King Mafia And His Angel

King Mafia And His Angel
Mencari mati dengan bermain hati



Arash dengan cepat berdiri, dia menatap tajam bola mata Joyce Seolah-olah mencoba berkata pada perempuan itu untuk berhenti membahas soal semua itu saat ini.


Secepat kilat Arash meraih tangan Zehra, dia membawa Zehra untuk segera menjauh dari hadapan Joyce.


"Dengarkan aku, begini..."


Arash berusaha menetralisir perasaan nya, menyentuh pelan wajah Zehra sambil berusaha menatap dalam bola mata indah itu.


"Aku tidak bisa menjelaskan semuanya saat ini, tapi ingatlah pesan ku, jangan dengarkan siapapun dan jangan percaya ucapan siapapun"


Zehra tampak diam, mencoba mencari tahu ke arah mana perkataan Arash.


"Aku mohon berhentilah berfikir, aku akan bicara pada perempuan itu, ada hal yang harus aku bahas bersama nya, sebentar saja, tidak akan lama dan setelah itu kita pulang"


Arash terus bicara sambil memegangi wajah Zehra.


"Zehra, apa kamu mengerti?"


Pada akhirnya zehra hanya bisa mengangguk kan pelan kepala nya.


Arash secepat kilat menarik lengan Joyce agar segera turun dari sana.


"Arash?"


Joyce jelas menaikkan alisnya.


"Aku mohon, tidak sekarang"


Arash bicara sambil mencoba untuk menghubungi seseorang dari balik handphone nya.


"Kita membutuhkan nya saat ini, kondisi zaffa semakin memburuk"


Joyce berusaha untuk mengingat kan Arash soal kondisi zaffa saat ini.


"Aku perlu bicara dengan nya dalam waktu yang baik, menjelaskan semuanya secara perlahan"


"Tapi keadaan sudah cukup terdesak, Arash"


Ucap Joyce sambil menggenggam erat lengan Arash.


"Kita sudah tidak bisa menundanya lagi"


Joyce bicara sambil terus menatap bola mata laki-laki itu.


"Kita butuh persetujuan dari zehra sendiri untuk mendonorkan tulang sumsum nya, aku perlu bicara sebaik mungkin pada Zehra"


Mendengar ucapan Arash secepat kilat Joyce menatap dalam bola mata Arash.


"Ini bukan diri mu Arash, kami tidak bisa menunda-nunda lagi semuanya"


Arash tampak mengeratkan rahangnya.


"Aku bilang tidak sekarang"


"Apa kamu jatuh cinta pada nya?"


Alih-alih menjawab, Arash secepat kilat mencoba bicara dengan seseorang dari balik handphone nya.


"Sekarang juga, dalam 10 menit harus sudah tiba di titik lokasi"


Setelah berkata begitu, Arash langsung menutup panggilannya.


"Arash?"


Seketika Arash menatap tajam bola mata Joyce, laki-laki itu mendorong kasar tubuh Joyce ke arah dinding mobil.


"Aku bilang tidak sekarang"


Ucap Arash sambil mengeratkan giginya, rahangnya jelas mengeras dan bola matanya menampakkan ekspresi tidak suka.


"Kamu benar-benar Sudah jatuh cinta padanya"


Ucap Joyce cepat ke arah Arash.


"Ekspresi mu jelas berkata iya, kamu mengkhawatirkan dirinya, takut melukai dirinya, tidak ingin dia terlibat didalam semuanya, kamu menyembunyikan diri nya, bahkan tidak ingin aku membahas soal zaffa dihadapannya, kamu bahkan tidak bicara pada enardo soal Zehra sejak awal kamu menikahi nya"


Joyce bicara sambil mencoba menekan perasaan Arash.


"Kamu mungkin tidak menyadari nya, tapi ekspresi mu jelas berkata, dia milik mu dan jangan harap aku memberikan nya pada siapapun tanpa persetujuan dari ku"


Setelah berkata begitu, Joyce tampak mendengus.


"Ini bukan diri mu, Arash"


Mendengar ocehan Joyce yang panjang lebar dan terdengar begitu konyol baginya, Seketika Arash mendengus.


"Aku tidak jatuh cinta padanya, aku hanya bilang tunggu waktu hingga aku menjelaskan semuanya pada nya"


"Tapi Realita nya bola mata mu dan kemarahan mu tidak bisa membohongi aku, Arash"


Joyce mencoba menarik kasar nafasnya.


"Aku menunggu keputusan mu hingga besok, jika kamu masih tidak bicara dengan nya, aku akan bicara soal Zehra pada Enardo"


"Joyce"


Suara Arash tampak meninggi.


Joyce tampak terkekeh namun wajahnya jelas diliputi kemarahan.


"Kamu sedang mencari mati dengan bermain hati"


Setelah berkata begitu, Joyce langsung mendorong kasar tubuh Arash dan langsung melesat pergi dari hadapan laki-laki itu.


Arash sejenak membeku, dia jelas kehilangan kata-kata, dengan perasaan kesal laki-laki itu menggepal keras telapak tangannya.