sang pelayan tua telah pergi menjauhi dirinya secara perlahan.
Adeline jelas mengerut kan keningnya.
******
Lantai bawah
Ruang utama
Beberapa waktu kemudian
ketika dua pelayan masih tetap sibuk membenahi pakaian Adalrich, dimana meskipun dia menghadiri acara pernikahan kerajaan laki-laki tersebut tetaplah menggunakan baju kebanggaan jenderalnya dalam acara tersebut.
tubuh kekar, besar tinggi dengan gaya tegang dan juga wajah yang menampilkan kesangaran yang begitu mendalam menambah kengerian serta kharismatik tersendiri bagi siapapun yang melihat laki-laki tersebut saat ini.
bohong jika para gadis dan perempuan tidak tertarik pada laki-laki matang tersebut, begitu status duda disandang oleh Adalrich meskipun tidak ada yang pernah tahu bagaimana rupa mantan istrinya di masa lalu yang dikabarkan meninggal, membuat para gadis dan perempuan berlomba-lomba untuk mendapatkan hatinya.
meskipun orang-orang tahu jika Ilse Kock sejauh ini tergila-gila pada laki-laki tersebut, mereka selalu berpikir jika salah satu dari mereka akan memiliki kesempatan besar karena Adalrich sejak awal tidak benar-benar tertarik pada perempuan tersebut.
laki-laki tersebut hanya menerima tawaran dari ibunya atas perjodohan yang disusun oleh wanita tersebut, namun hingga hari ini laki-laki itu sama sekali belum pernah benar-benar membuat lamaran kepada perempuan itu.
hingga belakangan beredar kabar jika Adalrich telah membatalkan acara pertunangan antara dirinya dan Ilse Kock.
namun dari tempat tinggal kediaman Ilse Kock juga menghembuskan kabar jika kabar angin yang beredar dari para mulut orang yang tidak bertanggung jawab tersebut sama sekali tidak benar.
Setelah dua pelayan itu selesai membenahi pakaian Adalrich, mereka langsung menundukkan kepala mereka, membiarkan Adalrich meraih senjata api milik Adalrich yang terletak di atas meja dan menunggu laki-laki tersebut merapikan letak senjata nya.
bisa mereka lihat Gerakan laki-laki tersebut yang meletakkan senjata nya tepat di sisi salah satu pinggang Adalrich, kemudian Laki-laki itu meraih sebuah belati kesayangan nya dan juga meletakkan belati tersebut ke pinggang nya.
Adalrich sama sekali tidak mengeluarkan suara nya sejak tadi, dia masih fokus dengan diri nya yang berada tepat dihadapan kaca besar di ruangan tengah tersebut.
Laki-laki tersebut sama sekali tidak ingin memilih para pelayan nya merapikan pakaian nya didalam kamar nya.
selain karena sang istrinya berada di kamar tersebut bersama pelayan kepercayaannya, laki-laki itu selalu bersikap waspada terhadap semua orang, karena bagi nya kamar akan menjadi akan menjadi tempat yang paling privasi untuk dirinya dan pasangan nya.
satu-satunya wanita yang diperbolehkan hilir munding masuk dan keluar dari kamarnya adalah sang pelayan kepercayaan nya yang sudah hampir seperti ibunya sendiri.
setelah memastikan penampilan Adalrich sudah terlihat begitu baik dan sempurna, kedua pelayan tersebut langsung menganggukkan kepalanya.
ada ring mengencangkan pakaiannya dengan kedua tangannya, dia memutar tubuhnya secara perlahan.
sejenak laki-laki tersebut menarik nafasnya untuk beberapa waktu kemudian tanpa sengaja bola matanya menetapkan ke arah atas tangga.
seketika laki-laki tersebut membeku saat dia melihat satu sosok perempuan dan seorang pelayan yang bergerak perlahan menuruni satu persatu anak tangga.
laki-laki tersebut tidak dapat melepaskan pandangannya dari Adeline yang saat ini bergerak perlahan menuruni anak tangga dan berjalan mendekati dirinya.